
Bu Merlin dan Jeon masih berada di balik pintu. Raut wajah yang semula memancarkan ketegasan, keberanian, dan kekecewaan kini berubah drastis menjadi sendu ketika pintu baru saja terkunci. Air muka yang diperlihatkan Jeon menunjukkan bahwa ia kini kembali membuka luka lama.
"Kenapa dia harus ke sini, Ma?" Jeon meluruhkan tubuhnya ke lantai. Kepalanya semakin menunduk menyembunyikan air mata yang sebenarnya tak ingin ia keluarkan untuk wanita yang bahkan tak pernah ia inginkan untuk melihat batang hidungnya.
"Semua akan baik-baik saja, Nak." Bu Merlin membawa kepala sang anak untuk ia letakkan di pundaknya, sama halnya seperti yang sering dilakukan anak asuhnya itu ketika dirinya lelah dengan keadaan.
Bu Merlin tak pernah menyangka bahwa Jeon akan bereaksi seperti ini. Pembawaannya yang selalu lembut dan ramah pada semua orang membuat Bu Merlin tak tahu sisi lain darinya.
"Dari kapan dia ke sini, Ma? Ini bukan pertama kali dia ke sini, kan? Kenapa Mama nggak jujur?" Jeon bertanya seraya melepaskan diri dari dekapan ibunya.
"Memang hampir seminggu ini dia ke sini terus. Mama nggak mau kamu ketemu dia, Mama takut kamu ninggalin Mama. Anak Mama cuman dua, dan sialnya yang mengerti Mama malah kamu, anak yang lahir bukan dari rahim Mama. Mama takut kamu diambil sama dia. Mama takut kamu ikut dia." Ketakutan yang di jelaskan bu Merlin tak hanya dari untaian kata, tapi juga pergerakan tangannya yang mengusap lembut wajah sang anak dengan tatapan dalamnya.
Jeon meraih tangan ibunya. Menggengamnya dengan erat dan, "Bagaimana bisa Mama berpikir sejauh itu? Aku mana bisa ninggalin kalian? Nggak ada yang bakal merubah aku, Ma."
Kedua manusia berbeda generasi itu akhirnya saling menguatkan satu sama lain.
Sejak hari itu, hari-hari Jeon sedikit mengalami perubahan. Ia lebih banyak diam dan melamun, harinya sudah tak seceria dulu. Padahal sudah beberapa hari berlalu, dan wanita itu tidak lagi muncul dalam kehidupanya ataupun menemui Ibu asuhnya. Tapi tetap saja, ia sudah melihat bagaimana rupa dan wujud Ibu kandungnya. Dan rupanya, itu membuat kesehariannya terganggu.
"Ada apa, Je? Kenapa kamu akhir-akhir ini kelihatan beda? Apa ada masalah di rumah?" Sabtu malam itu Jeon dan Rindu yang hingga kini statusnya belum jelas sedang menghabiskan malam minggu di sebuah cafe langganan mereka.
"Nggak ada masalah apa-apa kok.
__ADS_1
Aku cuman mikirin hubungan kita aja."
Rindu tersedak minumannya. Sudah lama Jeon tak menanyakan status mereka. Dan sekarang tiba-tiba ia seakan menagih apa yang pernah ia pertanyakan.
Jawaban Rindu selalu sama seperti yang sudah-sudah. Ia selalu ingin memperpanjang waktu untuk menyendiri, meskipun ia sebenarnya juga merasa nyaman saat bersama Jeon, ia merasa ada sedikit hal yang mengganjalnya entah apa penyebabnya.
Mendengar jawaban Rindu yang selalu sama membuat Jeon lebih murung lagi. Hidupnya seakan tidak ada gairah dan semangat. Bahkan detik ini ia mulai berpikir apa tujuannya hingga kini ia hidup.
Kehidupan baginya adalah kekejaman yang tiada akhir. Entah itu persoalan orang tua dan percintaan selalu saja mendominasi dalam kehidupannya sejak dulu.
Pukul 21.00 mereka memutuskan untuk pulang. Kini mereka sedang berdiri di depan gerbang rumah Rindu. Keduanya seakan tak mau berpisah, hal itu terlihat dari keduanya yang cukup lama berdiri di sana seraya bertukar pandangan.
