Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
27. Cantik


__ADS_3

[Nonton, yuk!]


Satu pesan yang cukup singkat, namun mambuat Rindu tersenyum hingga menunjukkan deretan gigi kecilnya. Sudah lama ia tidak pergi keluar hanya untuk bersenang-senang. Apalagi sekedar nonton film seperti anak gadis seusianya. Dan sekarang setelah sekian lama ia tidak menikmati masa bebasnya, kini datang sebuah tawaran untuk bersenang-senang sesaat, hanya sekedar merefresh pikiran. Bukankah itu hal yang sangat wajar?


Rindu sedang mengetikkan sebuah jawaban, namun tiba-tiba perasaannya mengingatkan bahwa ia adalah wanita yang sudah memiliki suami. Nampaknya tidak akan baik jika ia mengiyakan atau menerima ajakan laki-laki lain meskipun itu adik iparnya sendiri. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, Rindu berusaha untuk kembali menambah ketinggian dan ketebalan dinding yang ia ciptakan sendiri untuk membatasi hubungannya dengan pria mana pun. Sudah pasti ini terasa sulit karena statusnya kini bersuami, namun seperti tidak memiliki suami.


[Ajaklah teman kuliah atau teman wanitamu yang sedang kamu incar! Kenapa malah ngajak istri orang?]


[Bukannya sekarang lagi musimnya mengencani istri orang?] tak lupa Jeon menambahkan emoticon tertawa.


Rindu belum sempat mengetik, namun ponselnya itu berdering karena sebuah panggilan dari seseorang yang sangat tidak ia inginkan untuk menghubunginya. Ia tidak ingin dihubungi oleh Jeon, tapi justru jarinya malah menggeser tombol hijau setelah beberapa detik ponselnya berbunyi.


"Aku senang kamu menjawab teleponku dengan cepat. Aku..."


"Jeon, tolong jangan seperti ini! Perlakukan aku seperti Kakak iparmu. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu mengerti batasan antara Kakak dan Adik iparnya, kan? Tidak ada Adik ipar yang mengajak Kakak iparnya pergi ke bioskop berdua."


"Rindu, kenapa kamu terlalu membentengi dirimu sendiri seperti itu? Kamu memang udah punya suami, tapi apa yang diberikan suamimu ke kamu?"


"Sudah Je, aku tutup teleponnya, ya. Semakin lama pembicaraan kita akan semakin mengarah ke hal-hal yang tidak seharusnya."


Tanpa bicara apa-apa lagi atau menunggu jawaban dari Jeon, Rindu mengakhiri sambungan teleponnya itu. Ia menekan perasaannya dalam-dalam, ia tidak mau terlalu menanggapi Jeon. Ia benar-benar takut jika ia meladeni pria itu, maka akan tumbuh rasa nyaman dan perasaan lainnya. Sungguh hingga saat ini Rindu masih menakutkan satu hal itu.


Namun sebaliknya dialami oleh Jeon. Ia semenjak menempati rumah besar itu sendirian, dirinya benar-benar merasa merindukan sosok Rindu, kepalanya serasa tak mau lepas dari pikiran wanita itu. Padahal baru satu minggu sama sekali tidak bertemu dan berkomunikasi, tapi rasanya seperti begitu lama ia terpisah dengan Kakak iparnya.


"Ya Tuhan, apakah aku jatuh cinta dengan Rindu? Bagaimana mungkin ini terjadi, dia Kakak iparku."

__ADS_1


Mau dipungkiri sebanyak apa pun, sebanyak itu pula ia semakin sadar jika ia memiliki rasa lebih dari sekedar iba atau rasa sebagai Adik dan Kakak ipar.


Rindu tak bahagia dengan pernikahannya, haruskah ia merebutnya dari Jeff dan memberikan kebahagiaan yang melimpah? Pikiran jahat untuk merebut istri kakaknya mulai terlintas di kepala.


***


Jika Rindu selalu dirindukan oleh Jeon, maka Jeff yang berstatus suaminya malah sibuk mengurusi wanitanya yang lain. Selepas dari rumah sakit, Jeff memberikan banyak pesan pada kekasihnya, tak lupa ia membelikan banyak makanan dan camilan. Perhatian Jeff yang memang hanya untuk Ratu seorang, kini semakin kentara dengan hadirnya sang jabang bayi yang berada di perut wanita itu.


Sama sekali tidak ada penyesalan di mata Jeff. Pria itu nampak biasa saja dan seakan tidak terjadi apa-apa ketika mengetahui kekasihnya hamil.


