
Rindu sudah berada di rumah dengan ditangani oleh dokter pribadi keluarga Pak Jo. Bu Merlin dan suaminya masih bungkam menahan berbagai pertanyaan kenapa Rindu bisa bersama dengan anak asuhnya itu.
"Mbak Rindu sepertinya sering memikirkan sesuatu yang berat dan ditambah lagi ada guncangan yang mendadak. Seperti permasalahan yang tiba-tiba datang, itu juga bisa membuat seseorang tumbang ketika dia tidak mampu memikirkan permasalahannya. Sakit ringan atau parah tidak hanya disebabkan oleh faktor makanan, kebiasaan, atau bahkan pola hidup. Ketiga hal itu memang sangat berpengaruh pada kesehatan, tapi selain ketiga hal itu, ada juga faktor pikiran atau psikis yang bisa mengganggu kesehatan seseorang dan itu tidak bisa dianggap remeh."
"Pikiran?" ulang Pak Jo.
"Iya, Pak. Tapi tidak apa-apa, Mbak Rindu hanya demam dan pusing saja. Akan sembuh dalam tiga hari, jika dalam tiga hari belum sembuh atau sama sekali tidak ada perubahan, bisa dibawa ke rumah sakit. Ini resep obatnya, saya permisi."
Bu Merlin lalu mengantar dokter wanita itu hingga teras. Saat sedang berdiri menunggu hilangnya punggung sang dokter, Jeff tiba di rumah. Wanita itu menunggu hingga anaknya itu turun dari mobil.
"Ma, aku bingung mau cari Rindu ke mana. Dari tadi aku telepon nggak diangkat-angkat. Suruh minta bantuan sama temennya Papa yang polisi aja, Ma. Aku takut Rindu kenapa-napa."
"Memang sudah kenapa-napa, Jeff. Tapi Mama juga nggak tahu kenapa bisa Rindu sama Jeon. Dan istrimu pulang-pulang dalam keadaan demam. Lebih baik sekarang kita masuk dulu, kita minta penjelasan Jeon. Karena memang hanya dia yang tahu."
Jeff masih mematung tempat ketika Bu Merlin sudah berjalan kembali menuju ke dalam rumah.
Demam? Pasti habis buka pesan dari Ratu
Sadar dengan hal itu, pria itu segera berlari menuju kamarnya. Sempat mematung di pintu sesaat sebelum ia berhambur ke tempat tidur untuk melihat istrinya yang sedang terbaring lemah.
Tangan pria itu menyentuh kening istrinya yang terasa panas.
__ADS_1
"Kamu ke mana aja dari tadi aku telpon nggak diangkat-angkat?"
Belum sempat Rindu buka suara, Jeon sudah menyahut, "Seharusnya yang bertanya begitu itu Rindu, bukan Kau, Kak. Kau ke mana saja seharian ini?"
"Kau juga, bagaimana bisa kau sama Rindu? Kau ajak kelayapan ke mana dia sampai dia demam?"
Sebelum terjadi pertengkaran yang lebih hebat, Pak Jo menengahi kedua putranya. Sebenarnya niat beliau ingin mengajak bicara secara baik-baik dan tenang dengan ketiga manusia muda itu. Namun nampaknya, keadaan Rindu yang membutuhkan banyak istirahat mengharuskan beliau untuk bicara tanpa menantunya.
"Kalian berdua ikut Papa ke ruang keluarga. Kita akan berbicara berempat saja, Rindu butuh istirahat yang banyak." Pak Jo berbalik dan keluar kamar yang kemudian diikuti oleh kedua putranya.
Sementara Bu Merlin menghampiri menantunya dan duduk di tepian ranjang.
"Mama ke bawah dulu, ya. Kamu istirahat dan jangan banyak pikiran. Biar kita bisa bicara dan dengar apa yang terjadi versi kamu. Kejadian ini membuat Mama sangat bingung. Mama merasa tidak enak karena yang terjadi ini sungguh tidak baik. Tapi jangan khawatir, akan ada penyelesaian dalam setiap masalah. Tidurlah!"
"Jangan, kesehatan kamu jauh lebih penting dari apa pun. Untuk sementara biarkan Jeon yang bicara, karena hanya dia yang tahu keadaanmu.
