Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
39. Istri Saya.


__ADS_3

"Apa yang kamu bilang, Mas? Aku nggak salah dengar? Sejak kapan kamu peduli sama orang tuaku?"


Tatapan mengidentifikasi dari Rindu membuat Jeff sedikit gelagapan. Ia sedikit memutar-mutar bola matanya untuk menghindari tatapan mata istrinya itu.


"Kamu terlalu egois untuk memikirkan perasaan mereka juga. Kamu nggak akan memikirkan orang lain kalau kamu tidak diuntungkan. Dengan ini kamu semakin menunjukkan kalau kamu itu benar-benar tega sama orang, Mas. Jahat banget kamu!"


Rindu memukul-mukul pundak pria itu dengan kedua tangannya, ia memberikan pukulan sekeras-kerasnya. Dengan suara isakan yang kembali terdengar wanita itu meminta suaminya untuk pergi dari kamar.


Jeff tidak menepis pukulan tersebut, tapi juga tidak mau menerima. Ia berusaha untuk menggenggam tangan Rindu yang bergerak dengan cepat. Beberapa saat melihat histeris Rindu dan juga menerima pukulan yang bertubi-tubi, akhirnya ia berhasil menggenggam tangan wanita itu.


"Kamu jahat, Mas. Kamu pergi dari sini aku nggak mau lihat kamu, pergi!"


Jeff melihat Rindu sangat hancur saat ini. Sebelumnya ia tidak pernah terpengaruh apa pun jika wanita itu mengeluarkan air mata. Tapi untuk detik ini, entah kenapa ia tidak bisa untuk bersikap biasa saja. Ada rasa dorongan untuk menenangkan istrinya itu, jangan tanyakan dorongan dari mana karena ia sendiri juga tidak tahu.


Jeff akui, setelah Rindu kecelakaan kecil saat ulang tahun perusahaan ayahnya memang ada sedikit perubahan di pola pikir, sikap, dan juga perilaku yang ia berikan pada istrinya. Ia sadar itu, tapi untuk alasan ia melakukan itu hingga kini ia belum mengetahuinya.


Merasa iba dan sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Rindu saat ini, Jeff berusaha untuk mendekap istrinya. Namun, wanita itu terus menyingkirkan tangannya dan membuat pergerakan seakan ia tidak mau disentuh olehnya.


"Jangan sentuh aku, aku nggak mau kamu sentuh."


"Aku janji setelah ini nggak akan sentuh kamu, tapi kamu tenang dulu. Dengerin aku dulu. Aku nggak akan menjelaskan apa pun, tapi tolong kamu tenang. Tenang sebentar saja, Rindu!"


Semakin Jeff banyak berucap, Rindu semakin mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghindari sentuhan suaminya sendiri. Jeff tidak mau kalah, ia juga mengerahkan segala tenaganya untuk mendekap istrinya itu agar sedikit lebih tenang.


Yang namanya tenaga laki-laki dan perempuan tetaplah berbeda, apa lagi Rindu saat ini sedang tidak enak badan. Sedang sehat saja ia tidak bisa melawan tenaga suaminya, apalagi saat sedang sakit seperti ini. Beberapa saat setelah berperang tangan dengan Rindu, akhirnya wanita itu berhasil dibawa Jeff ke dalam dekapannya. Di dalam dekapan suaminya itu pun, Rindu masih berusaha untuk melepaskan diri. Sekuat apa pun Rindu berusaha untuk melepaskan dirinya, semakin kuat juga usaha Jeff untuk memberikan pelukan pertama pada istrinya itu.

__ADS_1


"Aku bilang lepaskan aku! Sejak kapan kamu peduli sama aku?"


"Aku akan lepaskan jika kamu sudah tenang. Aku mohon tenanglah! Mulai sekarang, mulai sekarang aku akan peduli padamu."


Tidak ada yang tahu apakah Jeff sadar dengan ucapannya itu. Tidak ada yang tahu juga apakah ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tidak ada yang tahu juga bagaimana perasaannya terhadap istrinya. Apakah ini hanya sekedar pura-pura atau memang ia sudah mulai suka? Atau justru ini trik baru Jeff untuk mendapatkan simpati dari Rindu, lalu merebut kembali hati kedua orang tuanya? Sungguh semuanya akan terjawab di bab berikutnya.


