
Pagi ke siang yang seharusnya ia lewati tiga jam bersama Rindu terasa berjalan sangat cepat. Kini mereka sedang si salah satu tempat makan untuk menikmati makan siangnya.
Tiga jam bersama Rindu sepertinya membuka pikiran Jeff mengenai wanita itu. Ia baru tahu bahwa Rindu sebenarnya pribadi yang asyik dan hangat untuk seorang teman. Ia merasa nyaman berjalan bersamanya hari ini.
"Apa rencana kamu setelah ini, Rin?"
"Aku akan menata hidup dan hatiku kembali, menyibukkan diri dengan pekerjaan. Mungkin aku akan menghabiskan waktu di perusahaan Papa. Tapi untuk saat ini aku masih ingin membayar waktu ku yang sudah hilang dengan mereka."
"Apakah kita tidak bisa menjadi teman setelah ini?"
"Tidak Jeff. Kamu sudah memiliki istri, aku nggak mau kalau hubungan pertemanan kita nanti justru akan menyakiti hati istrimu. Aku ini mantan istrimu, jadi lebih baik jika kita mengakhiri hubungan kita di sidang dan tidak perlu lagi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu saat nanti cepat atau lambat aku juga pasti akan menikah lagi. Kalau kita terus-menerus berteman, pasti hal itu membuat pasangan kita tidak akan nyaman. Memberikan maaf bukan berarti kita melanjutkan hubungan dengan pertemanan."
Jeff hanya menggangguk seraya tersenyum hambar mendengar jawaban dari wanita yang akan menjadi mantan istrinya itu. Setelah makan siang, seperti yang Jeff katakan tadi, perjalanan hari terrakhir mereka itu berakhir di mall.
Jeff dengan setia menemani ke mana pun Rindu pergi. Ke tempat pakaian, sepatu, dan tas. Ia dengan sabar menemani dan membuntuti Rindu. Sesekali wanita itu meminta saran pakaian mana yang bagus, warna mana yang lebih indah, atau model yang bagaimana yang lebih pantas. Tak lupa ia juga memilihkan beberapa pakaian, jas, dan jam tangan untuk Jeff.
Rindu memilih banyak dress, tas, dan beberapa aksesoris. Sekitar dua jam mereka berada di tempat yang bagi para wanita adalah surga. Sudah merasa cukup dengan apa pun yang ia bawa, Rindu mengajak Jeff untuk beristirahat di salah satu stand minuman yang berada di mall tersebut. Mengelilingi setiap sudut mall rupanya membuat ia sangat kehausan.
__ADS_1
"Kamu senang hari ini?"
"Tidak ada wanita yang tidak senang jika diajak belanja, Jeff."
Satu hari menghabiskan waktu dengan Rindu membuat penyesalannya justru semakin dalam. Seandainya saja ia mendengar nasihat dari kedua orang tuanya, pasti sekarang ia tidak akan merasakan penyesalan dan tenggelam dalam rasa itu. Atau setidaknya ia bisa mengulang waktu ke belakang, ia tidak akan berpikir dua kali untuk meninggalkan Ratu saat itu juga. Namun, sekarang yang tersisa tinggal penyesalan, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki dari keadaan ini. Semuanya sudah terlanjur terluka, kecewa, dan sakit hati karenanya.
Di hari yang hampir sore itu, mereka habiskan waktu di pusat perbelanjaan dengan sisa obrolan yang membuat mereka menerbitkan senyum dan tawa kecil. Sungguh siapa pun yang melihat pemandangan itu pasti akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sedang bahagia bahagianya.
Pukul 16.00 mereka memutuskan untuk pulang. Jika tadi Jeff tidak menjemput Rindu atas permintaan wanita itu, maka kali ini akan mengantarnya pulang meski dari kejauhan. Berat bagi Jeff untuk membawa langkahnya membawa Rindu pulang. Nampaknya ia baru menyadari bahwa dirinya memang benar-benar menyesal dan baru menyadari bahwa rasa nyaman tumbuh begitu saja di saat semuanya sudah berakhir. Sungguh ia benci perasaan ini. Perasaan di mana yang seharusnya sudah tumbuh beberapa waktu lalu, kini malah tumbuh dengan liar di waktu yang salah.
