
Pak Jo dan Bu Merlin saling tukar pandang ketika Ibu Rindu datang sendirian dengan mata yang terlihat sembab. Meski Pak Jo merasa tak enak dengan kedatangan Ibu Rindu yang mendadak dan sendirian, beliau menyembunyikan perasaannya itu dengan bersikap seolah tak terjadi apa-apa, padahal dalam hati beliau khawatir jika wanita itu ke rumahnya karena sudah tahu apa yang terjadi.
"Saya tidak mau basa-basi, ya Pak, Bu. Kedatangan saya kemari untuk membawa Rindu pulang."
"Tunggu, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sekali?"
"Jangan kira saya tidak tahu apa-apa. Bangkai disembunyikan serapat apa pun pasti akan tercium juga."
Bu Merlin dan Pak Jo lagi-lagi saling tatap. Hal ini sudah mereka duga beberapa hari yang lalu, tapi sayangnya dugaan itu tidak membuahkan jawaban ataupun penjelasan untuk momen ini.
Merasa tidak sabar dengan kedua besannya, Ibu Rindu berteriak memanggil anaknya. Biarlah dikata tidak sopan, tidak ada ibu yang tidak baik-baik saja atau tidak ada ibu yang tidak marah jika anaknya diperlakukan tidak baik oleh suaminya sendiri.
"Bu kita bisa bicarakan ini baik-baik. Mari kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Agar semua juga bisa selesai dengan baik."
"Tidak ada! Tidak ada hal baik yang dihasilkan dari perbuatan yang buruk, kembalikan Rindu pada saya."
Wanita itu hendak berteriak sekali lagi, namun tidak jadi beliau lakukan karena terlihat anaknya yang berjalan menghampirinya.
"Mama ke sini nggak bilang-bilang. Sendirian aja? Papa mana?" Rindu celingukan ke kanan dan ke kiri.
"Ikut Mama. Kalau kamu mau ketemu sama Papa, Papa lagi ada di rumah sakit. Tadi niatnya Papa ke rumah sakit mau check up, tapi malah mendapat serangan jantung mendadak karena ulah suamimu. Mama tunggu sekarang, kemasi semua pakaianmu, kita pulang."
Alih-alih mendengar ucapan ibunya, Rindu justru mematung di tempat. Seakan banyak pertanyaan yang berjejal di kepalanya, ia tidak mampu mengeluarkan apa-apa selain air mata.
"Rindu kamu dengar Mama apa nggak? Kembali ke dalam dan kemasi semua pakaianmu kita ke rumah sakit sekarang. Jangan dulu mempertanyakan banyak hal, lakukan apa yang Mama perintahkan!"
__ADS_1
"Tunggu dulu, Bu. Kita nggak bisa menyelesaikan ini dengan kepala panas seperti ini. Kita akan ke rumah sakit sama-sama sekarang, tapi jangan bawa Rindu pulang dulu. Kita singkirkan itu dulu, kita Fokus sama kesehatan Pak..."
"Sudah cukup, saya tidak perlu kalimat apa pun dari kalian. Saya kira persahabatan suami saya dengan kalian itu bukan sekedar sahabat. Saya kira hubungan kita ini sudah menjadi keluarga, tapi lihat apa yang kalian lakukan. Sejauh ini kalian sakiti anak saya! Apa salah anak saya sampai kalian sejahat ini?"
Semua nampak diam, Rindu pun tak mengeluarkan kata-katanya, ia hanya merangkul ibunya agar tidak terbawa emosi lebih jauh.
"Ma udah, Ma. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku mau ketemu Papa."
Setelah mendengar kalimat dari putrinya, wanita itu menarik tangan anaknya untuk ikut dengannya. Rindu tidak sempat untuk berpamitan pada kedua mertuanya. Sang Ibu terlalu cepat membawanya pergi.
Bu Merlin khawatir dengan keadaan besannya itu. Jelas beliau merasa bersalah atas apa pun yang terjadi. Demi ketenangan istrinya, akhirnya Pak Jo membawa wanita itu ke rumah sakit.
***
Para Kakak Rindu sudah bersiap akan memberi pukulan pada adik iparnya itu, untunglah para istrinya itu berhasil memenangkan mereka. Tak berselang lama, Rindu dan ibunya datang dengan tergopoh-gopoh.
"Kak, gimana Papa? Papa baik-baik aja, kan?"
"Papa kritis. Suruh suamimu ini pergi dari sini, Rindu. Kita harus bicara, hanya dengan sesama keluarga." Kakak pertama Rindu bicara dengan pelan, namun penuh penekanan.
