
Bu Merlin masih bernafas dengan cepat, sejak dulu Bu Merlin sudah menduga momen ini pasti akan datang. Tapi dugaan dan ketakutan itu nyatanya tidak bisa membuat beliau tenang sekarang. Sejak dulu sebenarnya beliau sangat takut jika ibu kandung Jeon datang dan tiba-tiba mengambil anak asuhnya itu.
Dan ke khawatiran itu dibawa oleh Bu Merlin hingga beberapa hari kemudian. Perasaan tak tenang, selalu gelisah, dan was-was jika Bu Mita bertemu dengan Jeon menghantui beliau hingga tidak fokus pada tugasnya sebagai istri, Ibu, dan seorang Nenek.
Hal yang wajar jika Bu Merlin merasakan itu setiap harinya. Bu Mita yang sejak saat hari pertama menemui wanita itu datang nyaris setiap hari hanya untuk membujuk Bu Merlin agar bersedia mempertemukan dirinya dengan sang anak.
Jeon yang selesai sarapan justru memainkan ponselnya di meja makan mengundang pertanyaan ibunya. "Nggak ke rumah sakit?"
"Nanti malam, Ma."
Jawaban dari Jeon tentu saja membuat Bu Merlin sedikit was-was. Biasanya pagi hari atau siang hari adalah jam di mana Bu Mita datang ke rumah untuk hal yang sama.
Pikiran Bu Merlin rupanya terjadi beberapa detik kemudian. Bel rumah yang tiba-tiba berbunyi membuat Bu Merlin menghentikan detak jantungnya seketika, masalahnya, tidak ada tamu yang datang akhir-akhir ini selain Bu Mita.
Wanita yang semula ingin memindahkan piring kotor ke dapur itu pun segera meletakkan kembali piring ke meja dan menuju pintu utama.
"Kenapa Anda hampir setiap hari ke sini? Seharusnya anda berpikir dua kali untuk ke sini, karena jawaban dan tindakan saya tetap sama, pendirian saya pun tetap sama. Saya tidak akan mengizinkan Anda untuk bertemu dengan anak saya."
__ADS_1
"Saya ibunya, saya ada hak untuk bertemu. Saya tahu saya salah di masa lalu. Itu sebabnya saya ingin mencarinya, ingin menemuinya, ingin minta maaf, menebus kesalahan saya. Tidak baik jika Ibu terus-menerus menjadi penghalang untuk seorang Ibu bertemu dengan anaknya."
Bu Mita yang semula meminta dengan halus dan nada lembut nampaknya sudah mulai hilang kesabaran. Kedua wanita itu bersitegang dalam durasi yang lama.
"Benar sekali, Anda ibunya. Ke mana pikiran itu 26 tahun yang lalu? Anda anggap diri Anda Ibu, tapi Anda membuangnya. Tong sampah bukan tempat yang layak untuk dihuni manusia. Anda tidak berpikir dua kali untuk datang ke sini dan meminta bertemu dengannya setelah Anda buang. Lalu kenapa Anda tidak berpikir dua kali saat membuangnya?"
"Tolong jangan fokuskan Anda pada itu saja. Tanyakan juga alasan saya kenapa saya melakukan itu."
Kedua bola mata Jeon seketika memanas. Niatnya menghampiri sang Ibu karena ponsel beliau yang sejak tadi tak mau diam malah mendapatkan kejutan yang tak pernah ia sangka.
Telinganya masih cukup normal untuk mendengar keseluruhan percakapan kedua wanita itu meski dengan jarak yang sedikit jauh. Dadanya terasa sesak, nafasnya mulai tak beraturan, kilasan-kilasan penghinaan yang dilontarkan mulut Jeff kembali menggema. Tidak-tidak, Jeon tidak menyalahkan Jeff atas apa yang ia terima. Hanya saja, pikirannya kali ini di dominasi oleh kejahatan ibunya yang membuat ia dihina oleh beberapa orang yang mengerti statusnya.
Suara menggema dari dalam ruangan membuat kedua wanita yang bersitatap dalam keheningan itu seketika mengarahkan pandangannya ke dalam rumah. Bu Merlin dengan segera berjalan mendekati anaknya. Sementara Bu Mita masih mematung di tempat dengan lelahan air mata yang terjun bebas. Baru kali ini beliau bertemu dengan anak sulungnya.
