
Keesokan harinya, Pak Jo kembali mengumpulkan mereka di ruang keluarga. Hari ini adalah keputusan beliau mengenai apa yang baru saja menimpa keluarganya.
"Sebenarnya Papa masih ada niatan untuk menyelidiki ini dulu. Tapi Papa rasa apa yang dilakukan Jeon semalam, membuat Papa berpikir kalau kalian tidak bisa satu rumah."
Mendengar kalimat itu, tentu saja membuat Jeff menunduk untuk menyembunyikan senyum kemenangannya. Hanya dengan mendengar sepenggal kalimat dari Pak Jo, Jeff sudah merasa bahwa dirinya diizinkan untuk tinggal di rumah terpisah hanya berdua dengan Rindu. Dengan begitu, ia tidak lagi perlu bersembunyi untuk melakukan apa pun dengan Ratu.
"Memang benar apa kata Jeff dulu, tidak seharusnya kalian bertiga ini tinggal di satu rumah yang sama. Untuk itu Papa putuskan Jeon akan tinggal di rumah Papa yang lain."
Senyum yang sempat tersinggung di bibir Jeff seketika lenyap. Sementara yang lainnya mencetak wajah yang biasa saja.
"Loh, kok jadi Jeon yang meninggalkan rumah ini? Yang butuh banyak privasi itu aku, Pa. Bukan Jeon!" Jeff langsung mengutarakan keberatannya.
"Ini sudah keputusan Papa. Tidak ada yang bisa menggangu gugat, apalagi merubahnya."
"Pa, ini nggak adil."
"Apanya yang nggak adil? Kalau kalian tinggal di sini, istrimu akan lebih bisa diawasi dan terjamin nggak akan melakukan hal yang tidak diinginkan. Akan percuma kalau kalian yang pindah ke rumah lain, sementara Jeon tetap bisa bebas berkeliaran dengan Rindu. Kamu selalu membantah dan menyangkal apa yang menjadi keputusan Papa. Sebenarnya apa yang kamu butuhkan, Jeff?"
Jeon sejak tadi menatap sang Kakak. Ia tersenyum tipis saat memperhatikan bagaimana wajah Jeff yang kesal karena keputusan yang Pak Jo ambil tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Yang Kakak butuhkan itu hanya kebebasan, itu saja Pa. Mungkin Kak Jeff ingin dia yang pindah rumah, supaya bebas dan tidak terikat dengan aturan Papa. Simpel, kan?"
__ADS_1
Jerf hendak berucap, namun dengan cepat Pak Jo mencegahnya dengan meminta semua orang untuk kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Sementara Jeon harus pindah rumah hari ini juga, ia akan tetap mendapat fasilitas dari kedua orang tuanya meski tak lagi tinggal bersama. Hanya saja fasilitas itu terbatas dan tidak sebebas dahulu.
Hal itu tidak menjadi masalah bagi Jeon. Mau tinggal di mana pun dan apa pun fasilitas yang ia terima, tidak menjadi soal baginya. Meskipun ia terbiasa dengan kemewahan dan fasilitas yang tiada batas, statusnya di keluarga inilah yang menjadikannya apa pun serba ia batasi sendiri, ia juga tak biasa menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna.
Yang ia pikirkan adalah Rindu. Mengingat wanita itu begitu rapuh semalam, membuat ia kepikiran dengannya.
Pak Jo dan istrinya sudah tidak ada di tempat saat ketiga orang itu masih berdiri mematung di ruang keluarga.
"Rencana Kakak gagal, ya? Sepertinya cara kemarin kurang efektif untuk membuat Kakak bisa bisa bebas dari rumah."
Jeff menatap menatap tajam adiknya dan, "Apa maksudmu? Jangan bicara yang bertele-tele."
"Mendengar bentuk protesnya Kakak tadi ke Papa, sepertinya aku mengetahui satu hal, bahwa yang melakukan tindakan tidak bermoral ini kakakku sendiri."