Bu Merlin membenarkan letak selimut lalu beranjak dari sana. Menyusul ketiga laki-laki yang berarti untuk kehidupannya, namun sekarang mereka sedang bersitegang dalam sebuah ruangan yang khusus diperuntukkan membahas masalah keluarga.
"Sebelumnya, Papa akan bertanya dulu sama Jeon. Ceritakan dengan jelas kronologi kamu bisa sama Rindu hingga semalam ini," tanya Pak Jo begitu istrinya duduk di sampingnya.
Jeon menatap kakaknya sebentar lalu bicara, mulai dari dirinya yang bertemu Rindu di sebuah restoran hingga ia ajak ke sebuah tempat wisata. Ia ceritakan semua kejadian dengan sangat rinci, serinci ia sedang diinterogasi oleh petugas kepolisian.
__ADS_1
Tidak ada yang menyela pembicaraan Jeon sejauh ini. Semua nampak mendengar dengan seksama termasuk Jeff. Tidak ada pemikiran bahwa Rindu akan menceritakan foto yang dikirim Ratu pada Jeon. Sama sekali tak ada, ia yakin Rindu tidak akan se gegabah itu untuk menceritakan permasalahannya, setidaknya sejauh ini ia mengenal Rindu adalah sosok seperti itu. Namun, kepercayaan itu terpatahkan oleh kalimat Jeon.
"Biar aku jelaskan dulu sesuatu apa yang ditunjukkan Rindu sama aku." Jeon mengambil ponsel Rindu yang berada di sakunya. Sejak tadi ternyata ponsel itu ada di sakunya.
Belum sempat Jeon menunjukkan ponselnya pada kedua orang tuanya, Jeff sudah merebut benda itu dari tangannya.
"Jadi kau yang bawa HP Rindu? Pantas saja dia sama sekali tidak mengangkat telponku. Rupanya kau yang bawa? Mama sama Papa lihat kelakuan anak kesayangan kalian. Anak yang selalu kalian banggakan dan agungkan. Lihat kelakuannya! Aku sudah khawatir setengah mati, dia malah berduaan sama Kakak iparnya sendiri." Jeff berdiri dengan marah.
"Kau khawatir, kau marah karena aku yang membawa HP Rindu? Kau marah bukan untuk itu, kau marah karena Rindu menceritakan sesuatu yang besar padaku, apa sekarang kau sedang takut?" Jeon pun memasang kakinya untuk berdiri juga.
Pria itu semenjak menyadari perasaannya pada Rindu semakin berani pada keluarganya sendiri, terutama sang Kakak. Jika dulu ia diam diperlakukan seburuk apa pun oleh kakaknya, untuk sekarang ia tidak mau diam jika seseorang yang dicintainya diperlakukan sama seperti Jeff memperlakukan dirinya.
"Tidak bisakah kalian menghargai kami sebagai orang tua? Jangan bertingkah seperti kalian tidak pernah diajari sopan santun oleh kami."
Mereka kembali duduk di kursi masing-masing dengan tetapan yang sama-sama mengibarkan bendera peperangan. Jika saja pandangan mereka mengeluarkan api, mungkin rumah besar Pak Jo sudah terbakar habis oleh si jago merah itu.
"Kemarikan HP Rindu, Jeff." Pak Jo meminta seraya menengadahkan tangan.
Jeff tak langsung memberikan, hal itu dijadikan bahan peledak untuk Jeon.
"Ambil aja, Pa. Dia pasti nggak akan mau ngasih HP itu suka rela. Dia sudah melakukan kesalahan besar. Bagaimana mungkin dia kasih HP nya."
__ADS_1
Jeff bingung, untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apa pun. Mengulur waktu, menghapus pesan itu, dan melarikan diri dari sini pun rasanya tidak mungkin. Ia merasa tidak punya pilihan lain selain memberikan ponsel itu, tapi sungguh ia belum siap menerima konsekuensi dari apa yang sudah ia lakukan di belakang kedua orang tuanya.
Merasa terlalu lama menunggu Jeff, Jeon merebut benda milik Rindu itu dan memberikannya pada sang Ayah.