Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
23. Baku Hantam


__ADS_3

"Kamu ini ngomong apa, Jeff? Sekarang sudah malam, kalian kembali ke kamar kalian masing-masing. Biar Papa yang cari jalan keluarnya. Sudah Jeon, berdiri! Kembali ke kamar."


Dengan berat hati mereka bertiga membubarkan diri ke kamar masing-masing. Namun tidak untuk Pak Jo, pria itu masih berpikir tindakan apa yang beliau ambil untuk menyelesaikan masalah ini.


Biar bagaimanapun, beliau harus mendengarkan dari kedua belah pihak, antara Rindu, Jeon, dan juga Jeff. Setelah duduk dengan memijat kepalanya cukup lama di ruang tengah, pria beruban yang baru saja tiba di rumah beranjak menuju kamar.


"Mama belum tidur?"


"Bagaimana Mama bisa tidur kalau ada masalah sebesar ini? Mama ini juga cape dari perjalanan jauh, tapi pulang-pulang malah disuguhi seperti ini. Mama pengen istirahat, tapi nggak bisa. Harus kita apakan anak-anak ini, Pa?"


"Papa akan coba minta rekaman CCTV di hotel."


"Papa jangan konyol, yang bertanggung jawab sama hotel itu juga pasti nggak akan mengizinkan kita dengan mudah melihat rekaman itu, Pa."


"Setidaknya kalau kita nggak bisa lihat di dalam hotel, kita bisa lihat di halamanya, kan? Tadi Jeon bilang belum sempat masuk hotel, tapi dia dibuat nggak sadar sama seseorang. Kita bisa minta rekaman itu di saat itu. Untuk soal itu nanti biar ada yang ngurus lah. Kamu tenang, udah sekarang tidur!"


Di sudut rumah lain, lebih tepatnya di lantai dua. Tiga sosok yang masih menjadi pemeran utama di drama keluarga Pak Jo nyatanya belum usai. Jeon dan Jeff masih bersitegang di bawah tatapan Rindu yang semakin sendu.


"Telahir hina, tetap akan jadi hina. Mau siapa pun yang merawat dan sebaik apa pun di didik. Hasilnya akan memalukan, sama seperti saat dilahirkan."


"Kak, bisakah Kakak diam? Aku sudah jelaskan duduk perkaranya, kenapa Kakak masih saja membuat situasi semakin panas? Papa saja sudah menyudahi pembicaraan kita hari ini. Kenapa Kakak masih berlanjut?" Jeon yang terbawa emosi merespon amarah ucapan.


"Oh itu jelas. Jelas sampai kapan pun akan aku lanjutkan pembicaraan ini, karena kau sudah benar-benar bermain api denganku."

__ADS_1


"Bermain api? Yang bermain api itu Kakak. kalaupun Aku melakukan hubungan itu dengan Rindu, seharusnya Kakak tidak mempermasalahkan itu karena Kakak juga..." Tersadar ada Rindu di dekatnya, Jeon seketika membungkam mulutnya rapat-rapat.


"Juga apa, Je?" Rindu menuntut penjelasan dari adik iparnya. Wanita itu menatap bergantian kedua pria yang berada di depannya.


"Ditanya tuh, kenapa nggak dilanjutkan ucapannya tadi? Simpan saja kalimat pembelaanmu itu untuk besok. Kita lihat saja mulut siapa yang akan dipercaya nanti. Yang aku tahu, mulut dari seorang sampah sepertimu tidak akan pernah didengar oleh siapa pun. Kau tahu sampah?  Itulah kata yang tepat untuk kalian saat ini. Aku juga punya keyakinan kalau Papa sama Mama juga menilai kalian sampah." Nada bicara dan ekspresi wajah Jeff sungguh membuat Jeon hilang kendali.


Jeon yang biasa pandai mengendalikan emosi, kini nampak tak bisa ia kendalikan. Syaiton yang berada di sekeliling mereka nampak sedang berlomba-lomba untuk menambah kemurkaan di hati dan kepala Jeon.


Kedua tangan pria itu mengepal setelah beberapa saat menatap Jeff dengan amarah yang sudah berkobar. Dan sedetik kemudian


Bugh! Bugh!


