Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
60. Flashback


__ADS_3

Bu Mita semakin terisak. Mendengar untaian kata yang keluar dari mulut anaknya. Dadanya semakin terasa sesak saat melihat manik mata anak sulungnya yang seperti berapi-api dan memancarkan kekecewaan dan amarah dalam satu waktu.


"Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Anda. Silakan Anda meninggalkan rumah orang tua saya. Jangan pernah kembali ke sini dengan dalih apa pun. Saya tidak mau bertemu dengan Anda. Ini pertemuan terakhir kita."


Jeon menutup pintu setelah mengucapkan kalimat pengusiran itu. Bu Mita hanya bisa semakin tersedu dengan tertunduk lesu. Rasanya lebih sakit dari masa 26 tahun yang lalu. Tahun di mana beliau dengan amat sangat terpaksa melakukan pembuangan pada anaknya sendiri karena faktor keselamatan untuk anaknya. Beliau sadar pilihannya salah, tapi beliau saat itu hanya memikirkan cara tercepat saja.


°°°


Flasback 26 tahun yang lalu. 


Mita yang baru saja menikah dua bulan lalu menangis haru saat menatap benda kecil yang memunculkan garis dua berwarna merah. Tak ia sangka di usia pernikahan yang kedua bulan, ia diberi amanah dan kepercayaan yang begitu besar oleh sang Maha Kuasa.


Siang hari pukul 12.00 suaminya yang sebelumnya tidak pernah pulang saat jam makan siang tentu saja mengejutkan Mita dengan kepulangannya yang tiba-tiba. Bukan bermaksud apa-apa, suaminya itu selalu membawa bekal ketika berangkat bekerja.


"Mas, apa yang membuatmu pulang jam segini? Apa lagi nggak ada kerjaan?"


"Di kantor sedang pengurangan pegawai dan aku salah satunya. Ini uang pesangon dari perusahaan. Usahakan cukup untuk menutup kebutuhan kita sehari-hari sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi."


"Iya, aku akan berhemat mulai sekarang."


Melihat wajah suaminya yang putus asa, sedih, dan nampak terpukul dengan kondisinya membuat ia teringat bahwa ada kabar baik yang harus ia sampaikan. Ia berharap dengan kabar baik itu mudah-mudahan bisa mengembalikan mood suaminya menjadi lebih dan menjadi penyemangat untuk ia mencari kerja tentunya.

__ADS_1


"Mas, ada kabar pagi dibalik kesedihan ini. Aku hamil." Mita mengucapkan kalimat sederhana itu dengan sumringah.


Tentu saja respon dari suami Mita sama seperti yang ia harapkan, senyum sumringah juga menghias di bibirnya dengan sempurna.


"Kamu serius? Itu artinya aku harus mendapatkan pekerjaan lebih cepat."


Dan angan-angan itu nyatanya hanya benar-benar angan-angan saja. Hingga kandungan Mita berusia delapan bulan, pria itu tak kunjung kunjung dapat pekerjaan.


Selama delapan bulan itu ia hanya bekerja sebagai serabutan apa pun yang ia bisa kerjakan, akan ia kerjakan. Sementara Mita tak bisa membantu banyak karena kandungannya cukup lemah dan perlu perjuangan banyak untuk sampai di usia delapan bulan.


Perekonomian yang semula cukup dan menjadi serba kekurangan sedikit demi sedikit mengubah sikap suami Mita. Rasa sabar, cinta, dan kasih sayang yang dahulu menyelimuti sepasang suami istri itu pergi entah ke mana. Rasa stress dengan keadaan nampaknya berhasil membuat jiwa jahat suami Mita timbul saat itu. Pria itu berubah drastis menjadi tempramen dan tak ada lagi kehangatan.


"Aku nggak mau tahu, aku akan serahkan anak ini nanti pada salah satu temanku yang nggak punya anak. Aku nggak minta persetujuan darimu, ya, Mita. Rela nggak rela, mau nggak mau, ikhlas atau nggak. Nggak akan merubah apa yang aku mau."


"Memangnya kamu bisa kasih apa dia nanti? Apa kamu pikir keperluan anak itu tidak banyak? Bahkan usia kehamilan kamu yang sekarang sudah delapan bulan saja kamu punya apa untuk keperluan anakmu? Nggak punya apa-apa, kan?"