"Satu hal juga yang perlu Kakak ingat! Aku diam bukan berarti aku bodoh, Kak. Aku diam karena aku tidak memiliki bukti apa pun yang menunjukkan bahwa aku difitnah. Mulai sekarang belajarlah untuk berubah. Meskipun terlambat, aku berharap Kakak bisa melihat orang yang tulus sama Kakak. Ingat Kak! Penyesalan selalu datang di akhir dan kesempatan kedua tidak dimiliki oleh semua orang. Sebelum kamu menyadari siapa yang tulus, sebaiknya buka hatimu. Sebelum yang tulus pergi dan datang padaku."
"Omong kosong!" Jeff berkata dengan marah dan berlalu dari sana.
Tinggalah kini ia dengan Rindu. Wanita itu nampak sendu dengan mata yang sembab. Jeon menebak bahwa, wanita itu semalam melanjutkan tangisnya di kamar. Rindu sejak tadi nampak menghindari kontak mata dengan Jeon.
"Aku memang nggak di sini lagi, tapi kalau kamu butuh teman untuk cerita kita bisa ketemu kok. Jangan sungkan untuk hubungi aku meskipun melalui chat. Aku pamit, ya jaga diri baik-baik di sini."
__ADS_1
Jeon tak memberi kesempatan Rindu untuk menjawab ataupun menatapnya untuk sesaat. Pria itu langsung pergi dari ruang keluarga setelah mengucapkan beberapa pesan tadi.
Jeon tak tahu apa yang membuatnya sesedih ini, ia menerima keputusan dari ayahnya yang mengharuskan ia pergi dari rumah. Apakah hanya Rindu yang membuatnya berat meningalkan rumah ini? Tapi kenapa? Apakah rasa kasihan sebesar ini? Hanya kasihan?
Jeon memaksa dirinya untuk cepat mengemasi pakaian. Tak semua yang ia bawa, hanya beberapa saja. Hal ini ia lakukan agar punya alasan untuk ke sini hanya untuk menukar atau mengganti pakaian.
"Je."
"Iya, Ma? Kenapa? Mama sedih aku pergi? Mama kelihatan habis nangis." Jeon menghentikan aktivitasnya dan menghampiri sang Ibu.
"Kamu mau ninggalin Mama gimana Mama nggak sedih." Bu Merlin mulai terisak kembali.
Jeon memeluk ibunya dengan erat. Meski bukan anak dan Ibu kandung, kedekatan mereka sudah seperti hubungan kandung. Bahkan jika dibandingkan dengan Jeff, Jeon lebih dekat dengan Bu Merlin.
"Aku nggak ninggalin Mama. Aku cuman pindah tidur, Ma. Mama tinggal telpon aku kalau mau ketemu aku, biar aku yang datang ke sini. Kita dipisahkan jarak doang, Ma. Aku juga berat kalau kayak gini."
Bu Merlin menghapus air matanya, "Kamu nggak pernah jauh dari Mama dalam waktu yang lama. Jaga kesehatan, jaga pola makan, jangan sampai telat makannya. Jangan sampai sakit."
Jeon tertawa kecil meski matanya berkaca-kaca. Ternyata ibunya tak berubah, ia masih dianggap anak kecil olehnya.
"Aku akan sehat buat Mama. Aku minta maaf, aku sudah buat Mama sedih. Pasti Mama kecewa sama apa yang sudah terjadi. Mama percaya sama aku? Mama percaya kalau aku bilang aku nggak melakukan apa-apa sama Rindu?"
__ADS_1
"Iya. Mama akan selalu percaya apa yang kamu bilang. Mama akan selalu percaya sama anak-anak Mama. Hanya Mama yang mengerti kalian. Mama dan Papa melakukan ini bukan berarti nggak sayang sama kamu, Nak. Kami ingin semua baik-baik saja. Berjanjilah sama Mama jangan berpikir kami tak lagi sayang kamu. Sayang kami masih utuh."
Bu Merlin kembali memeluk sang anak sebelum anaknya benar-benar meninggalkan rumah.