"Sudah malam, masuk sana!" Jeon menunjuk rumah Rindu dengan dagunya.
"Kamu kembali?"
"Aku melupakan sesuatu."
Rindu mengernyit, "Apa?"
Jeon menjawab pertanyaan wanita itu dengan satu kali kecupan di bibirnya.
__ADS_1
"Aku melupakan ini,"Jawabnya dengan senyuman nakal.
Sedatik kemudian, bibir mereka kembali beradu di bawah langit yang bertaburan bintang. Entah kenapa cuaca terasa cerah malam ini, secerah kedua sejoli yang menjalin hubungan entah apa menyebutnya. Hubungan tanpa status? Mungkin tiga kata itu lebih tepat disematkan untuk mereka.
Seperti biasa, pergulatan yang akhir-akhir ini mereka tinggalkan tetap menimbulkan sensasi panas yang terasa bergejolak. Selalu terdengar decakan dari mulut keduanya yang membuat hasrat tertimbun mereka muncul tanpa diminta.
Jeon melepas pagutan mereka saat ia merasa Rindu mencapai puncak hasrat yang tak bisa ditahan. Muncul pertanyaan dari pandangan wanita itu saat pagutan sudah benar-benar terlepas dan kini menyisakan mereka yang adu tatap dalam nafas cepat.
"Aku nggak mau merusak kamu lebih dari ini. Masuklah, selamat istirahat." Jeon mengacak pelan rambut wanita itu lalu pergi dari sana.
Rindu meraba bibirnya seakan itu adalah pergulatan pertama. Bibirnya tiba-tiba melengkung ke atas dan wajahnya terasa memerah. Tak mau berlama-lama berada di luar dan membayangkan hal yang tidak-tidak, ia membuka pagar untuk masuk rumah. Sekali lagi, ada tangan yang kembali mencekal pergelangan tangannya.
"Ada yang ketinggalan la...." ujaran Rindu terhenti karena tangan yang mencekal tangannya itu ternyata bukan tangan Jeon.
"kamu Pasti pacarnya Jeon, ya? Perkenalkan saya Mita. Ibu kandung Jeon."
Kedua wanita yang baru saja bersua itu duduk di taman yang tak jauh dari rumah Rindu. Mereka duduk berdampingan di sebuah bangku panjang yang langsung menghadap jalanan. Bu Mita sedang mendongengkan kisah hidupnya 26 tahun yang lalu. Beliau menceritakan semuanya dengan rinci tanpa ada yang ditutup-tutupi, beliau melakukan ini dengan harapan agar Rindu mengerti keadaannya dan membantunya untuk berdamai dengan anaknya.
"Kita sama-sama perempuan, pasti kamu juga akan mengerti bagaimana perasaan saya. Meskipun kamu belum punya anak, saya yakin kamu akan paham dengan perasaan saya. Saya bingung mau minta bantuan siapa lagi. Bu Merlin tidak bersedia untuk membantu saya. Padahal saya tidak pernah berniat mengambil Jeon darinya. Saya hanya ingin bertemu, saya ingin mendapatkan maaf dari anak saya sendiri. Saya ingin bisa bertemu kapan pun seperti ibu dan anak pada umumnya. Saya tidak minta Jeon untuk tinggal di rumah saya. Saya yakin kamu bisa bujuk dia membuka hatinya untuk saya."
"Kenapa Ibu baru menemuinya sekarang? Ibu tahu di mana anak ibu, tapi harus menunggu 26 tahun untuk bertemu?"
__ADS_1
"Setelah saya bercerai dengan suami saya. Kehidupan saya ternyata tidaklah mudah. Saya harus berjuang dengan susah payah dan berdarah-darah hanya untuk menyambung kehidupan saya. Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan suami saya yang sekarang. Tapi sayangnya, kami harus pindah dari negara ini karena pekerjaan. Saya sebagai istri hanya bisa mengikuti ke mana pun suami saya pergi, kan? Kami tinggal di sana dan beberapa bulan yang lalu, suami saya meninggal dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke sini. Ingin bertemu dengan anak saya, tapi ternyata kerinduan saya tidak langsung bisa terbalaskan. Kamu mau bantu saya, kan?