"Nak, masuklah. Mama mohon." Bu Merlin berkaca-kaca entah untuk alasan yang mana. Ada dua alasan kenapa beliau sangat takut jika mereka berdua bertemu. Alasan yang pertama adalah beliau takut jika Jeon meninggalkan dirinya dan memilih untuk tinggal bersama ibunya. Dan untuk alasan kedua, wanita itu takut jika apa yang dialami Jeon di waktu kecil kembali terulang.
Alih-alih mendengarkan ucapan Ibu asuhnya, Jeon justru melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Bu Mita. Kedua bola mata mereka bebertemu. Jeon terdiam meneliti setiap inci wajah dari wanita yang sudah melahirkannya, tapi juga sudah membuangnya.
__ADS_1
Angan-angan Bu Mita yang akan memeluknya dengan erat saat bertemu dengan sang anak entah kabur ke mana. Yang terjadi justru beliau mendadak seperti lumpuh.
"Kenapa Anda melahirkan saya?"
Ibu Mita seperti tidak sanggup berkata-kata, beliau mengangkat tangannya setelah mendengar pertanyaan dari anaknya. Ingin sekali beliau menyentuh kulit anaknya itu. Dari dalam hati, beliau sangat mengagumi anaknya. Tak disangka anaknya tumbuh dengan tampan, gagah, dan rupawan.
Belum sempat tangan Bu Mita menyentuh pipi anaknya itu, tangannya sudah diturunkan kembali oleh sang anak.
"Tangan yang pernah membuang saya di tempat kotor sekotor tempat sampah, sepertinya tidak seharusnya menyentuh saya."
"Maafkan Mama, Nak. Mama akan jelaskan kenapa Mama melakukan itu. Tolong berikan kesempatan untuk Mama menyentuh kamu sebentar saja. Berikan juga kesempatan untuk Mama menjelaskan apa yang terjadi 26 tahun lalu. Tidak ada seorang Ibu yang membuang anaknya tanpa alasan."
"Benar sekali, tidak ada seorang Ibu yang membuang anaknya tanpa alasan dan apa pun alasan yang akan Anda jelaskan, saya tidak peduli. Yang saya tahu, saya dibuang, tidak diinginkan, dan bisa saja saya adalah hasil dari perbuatan zina yang Anda lakukan di masa lalu. Anda yang berbuat kesalahan, saya yang dikorbankan. Dan satu lagi, saya tidak punya Ibu selain Bu Merlin. Jangan panggil diri Anda Mama di depan saya."
Sungguh respon yang diluar dugaan. Kedua wanita yang sebenarnya sama pentingnya dalam kehidupan Jeon itu sama-sama tercengang karena ucapan Jeon yang begitu menyakitkan. Bu Merlin selaku wanita yang merawat dan bersamanya selama 26 tahun saja tekejut dengan sikap Jeon. Selama ini pria itu selalu menunjukkan sifat lemah lembut dan hangat. Wajar saja jika Bu Merlin juga terkejut dengan ini.
"Mama yang melahirkan kamu, Nak. Dengarkan dulu apa yang akan Mama jelaskan. Nanti setelah itu kamu bisa menilai sendiri apa yang Mama lakukan ini baik atau buruk buat kamu."
__ADS_1
Jeon tertawa mendengar kalimat Ibu kandungnya. Namun kedua bola matanya penuh dengan carikan bening.
"Iya, Anda benar lagi untuk kali ini. Anda yang melahirkan saya, Anda yang menaruhkan nyawa Anda hanya untuk melahirkan saya. Saya sangat berterima kasih untuk itu. Dan untuk alasan Anda membuang saya di tempat sampah. Bagaimana bisa Anda mengatakan itu hal yang baik atau buruk bagi saya? Jika memang itu hal yang baik kenapa ada ke sini? Untuk apa menemui saya? Asal Anda tahu, selama 26 tahun saya hidup, saya sangat bahagia tinggal di sini. Tinggal dengan orang tua yang begitu menyayangi saya. Mereka menganggap saya seperti anaknya sendiri, meskipun saya ini dipungut dari tempat sampah. Di mana tempat yang kotor, menjijikan, dihinggapi lalat, bahkan tikus kadang juga di sana." Jeon selalu menekankan kata tempat sampah untuk mengingatkan Ibu kandungnya di mana ia dibuang.