Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
14. Ya, Sayang?


__ADS_3

Di jam makan malam, perban di kening Rindu tentu saja jadi pertanyaan kedua mertuanya. Mereka menawarkan hal yang sama seperti Jeon tadi siang.


"Jangan berlebihan, Pa. Itu hanya luka kecil. Itulah jawaban Mbak Rindu ketika aku tawarkan hal yang sama."


Rindu diam, ia merasakan ketidakterimaan dari Jeon atas sikapnya yang mungkin saja berlebihan ketika bermaksud untuk menjaga jarak agar tak terlalu dekat dan menimbulkan masalah atau salah paham.


Suasana makan malam kembali hening. Mereka tenggelam dalam makanan masing-masing dan hingga entah di menit ke berapa, Pak Jo menyodorkan tiket bulan madu pada mereka.


"Bulan madu? Pa, kita sudah menikah satu bulan, bukan pengantin baru lagi. Kenapa Papa beri ini?" Itu adalah bentuk protes dari Jeff saat mengambil tiket yang ayahnya sodorkan di depannya.


"Mama mau punya cucu cepat, Papa juga mau junior Lim segera menghiasi rumah ini." Pak Jo menjawab dengan tegas dan menatap keduanya bergantian.


Sebenarnya Pak Jo hanya ingin membuktikan apakah kata-kata dari anaknya yang ia lontarkan pada Ratu tadi benar adanya atau tidak.


Mendengar kata junior membuat Rindu seketika tersedak minumannya. Bagaimana bisa ia memberikan keturunan jika ia saja tidak pernah di sentuh oleh suaminya. Itu adalah hal yang mustahil terjadi jika Jeff tidak bisa merubah pendiriannya.


Tidak ada lagi penawaran ataupun penolakan dari Jeff, ia diam seakan ia menerima saja hadiah dan sang Ayah. Padahal dalam hati ia sedang mengumpat sekasar-kasarnya karena dipaksa satu tempat di tempat yang asing.


Dan hari yang sama sekali tidak ditunggu oleh Jeff akhirnya tiba. Entah hanya Jeff yang merasa waktu berjalan begitu cepat, atau memang waktu sejahat itu berlalu dengan begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk Jeff berpikir bagaimana cara ia habiskan waktu selama di Bali.


Pria itu sudah memberitahu kekasihnya untuk menyusul ke sana beberapa hari lalu, namun bukan kabar baik yang ia terima, justru penolakan tanpa pikir panjang adalah jawaban dari Ratu yang ia dengar.


"Mana baju yang kau bawa? Masukkan sini, jangan pakai koper sendiri-sendiri, nggak lucu kalau ditanya Mama, Papa."


Rindu tanpa banyak berucap mengambil pakaian yang ia bawa dan meletakannya ke dalam koper yang sama dengan suaminya. Saat semuanya sudah selesai, ponsel Jeff yang beberapa hari terakhir sunyi, mendadak berdering. Dengan segera ia menerima panggilan itu setelah ia membaca nama yang ditampilkan di layar.

__ADS_1


"Ya, Sayang? Katakan padaku, apa kamu berubah pikiran?"


Miris, itulah yang dirasakan Rindu. Betapa ia tidak berharga di mata suaminya, ia bagaikan butiran debu yang tak terlihat, jangankan terlihat, diakui keberadaannya saja tidak. Belum ada rasa cinta dalam hatinya, tapi tetap saja status suami istri itu menyakitkan bagi Rindu jika suami yang seharusnya belajar untuk memberikan cinta dan rasa yang lainnya, malah memberikan hak yang seharusnya miliknya menjadi milik yang lain.


"Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Aku tunggu di sana. Jangan malam-malam, ya." Tak lupa Jeff memberikan kecupan singkat melalui sambungan telepon itu.


"Keluarkan semua bajuku, kamu saja yang pergi dengan Ratu mu itu. Aku nggak mau." Rindu yang sempat meletakkan tali tasnya di pundak seketika ia lepas dan kembali ia letakkan di ranjang.


"Iya, tentu saja aku akan pergi dan menghabiskan waktu dengan Ratu ku. Tapi kau harus ikut. Ka...."


"Aku nggak mau!"


