
"Ambil pakainmu! Kau tidur sendirian, aku akan tidur di hotel yang sama dengan Ratu. Jika sampai ada yang mendengar perihal ini, aku tidak akan segan-segan melakukan apa yang keluar dari mulutku. Kau ambil ini! Kau bebas melakukan apa yang kau mau, belanja sepuasmu, makan sepuasmu. Terserah!" Jeff memberikan salah satu atm-nya.
"Bawa saja, aku tidak butuh!" Rindu menjawab dengan mengambil pakaian dari koper dan memindahkannya ke lemari.
Jeff menyunggingkan senyum miring, "Kau terlalu jual mahal, kau terlalu peduli dengan harga dirimu, padahal kau tidak ada harganya di depan ku." Jeff pergi setelah mengatakan itu. Tak lupa ia memakai atribut penyamarannya untuk berjaga-jaga jika ia masih diawasi oleh sang Ayah.
Wanita dua puluh dua tahun itu mendudukkan dirinya di tempat tidur dengan kasar. Usia masih muda, di usianya seharusnya ia masih bisa bersenang-senang dengan teman, keluarga, dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Ia masih bisa mendapatkan tawa dari orang-orang terdekatnya, tapi lihat apa yang dialami Rindu. Ia harus menjalani bahtera rumah tangga yang bak neraka, jauh dari angan-angan yang ia idamkan.
Rindu yang terlahir menjadi anak bungsu dan biasa di hujani dengan cinta, biasa di selimuti dengan tawa, kini ia jauh dari kedua hal itu. Hidupnya sangat berbanding terbalik dari masa lajangnya dan pernikahan yang ia idamkan.
Rindu gagal menjadi kuat, tekadnya nampak belum terlalu bulat untuk menjadi kuat dan sekuat yang ia inginkan. Air matanya kembali jatuh, ia merindukan kedua orang tuanya dan juga para Kakak dan Kakak iparnya yang mencintainya tanpa batas. Dan sekarang, siapa yang akan mencintainya selain dirinya sendiri?
***
Pukul tujuh malam, Ratu baru saja sampai di hotel di mana tempat Jeff menginap. Mereka tentu saja tinggal di satu kamar yang sama dan kini sedang melepas rindu dengan cara mereka.
"Mau makan, apa mau yang lain dulu?" Jeff mendudukan Ratu di atas pangkuannya.
"Kita makan dulu, makan yang lain maksudnya. Bukankah kita terlalu lama untuk menahan?"
__ADS_1
"Apa ini yang membuat kamu berubah pikiran? Aku masih ingat kamu mengatakan tidak degan lantang beberapa hari yang lalu." Tangan Jeff mulai aktif di wajah sang kekasih.
Satu bulan menahan hasrat untuk bertemu langsung rupanya sangat menyiksa dirinya sendiri. Ia yang mengambil keputusan, ia sendiri yang kelagapan.
"Kamu seharusnya tidak bertanya begitu, lakukan sekarang," bisik Ratu di akhir kalimat.
Bisikan di telinganya membuat salah satu bagian tubuhnya terasa ditantang untuk melakukan sesuatu. Dan malam itu, di bawah lampu kamar hotel yang sedikit redup menjadi saksi kebersamaan mereka di tengah deritan ranjang hotel mewah. Kehangatan yang mereka ciptakan mampu membuat keduanya terbuai hingga mereka lupa waktu dan lupa akan rasa lapar yang sebenarnya sudah mendera.
"Kamu selalu sama. Selalu membuat aku puas dengan apa yang aku minta. Sekarang aku sangat lapar, aku harus makan. Ayo kita lanjutkan ronde berikutnya di kamar mandi, setelah itu kita keluar cari makan." Jeff membawa Ratu ke dalam gendongannya dan ia bawa ke dalam kamar mandi dan melakukan aktivisnya di sana, di bawah guyuran air shower.