Tak tanggung-tanggung. Dua kali pukulan yang tiba-tiba cukup membuat Jeff tersungkur ke lantai. Entah setan mana yang berhasil merasuk ke dalam tubuh Jeon. Melihat Jeff yang sudah tersungkur ke lantai malah membuat Jeon semakin kesetanan. Pria itu menambah bertubi-tubi pukulan di wajah Jeff.


"Jeon stop Jeon, kamu menyakitinya!" Rindu berusaha menghentikan, namun suaranya bagaikan angin lalu di telinga Jeon.


Pukulan yang diberikan Jeon tidak berhenti hingga sebuah suara dari bawah yang menggema akhirnya menghentikan langkah tangan Jeon yang sudah berada di udara. Dari nafasnya pria itu masih terlihat emosi. Namun, emosinya itu masih kalah dengan rasa hormat yang diberikan untuk kedua orang tuanya.


"Apa-apaan kalian ini? Puluhan tahun Papa membesarkan kalian supaya kalian menjadi anak baik, bukan anak berandalan seperti ini. Jeon sejak kapan kamu menjadi bertingkah seperti preman seperti ini? Papa berpikir kalau Papa ini mengerti karakter anak papa masing-masing, tapi nyatanya Papa belum mengerti sepenuhnya." Pak Jo berhenti sejenak, beliau berpikir keras, ada apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarganya?


"Pa..."


"Jangan Jelaskan apa pun! Masuk kamar!"

__ADS_1


Jeon berjalan dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Tak ada yang tahu bahwa air matanya kembali luruh ketika ia berbalik badan dan masuk kamar.


"Nggak apa-apa, Ma. Luka ini nggak ada bandingannya dengan luka ku yang berada di dalam sana. Aku bisa obati sendiri, Mama istirahat aja." Jeff menenangkan sang Ibu yang nampak mengkhawatirkan lukanya.


"Ayo Ma, kita kembali ke kamar! Jeff bukan anak kecil yang harus kita obati lukanya, dia bisa mengobati lukanya sendiri apalagi dia juga punya istri."


"Tapi..."


"Ke kamar, Ma." Pak Jo menggeret istrinya untuk ikut dengannya.


Jeff pun ikut berlalu dari tempat itu dan berjalan menuju kamar yang diikuti oleh Rindu. Wanita itu sekarang mengambil kotak obat dan


"Duduklah di sini! Akan aku obati lukanya."


Jeff menyinggung senyum miring, "Aku bisa mengobati lukaku sendiri tanpa bantuanmu. Aku tidak sudi disentuh oleh wanita kotor sepertimu."


"Aku? Wanita kotor? Bahkan saat aku dipergoki sama Jeon tadi, aku hampir melupakan bahwa kamu juga pernah tidur di hotel yang sama dengan Ratu. Aku memang tidak pernah memergoki kamu tidur bersamanya, tapi melihat kamu setiap malam keluar mengendap-endap, apakah kamu yakin kamu masih suci, Mas? Kamu yakin tidak melakukan apa pun sama Ratu?"


"Jangan mengalihkan perhatian! Aku sedang membahas apa yang kau lakukan dengan adik angkatku, bukan yang lain!"


"Iya, aku tahu, aku paham kamu membahas itu. Tapi kenapa kamu bertingkah seolah kamu paling suci dan  merasa dikhianati. Kamu sudah menghianati aku dari awal pernikahan kita. Apakah aku angkat bicara dengan orang tuamu? Semakin ke sini aku menjadi mendengarkan apa kata Jeon. Aku percaya bahwa aku sama Jeon dijebak. Memang benar apa yang kamu katakan tadi bahwa tidak ada untungnya menjebak aku sama Jeon.  Tapi jangan lupa, kalau aku difitnah seperti ini, ada satu orang yang akan merasa diuntungkan."


Jeff mengeratkan giginya, ia merasa Rindu terlalu jauh dan lancang saat berbicara dengannya.

__ADS_1


"Apakah kau berpikir bahwa aku yang merencanakan ini?" Jeff bertanya seraya mencengkram kedua pipi Rindu.


__ADS_2