"Kamu nggak peduli sama aku. Kamu melakukan ini pasti ada yang kamu tuju." Rindu nampaknya sudah lelah, ia tidak lagi berontak. Meskipun isakannya masih terdengar memilukan, wanita itu sudah tidak sanggup untuk membawa tenaganya untuk keluar dari dekapan suaminya.


"Maaf. Aku minta maaf, Rin."


Setelah Jeff mengucapkan kalimat itu tiba-tiba ia merasa Rindu tubuhnya lemas. Ia memiringkan wajahnya di depan wajah Rindu dan wanita itu ternyata sudah memejamkan matanya. Pria itu menepuk pelan pipi istrinya.


"Rindu, Rin, kamu tidur?" Jeff merasa tubuh Rindu semakin panas.


Jeff segera membawa wanita itu keluar kamar. Dengan wajah panik dan setengah berlari, ia menuruni anak tangga. Saat baru menapakkan kaki di lantai bawah, di saat itu juga ketiga anggota keluarga yang lai keluar dari ruang keluarga. Jeff berhenti sejenak karena ia melihat ibunya yang diapit oleh ayah dan adiknya. Wanita yang melahirkannya itu nampak pucat.


"Rindu kenapa?"


Pertanyaan dari Pak Jo membuat Jeff teringat istrinya.


"Aku mau bawa ke rumah sakit, Rindu badannya panas banget, Pa." Jeff lanjut berlari setelah itu.


"Pa, Rindu itu pingsan, ayo kita ikut ke rumah sakit."


"Kita semua besok akan ke sana. Lebih baik kita istirahat dulu. Jeff suaminya Rindu. Biarkan dia yang bertanggung jawab untuk istrinya. Kita akan ke sana besok pagi-pagi banget, ya. Mama juga baru aja sadar, jangan maksa diri. Nanti akan sakit semua. Jeon, kamu tidur di sini aja. Harus tidur! Papa nggak mau dengar kamu ke rumah sakit malam ini."

__ADS_1


Jeon hanya mengangguk pasrah. Meskipun sebenarnya ia mengkhawatirkan keadaan Rindu dan ingin berada di sana, untuk saat ini ia harus menurunkan egonya demi ketenangan bersama.


***


"Pasien mengalami dehidrasi, Pak. Sebaiknya untuk saat ini pasien dirawat di sini dulu untuk beberapa hari sampai keadaannya membaik."


"Iya, Dok. Lakukan apa pun untuk istri saya."


Istri?


Tak mau ambil pusing dengan ucapannya, pria itu pun masuk dan duduk di dekat ranjang Rindu. Wanita itu nampak lelah, hal itu sangat terlihat jelas di guratan wajahnya yang sedang terlelap.


Tangannya tergerak untuk mengelus puncak kepala wanita itu, namun dering di ponselnya membuatnya urung dan mengalihkan perhatian pada benda kecil itu. Ia melipir ke pojok ruangan untuk menerima panggilan dari istri keduanya.


"Kita baru aja ketemu tadi pagi. Kita seharian bersama, Rat. Sekarang karena ulahmu, Rindu jadi masuk rumah sakit."


"Kok kamu jari nyalahin aku, sih?"


"Terus aku nyalahin siapa kalau nggak nyalahin kamu? Karena ulah kamu ini semuanya tuh berantakan tahu nggak? Mama sama Papa jadi tahu, Jeon jadi tahu. Aku diusir dari rumah, puas kamu sekarang?"


"Kamu kenapa, sih, Jeff? Aku yakin kamu udah adah rasa sama istri sialan mu itu. Aku hamil anak kamu Jeff, aku yang butuh kamu, aku yang lebih butuh kamu daripada dia."


"Jaga bicaramu, Rat! Aku tahu kamu hamil anakku, tapi Rindu juga sedang sakit. Kamu ngertiin aku dong! Udahlah cape, aku ngurusin kamu!"


Menyerah dengan sikap Ratu yang semakin ke sini semakin menunjukkan keegoisannya, pria itu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak dan kembali ke ranjang istrinya.

__ADS_1


__ADS_2