Entah berapa lama dan berapa kali mereka saling adu hentakan, akhirnya mereka selesai dengan kenikmatan mereka pukul sebelas malam. Dan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Jeff tadi, mareka keluar mencari makan dan selama Jeff di sini dengan Ratu, maka ia akan selalu dengan mode penyamarannya.
"Nggak."
"Kalau ada yang tahu Rindu keluar hotel tanpa kamu gimana?"
"Nggak perlu mikir itu, Sayang. Kita nikmati dua hari kita dengan tenang dan tanpa menyebutkan nama dia. Aku tidak peduli jika ada yang lihat dia jalan sendirian, biar dia yang jelaskan sendiri nanti. Kita makan sekarang, aku sudah siap."
"Tapi kamu harus mempertemukan aku dengan dia, jangan lupa dia masih punya hutang maaf sama aku."
__ADS_1
"Iya, besok, ya. Aku akan bawa dia, besok kita ke pantai, ya." Jeff merangkul pundak sang kekasih dan membawanya berjalan ke luar kamar.
Jika Jeff sedang menikmati kebahagiaan di luar sana, hal sebaliknya terjadi pada Rindu. Ia meringkukkan badannya di bawah selimut hotel yang tebal dengan genangan air mata. Ia sudah tidak ingin menangis, namun entah kenapa cairan bening itu terus saja mengalir dari matanya. Rasanya ia sendiri sangat lelah karena seharian ini sudah menangis tiada henti.
Di tengah tangisan tanpa suara, ia mendengar ponselnya yang bergetar panjang. Menandakan ada panggilan masuk, Rindu dengan setengah hati mengambil gawainya dan, "Ada apa?"
"Besok jam sembilan pagi kau ke pantai yang nggak jauh dari hotel. Kita ketemu di sana."
"Untuk apa? Kalau kamu minta aku untuk minta maaf sama Ratu, aku tidak mau. Lupakan keinginanmu yang satu itu, aku nggak akan pernah mau." Rindu menutup telepon itu secara sepihak. Dan tanpa pikir panjang, ia segera menonaktifkan ponselnya agar tak ada yang mengganggunya.
***
Rindu mengerjap mata, ia merasa baru beberapa jam tidur, tapi kenapa pagi sudah menyapa dengan kurang ajarnya. Dengan malas ia memaksa dirinya untuk bangun dan mandi agar tubuhnya terasa sedikit segar setelah kemarin ia habiskan untuk menangis.
Di hari yang baru ini, ia ingin melupakan hari yang kemarin, ia ingin hari ini tidak ada lagi tangisan ataupun ingatan perihal kemarin yang hanya akan membuatnya sakit. Selesai mandi, ia ingin keluar hotel seharian dengan tanpa ponsel, ia hanya ingin belanja, makan, dan jalan-jalan. Ia ingat, semalam ia diminta Jeff untuk menemuinya di pantai, itulah sebabnya ia tidak akan pergi dengan ponselnya dan tidak akan kembali ke hotel sebelum hari gelap.
"Baju ini sepertinya bagus untuk jalan-jalan." Rindu mengambil dress berwarna pink bermotif bunga kecil dengan tanpa lengan.
Selesai dengan merias diri sendiri, Rindu keluar kamar dengan percaya diri meski ia merasakan panas di matanya dan lelah di tubuh. Meskipun ia dalam keadaan terpuruk, ia masih terlihat cantik dengan balutan dress serta jepitan kecil yang ia kenakan di kepalanya. Wajar saja jika ia masih ingin terlihat imut diusianya yang masih dua puluh dua tahun.
__ADS_1
Hal pertama yang ia kunjungi adalah rumah makan, ia memilih rumah makan yang sederhana saja. Rumah makan yang tidak akan mungkin di disinggahi oleh Jeff. Pria yang suka dengan kemewahan itu tidak mungkin makan di tempat makan yang sederhana. Setidaknya itulah yang di pikirkan Rindu untuk menghindari bertemu dengan suaminya sendiri.