"Aku ke kantor dulu, ya. Kalau mau apa-apa telepon aja, jangan berangkat sendirian. Nanti setelah kita menikah, aku akan carikan rumah buat kamu, ya. Biar aku bisa pantau setiap waktu, jarak apartemen ke kantor, kan jauh. Jadi aku carikan rumah yang dekat kantor aja, ya. Atau rumah yang di tengah-tengah, dekat kantor juga dekat rumah."


"Iya terserah kamu aja, tapi Jeff, aku nggak mau, ya kalau selamanya jadi istri siri."


"Iya, nggak selamanya kok. Aku akan usahakan cepat, tapi kamu juga harus sabar."


Waktu yang terus melaju tanpa terasa membawa semuanya ke tiga bulan kemudian. Hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan pusat Pak Jo. Ada yang berbeda kali ini dalam perayaan ulang tahun perusahaan itu, selain mengumumkan bahwa akan ada cabang lagi di perusahaan di kota lain, beliau juga akan merayakan hari jadi perusahaannya dengan memperkenalkan Rindu pada seluruh rekan kerja dan para penanam saham yang baru saja bergabung dengan perusahaan miliknya.


Rindu sedang berdiri di depan cermin kali ini. Dress lace yang berwarna pink yang hanya menutupi sebagian pahanya, sungguh membuat wanita itu nampak sangat cantik. Kulit putih dan mulusnya terpampang dengan nyata. Seakan menandakan bahwa saat ia keluar rumah nantinya, tidak akan ada pria yang bisa berpaling pandang darinya, termasuk suaminya sendiri yang kini sedang berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.


Ya, Jeff kini sedang menatap Rindu yang sedang mengolesi sebuah lipstik berwarna pink di bibirnya. Tatapan pria itu tak berkedip sekalipun. Seakan dirinya baru saja melihat bidadari yang jatuh dan nyasar di depan matanya.


"Mas aku sudah selesai." Rindu mengatakan itu berniat untuk mengajak suaminya itu turun ke lantai bawah. Namun, entah karena memikirkan apa, Jeff sama sekali tidak merespon ucapannya.


"Mas," teriak Rindu sedikit kencang.

__ADS_1


Jeff yang semula hanya fokus pada kecantikan istrinya, seketika terkesiap dan mendadak gugup ketika dipandang oleh wanita cantik itu.


"Ayo kita turun, takutnya Mama sama Papa udah nunggu." Rindu berjalan lebih dulu.


Jeff meraba dadanya yang berdetak dengan kencang secara tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, "Astaga, sepertinya ada yang salah dengan mata dan otakku." Pria itu lalu melangkah menyusul istrinya.


Dan Yang benar saja, ternyata begitu sampai di lantai bawah, orang tuanya dan juga Jeon sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan sepasang suami istri itu.


"Mama, Papa menunggu lama? Maafkan aku."


"Masya Allah, menantu Mama cantik banget. Kamu terlihat berbeda dari biasanya."


Jeon yang sebelumnya berusaha untuk tidak menghiraukan Rindu karena ingin tahu bagaimana respon wanita itu ketika ia berlagak ngambek, seketika mendongak dengan cepat setelah mendengar ucapan dari ibunya.


Respon yang sama seperti Jeff tadi, Jeon juga mendadak menjadi batu ketika mengarahkan pandangan pada wanita yang kini berdiri di samping ibunya. Dengan susah payah ia menelan ludahnya dan juga sedikit menggerakkan kelopak matanya untuk memperhatikan penampilan wanita itu dari atas hingga bawah.


Hubungannya dengan Rindu yang selama tiga bulan ini sedikit mengalami perkembangan, tentu saja membuat sedikit berbunga ketika melihat Rindu seperti ini.


Fix! Rindu dandan buat gue. Yah, meskipun dia masih sok-sokan membuat dinding dan benteng agar semakin tebal, tidak bisa dipungkiri, lama-lama dinding itu pasti akan runtuh sama perhatian-perhatian yang gue kasih.


Jeon menunjukkan senyum tipisnya tepat saat Rindu tidak sengaja menatap matanya.


"Cantik," ucap Jeon tanpa suara.


Rindu seketika menunduk menatap lantai, ia menyembunyikan senyum tipisnya. Mendapat pujian dari seseorang membuat dirinya sedikit terbang.

__ADS_1


kurang lebih dressnya kayak gini, ya.



__ADS_2