"Rin, saat ini kita masih suami istri, kan?" Jeff bertanya setelah mereka sampai sampai gang kompleks perumahan Rindu.
"Aku mau minta sesuatu sama kamu boleh?"
"Apa?"
Jeff memasang badannya menghadap ke arah Rindu agar karena terasa lebih nyaman. Tangan kanannya lalu meraih tengkuk Rindu dan mendorongnya agar lebih dekat dengan kepalanya.
__ADS_1
"Untuk terakhir kaki, Rin. berikan aku sesuatu yang istimewa untuk melepas kepergianmu," bisik Jeff tepat di depan wajah Rindu.
Jeff lalu membawa kepala mereka lebih dekat. Di sore yang cukup mendung itu, mereka adu mulut di bawah atap mobil yang berhenti di pinggir jalan. Lengkuhan yang menunjukkan rasa nikmat dan sesapan yang terdengar dengan jelas membawa mereka dalam kehangatan yang nampaknya tak akan pernah Jeff lupakan.
Setelah sedikit lama dengan pagutan mulut itu, mereka saling tatap sama diam dan dalam.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku bahagia meski ini terakhir kali aku bisa pergi denganmu. Aku harap kamu akan jauh lebih bahagia dari ini. Aku akan berdoa supaya Tuhan segera mengirimkan malaikat untuk penyembuh luka yang aku beri. Berbahagialah untukku. Sekali lagi, maafkan aku yang tidak pernah memberikan apa pun selama pernikahan kita. Aku hanya memberimu luka dan air mata. Aku sekarang sudah merasakan karma dari apa yang aku perbuat." Entah dari mana datangnya cairan bening yang sekarang membuat penglihatan Jeff nampak buram.
"Iya. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Fokuskan dirimu dengan Ratu dan calon anak kalian. Jangan sampai kamu menyesal untuk yang kedua kalinya karena kamu hanya fokus dengan penyesalanmu dan mengabaikan Ratu. Kamu juga harus jaga mereka. Mereka adalah tanggung jawabmu. Buat Ratu sedikit demi sedikit untuk berubah menjadi lebih baik, supaya Mama sama Papa juga merestui kalian. Jangan lupa berdoa juga. Jangan keluarkan air matamu. Ini tidak lucu, Jeff." Rindu menghapus air mata yang tidak sengaja turun saat Rindu bicara.
"Ya udah kalau gitu aku turun, ya. Kamu juga harus pulang, kasihan Ratu sendirian di rumah."
"Iya, akan aku bantu untuk mengambil barang-barangmu." Jeff menyeka air matanya yang kembali jatuh.
"Tidak perlu Jeff. Aku memilih itu semua memang sengaja aku hadiahkan untuk istrimu. Kamu berikan semua itu padanya nanti. Katakan kalau kamu yang memilih barang-barang itu untuknya. Dia sedang hamil, jangan biarkan dia kesal atau marah apalagi sedih. Itu pasti akan berpengaruh sama anak kalian. Karena kamu seharian ini melupakannya dan menghabiskan waktu sama aku, jadi kamu harus membayarnya dengan barang yang aku pilih tadi. Supaya dia berpikir kalau kamu tetap ingat sama dia meskipun seharian ini nggak di rumah. Ini weekend, pasti sebenarnya dia juga ingin jalan-jalan. Sayangi dia meskipun kamu menyadari tumbuh rasa cinta buat aku. Aku pamit, ya. Pulangnya hati-hati."
Rindu dengan segera turun dari mobil dan berjalan sedikit cepat. Air matanya luruh seketika saat ia berjalan beberapa langkah. Entah kenapa hatinya begitu teriris seharian ini. Ia tidak tahu apa yang membuatnya menangis dengan situasi ini. Ia hanya merasakan kesedihan di hatinya, entah apa penyebabnya, sungguh ia tidak bisa menjawab pertanyaannya itu.
__ADS_1
Sementara di mobil, Jeff sendiri sedang terisak dengan menenggelamkan wajahnya di setir. Pundak yang semula kuat untuk menopang segala penyesalan yang ada, kini nampak bergetar hebat karena tangisannya.