
Rindu sedikit susah mengobati luka yang sedikit jauh dari jangkauan mata. Terasa perih karena luka yang masih basah dan sedikit menganga.
Jeon masih berdiri di tempat, ada rasa khawatir yang terselip datang tiba-tiba entah bagaimana proses dan cara masuknya.
"Ini apa, Mbak? Ini luka bukan karena cengkraman tadi." Jeon datang dan meneliti luka tersebut. "Ini luka bekas kuku, kapan ini terjadi? Bagaimana Mbak diam saja? Kalau infeksi bagaimana?"
"Astaga, Jeon. Ini luka kecil, jangan berlebihan."
"Ya udah sini aku obati." Jeon merebut obat yang ada di tangan Rindu.
"Nggak...."
"Diam atau aku panggil Mama!"
Ancaman dari Jeon berhasil membuat bungkam Rindu. Sebenarnya ia tak mau jika terlihat dekat seperti ini setelah apa yang terjadi. Biar bagaimanapun, ini tidak baik untuk dirinya ataupun Jeon sendiri.
Rindu menatap Jeon yang kepalanya sedikit menunduk karena mengobati luka yang menurutnya kecil, namun direspon kekhawatiran yang sedikit berlebihan oleh Jeon. Kepala mereka yang terlau dekat membuat Rindu berpikir, kenapa bukan suaminya yang memperlakukan ia seperti ini? Kenapa justru orang lain?
Kenapa justru suamiku yang membuat luka dan orang lain yang menyembuhkannya?
Jeon mendongak, tatapan mata mereka bertemu sesaat. Mereka sedikit tenggelam dalam keheningan, hingga sebuah suara tapak kaki menyadarkan mereka. Jeon segera mengemasi kotak obatnya dan membawanya pergi dari sana. Sementara Rindu membersihkan sisa piring bekas makan pagi yang berserakan di meja.
"Jeff sama Jeon mana, Rin?"
"Mas Jeff sudah berangkat ke kantor, Ma. Kalau Jeon..." Rindu menghentikan kalimatnya karena Jeon sudah memunculkan batang hidungnya di depan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ada apa Ma? Kalian udah lihat CCTV, kan? Udah tahu duduk perkaranya, kan kalau ini cuma salah paham?"
"Papa tunggu kalian di ruang tengah." Bu Merlin berucap dengan datar lalu berjalan menuju ke ruangan yang beliau sebutkan tadi. Ekspresi yang datar membuat Jeon dan Rindu saling tatap dalam kecemasan.
Kedua manusia yang hari ini menjadi topik pembahasan itu lalu menyusul Bu Merlin ke ruang tengah. Mereka sudah di tunggu oleh keduanya dengan raut wajah yang tidak terbaca.
"Papa dan Mama sudah lihat rekamanĀ CCTV nya. Memang kalau dilihat secara keseluruhan, kalian hanya saling bicara dan mengobrolkan hal yang tidak intim ataupun percakapan yang mengarah kearah hubungan yang macam-macam. Tapi tindakan kamu, Rindu."
Wanita itu seketika mendongak.
"Tindakan yang kamu lakukan itu salah dan tidak perlu kamu lakukan jika bertujuan untuk menenangkan Jeon. Sudah pasti itu akan menimbulkan kesalahpahaman, Papa dan Mama akan percaya kalau kalian punya hubungan jika kami tidak melihat kejadian lengkapnya. Papa harap ini yang pertama dan terakhir. Kalian boleh kok dekat sebagai Kakak dan Adik, tapi pasti ada batasnya, kan? Kalian adalah saudara ipar."
"Iya, Pa. Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Rindu berucap dengan sedikit takut.
"Iya, baik Papa ataupun Mama nggak marah. Nggak apa-apa, ini hanya kesalahpahaman saja. Masalah ini selesai dan Papa mau ke kantor dulu." Pak Jo bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar.
***
Jeff baru sampai kantor saat Ratu berdiri dengan menyilangkan tangannya di teras. entah sudah berapa lama wanita itu menunggu, dari raut wajah yang tercetak, ia nampak kesal dan mungkin saja sudah lama menunggu kedatangan kekasihnya.