Rindu lalu membawa suaminya itu menyingkir ke sudut yang sedikit jauh dari keluarganya.
"Sudah cukup untuk kekacauan hari ini, Jeff. Aku mohon untuk kali ini kamu pulang. Kamu dengar, kan apa kata kakakku tadi? Kamu juga pasti tahu keadaan Papa."
"Rin."
__ADS_1
"Aku bilang cukup, Jeff! Sudah, aku nggak mau debat lagi sama kamu. Aku mau fokus sama keluargaku. Dan satu lagi, Jeff. Berhubung keluargaku sudah tahu semuanya, tidak perlu lagi aku menyembunyikan apa pun dari mereka. Kamu juga pasti ingat apa yang sudah pernah Papa katakan, kalau Papa sudah menyerahkan semua keputusan sama aku dan mulai hari ini, aku putuskan aku ingin pisan sama kamu. Kalau kamu nggak mau urus, aku yang urus. Aku, kamu hanyalah orang asing. Seperti yang selalu kamu katakan saat kita baru menikah." Rindu segera berlalu dari sana. Tidak ada air mata yang keluar untuk urusan rumah tangganya, pikirannya benar-benar hanya fokus pada sang Ayah.
Pisah? Ini adalah satu kata yang ingin sekali Jeff dengar dari beberapa bulan yang lalu. Di detik ini, akhirnya ia mendengar kata itu, tapi sayangnya perasaan yang lain justru muncul ketika keinginannya sudah terkabul.
Jeff masih terdiam ketika kedua orang tuanya baru sampai. Pria itu menunduk menatap lantai.
"Jeff, gimana keadaan Papa Rindu?"
"Kritis. Semua udah hancur, Pa. Lebih baik kita pulang aja. Semuanya sudah hancur dan aku sendiri yang menghancurkannya."
"Sepertinya memang tidak baik jika kita memaksakan untuk bertemu dengan mereka, Ma. Lebih baik kita pulang dulu aja. Dan untuk kamu Jeff, kamu masih punya hutang penjelasan ke Papa."
Pak Jo membalikan tubuhnya beserta menggandeng istrinya untuk pergi dari bangunan serba putih itu.
Kembali lagi pada sebuah keluarga yang kini sedang duduk di depan ruangan ICU. Mereka dengan seksama mendengar cerita Rindu. Tak ada lagi hal yang ia sembunyikan. Hari ini Rindu seperti merasa menjadi dirinya sendiri, rasanya sudah sangat lama ia tidak menceritakan apa pun yang terjadi pada dirinya pada keluarganya.
Marah dan kecewa adalah reaksi pertama yang ditunjukkan oleh keluarga wanita itu. Tidak bisa dipungkiri, bahwa Rindu yang menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga itu mendapatkan kasih sayang yang tumpah ruah justru disakiti oleh suaminya sendiri.
"Udah, nggak usah nangis! Sekarang kamu udah kembali ke kita, nggak usah disesali, nggak usah ditangisi apa yang sudah terjadi. Kamu sudah hebat karena kamu berusaha untuk mempertahankan rumah tangga yang tidak mudah dan menyakitkan. Perjuangan kamu sangat berat dan sekarang, Tuhan sudah mengatakan bahwa kamu harus berhenti untuk berjuang. Kasihan Adik kesayangan Kakak sampai kurus begini badannya. Udah, ya jangan dipikirkan apa yang yang membuat kamu sakit hati. Kita fokus aja sama Papa, kita fokus sama keluarga kita."
"Aku gagal, Kak."
"Siapa yang bilang kamu gagal? Dengar, ya Rin. Nggak ada orang yang mau diposisi kamu. Dengan kamu memutuskan untuk berpisah sama suami kamu, itu bukan berarti kamu gagal. Kalau kamu terus bertahan sama dia, kamu akan menyakiti diri kamu sendiri. Kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri. Tuhan sayang loh sama kita. Masa kita nggak sayang sama diri kita sendiri. Tolong, ya Dik, udah sedihnya. Fokus sama Papa aja yuk! Sekarang senyumnya mana? Kakak udah lama banget nggak lihat senyum kamu. Ternyata memang udah lama kita nggak ketemu, ya."
Anak sulung dari keluarga Rindu itu pun berhasil membuat suasana sedikit cair. Hari itu adalah hari pertama mereka berkumpul setelah Rindu menikah. Dan hari yang menyedihkan bagi keluarga Rindu itu pun sedikit mencair karena Kakak pertama Rindu yang sedikit mengalihkan suasana agar kesedihan tidak terlalu berlarut-larut.
__ADS_1