"Nggak apa-apa kalau kau tidak mau, aku tinggal bilang ke orang tuamu, bahwa kau bermain api di belakangku. Kau masih ingat ini? Aku masih menyimpannya dengan rapi. Aku tahu ini hanya kesalahpahaman, tapi orang tuamu hanya akan tahu foto ini tanpa tahu proses dari bagaimana foto ini bisa diambil. Pilih mana? Ikut aku atau papamu masuk rumah sakit karena jantungnya kumat. Jangan lupa, kau juga punya hutang maaf pada Ratu atas insiden satu bulan lalu, di mana kau menyiramnya dengan jus. Bukankah aku sudah terlalu lama memberimu kesempatan dan waktu? Dan sekarang saatnya."


"Kau menantangku. Semakin lama kau semakin melunjak dan tidak tahu diri. Kau siapa berani mengatakan itu padaku?!" Jeff menarik rambut istrinya hingga wanita itu mendongak paksa dan menahan sakit di kulit kepalanya.


"Kau selalu lupa statusmu, kau selalu lupa dengan apa yang bisa aku lakukan," bisik Jeff di telinga Rindu.


Tang Jeff yang lainnya lalu meraba dan memberikan sentuhan yang membuat siapa pun wanita merasakan adrenalin yang lain. Di sepanjang leher jenjang Rindu, tak ada sudut mana pun yang tak terjamah oleh Jeff.


"Jangan sentuh aku!" Rindu menepis tangan Jeff yang berada di lehernya.


Dengan sigap, tangan Jeff berpindah di kedua pipi Rindu dan mencengkramnya. "Kalau kau tidak ingin aku sentuh, ikut denganku atau orang tuamu yang akan merasakan dampaknya. Kau selalu membuatku marah." Cengkraman di pipi wanita itu semakin kencang.


"Ini sakit, lepas!" Rindu berusaha melepas tangan Jeff di pipinya menggunakan kedua tangannya, namun tangan pria itu nampaknya lebih kuat dari tenaga Rindu.

__ADS_1


"KALAU SAKIT HARUSNYA KAU TIDAK PERLU BUAT AKU MARAH!" Jeff mengabulkan perminyakan Rindu untuk dilepas cengkramannya, namun bukan dengan cara yang lembut, pria itu menggunakan tenagannya sebagai pria yang kuat untuk mendorong Rindu hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


"Aku tunggu kau di mobil. Aku tidak mau terlambat. Sekali kau mengadu pada siapa pun, akan kubuat keluargamu yang menerima akibatnya karena sudah berani merencanakan perjodohan gila ini."


Jeff menggeret koper yang tak jauh darinya, sebelum ia benar-benar pergi dari kamar ia berucap, "Aku akan melakukan hal yang lebih dari ini jika kau tidak kunjung ke mobil dalam waktu dua menit. Tata kembali wajahmu dan pergi dari sini seakan tidak terjadi apa pun."


Brak!


Rindu tersentak karena bantingan pintu yang dilakukan Jeff. Tak tahan lagi, Rindu selalu tak tahan dengan kesedihannya ketika ia dalam keadaan sendirian. Hingga saat ini ia hanya pura-pura kuat dengan keadaan yang sedang ia jalani.


"Kapan aku keluar dari penderitaan ini, Tuhan!" Rindu tersengguk-sengguk dengan tangisannya.


Sementara di lantai bawah semua orang sudah menunggu keberangkatan mereka di hari sabtu pagi ini. Hingga Jeff selesai mempersiapkan barang-barangnya di mobil, Rindu tak kunjung turun juga.


"Jeff, Mama susul Rindu, ya."


"Nggak usah, Ma. Ini aku udah selesaiĀ  biar aku yang nyusul."


Jeff berlari kecil menuju kamarnya, belum benar-benar sampai di kamar, Rindu sudah nampak menutup pintu kamarnya.


"Bagaimana Tuan Putri? Kau sudah siap berangkat?" Jeff meneliti penampilan Rindu dari atas hingga bawah. "Kau tungu di sini!" Ia lalu berjalan masuk kamar kembali.


"Pakai kacamata ini! Jika ditanya ada apa dengan matamu dan kenapa matamu merah, katakan matamu sedang sakit." Rindu tanpa perlawanan dan dengan tanpa ekspresi menerima kacamata itu dan memakainya. Matanya memang nampak sembab dan merah.


Dan yang benar saja, memang begitu sampai di teras, Rindu ditanya oleh Ibu mertuanya perihal mata yang sembab dan merah. Dan jawaban yang dikeluarkan oleh Rindu sama seperti jawaban yang diminta oleh Jeff. Kedua mertuanya mengangguk paham meski ada kecurigaan, namun tidak dengan satu orang yang berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2