Jeff menarik tangan Ratu dan membawa ke samping kantor. Sudah sejauh ini ia berjuang untuk tidak menemui Ratu agar hubungannya tidak terbaca oleh kedua orang tuanya, malah wanita itu sekarang datang ke kantor secara terang-terangan.
"Kamu kenapa ke sini, Sayang? Aku, kan udah jelasin ke kamu kenapa aku nggak bisa nemuin kamu dulu. Aku harus bisa ambil kepercayaan Papa, Mama, dulu kalau kita udah nggak ada hubungan. Kamu kenapa susah banget di suruh sabar?"
"Aku kurang sabar apa, sih? Kita nggak ketemu sama sekali selama sebulan. Aku juga kangenlah sama kamu. Apa kamu udah mulai cinta sama Rindu, iya? Biasanya kamu yang paling nggak bisa jauh sama aku."
__ADS_1
"Nggak, Sayang. Kamu ngomong apa, sih? Tahan sebentar lagi. Aku udah dapat jalan untuk keluar dari rumah. Aku udah hampir dapat kepercayaan dari Papa sama Mama, malah kamu ke sini, nanti jadi runyam. Udah kamu sekarang pulang, aku takut kalau aku masih diawasi sama Papa.
Dan yang benar saja, kekhawatiran Jeff yang berada di puncak ternyata terbukti saat itu juga. Terlihat Pak Jo yang turun dari mobil. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu di kantor yang dipimpin oleh anaknya.
"Ya Tuhan, astaga, apa aku bilang? Papa ke kantor, kamu pergi dari sini."
Jeff meraih tangan Ratu hendak dibawa sembunyi, namun kecepatan pergerakannya kurang sehingga diketahui oleh ayahnya.
"Sudahlah Ratu! Jangan ganggu aku. Aku sudah menikah dengan Rindu, aku sudah punya istri, aku tidak ingin membuat luka untuk hati seseorang. Tolong biarkan hidup tenang, jangan ganggu aku!"
Jeff lalu meninggalkan Ratu seorang diri. Dirinya pura-pura terkejut ketika mengetahui sang Ayah melihat kebersamaannya dengan Ratu.
"Papa ada di sini? Pa, ini tidak seperti apa yang Papa lihat. Aku sudah tidak ada hubungan apa pun dengan Ratu, aku tidak tahu apa yang membuatnya ke sini."
Pak Jo menatap lekat anaknya dan melirik Ratu yang berdiri sedikit jauh darinya. Beliau memperhatikan keduanya melalui gerak-gerik mata yang melihat mereka secara bergantian. Beberapa saat melakukan itu, beliau lalu pergi ke dalam kantor tanpa berkata apa-apa.
Jeff menoleh ke arah kekasihnya dan meminta Ratu untuk pergi dari kantor melalui gerak-gerik tangannya. Debaran di jantungnya menandakan bahwa dirinya masih was-was dengan apa yang baru saja dilihat oleh ayahnya. Besar harapannya untuk Pak Jo percaya dengan apa yang ia ucapkan.
"Apa yang membuat Papa ke sini?" Jeff bertanya setelah mereka sampai di ruangan kebesaran Jeff.
"Apa yang dilakukan Ratu di sini?"
"Sudah aku bilang tadi, aku nggak tahu kenapa dia ke sini. Sebelumnya dia nggak pernah ke sini, Pa. Aku pun gak pernah nemuin dia, kita udah nggak pernah ketemu selama satu bulan ini. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya. Tolonglah, Pa. Papa percaya sama aku sekali-kali. Aku ini anak Papa. Jangan karena aku sering berkata tidak ke Papa. Aku jadi sama sekali nggak dapat kepercayaan dari Papa. Nggak semua yang apa aku bilang itu dusta." Jeff memasang wajah memelas agar mendapatkan simpati dari sang Ayah. Sungguh kepura-puraan yang luar biasa.
Kenapa luar biasa? Karena melihat wajah dan mendengar kalimat Jeff membuat Pak Jo berpikir apa yang di katakan anaknya itu ada benarnya juga. Selama ini beliau selalu berpikir buruk pada anaknya sendiri. Apalagi selama sebulan ini beliau juga tidak pernah mendapat laporan dari anak buahnya mengenai pertemuan Jeff dan Ratu.
__ADS_1
"Iya, Papa percaya."