"Ya, itu harusnya kamu yang usaha dong, Mas. Usaha kamu kurang keras!"


"Terserah, aku berusaha semaksimal mungkin untuk mencari uang dan mendapatkan pekerjaan. Kalau kamu merasa usahaku kurang keras, itu karena kamu hanya duduk saja di rumah, tidak tahu rasanya menjadi aku. Aku sudah menerima DP dari temanku itu. Jadi mau tidak mau anak ini nanti harus jadi miliknya. Kita bisa membuat anak lagi kalau perekonomian kita sudah berubah."


"Astagfirullah, Mas. Kamu kenapa, sih? Kenapa kamu sama sekali nggak ada rasa kasih sayang sama anak?"

__ADS_1


"Aku sayang sama dia. Makanya aku kasih ke temen aku. Supaya masa depan dia terjamin. Temen aku itu kaya. Kehidupan dia akan terjamin kalau banyak uang, masa depan, cita-cita, kebutuhan dia, semuanya."


Tak bisa berkata lagi, Mita sudah kehilangan kata-kata untuk menanggapi suaminya. Ia melipir pergi dan menangisi nasibnya di kamar. Kepalanya terasa berat memikirkan cara untuk membebaskan dirinya sendiri dan anaknya dalam hal ini. Ia sungguh tak rela jika anaknya dijual pada orang lain. Siapa pun yang berada di posisi Mita pasti akan merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa ada seorang Ayah menjual anaknya demi masa depannya agar terjamin?


Hari demi hari dilalui Mita dengan rasa takut. Semakin hari semakin dekat dengan tanggal kelahiran anaknya. Itu artinya ia harus cepat memikirkan cara untuk membuat anaknya tidak bertemu dengan suaminya sendiri.


Terus-menerus memikirkan hal yang sama membuat Mita tak bisa tidur malam itu. Ditambah lagi dengan perut yang merasa tidak enak dan terasa sedikit nyeri sejak sore tadi. Semakin lama sakit di perutnya semakin tidak tertahankan. Ia curiga bahwa ia akan melahirkan sekarang.


Meskipun tanggal perkiraan kelahiran anaknya masih dua minggu lagi, Mita diam-diam pergi ke bidan untuk memeriksakan perutnya itu. Ia berjalan di tengah malam dengan menahan sakit di perutnya. Sekuat mungkin dan sebisanya, ia berjalan cepat agar segera sampai di rumah bidan yang sedikit jauh dari rumahnya.


Dengan segenggam sebuah gelang yang sempat ia buat sendiri akhirnya ia sampai di rumah bidan yang berada di desa itu. Ia menggedor pintu beberapa kali sebelum akhirnya benda persegi itu terbuka dari dalam dan menampilkan sosok perempuan yang berusia sekitar 38 tahunan.


Singkat cerita, tepat pukul 02.00 dini hari Mita berhasil melahirkan anaknya dengan selamat. Di saat itu juga Mita membawa pergi anaknya jauh dari desa itu. Ia membawa anak laki-lakinya itu ke dalam dekapan eratnya. Ia terus berjalan seraya menangisi bayi mungil yang baru saja ia lahirkan ke dunia.


Mita berhenti berjalan ketika ia merasakan benar-benar lelah dan tidak kuat lagi berjalan. Tak jauh dari tempatnya berdiri ia menemukan sebuah rumah paling besar di antara deretan rumah lainnya. Ia tidak mau berlama-lama meninggalkan rumah bidan itu. Ia harus kembali ke sana untuk melancarkan aksi berikutnya.


Akhirnya dengan isak tangis yang paling menyakitkan di dalam hidupnya, ia meletakkan anaknya di dalam tong sampah yang sudah tak ada isinya. Ia memasukkan anaknya ke dalam tong sampah itu bermaksud agar hanya pemilik rumah yang akan mengambilnya. Jika begitu, maka suatu hari nanti jika memungkinkan untuk bertemu dengan anaknya, ia bisa mencari dengan mudah. Tak lupa ia ambil salah satu kaos kakinya dan meletakkan sebuah gelang yang ia buat dengan kasih sayang di dalam bedong yang membungkus bayinya. Setelah itu ia pergi dari sana.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu harus mengatakan kepada ayahmu jika kamu sudah meninggal. Suatu hari nanti Ibu akan datang ke sini untuk menjemput kamu."


Dan rupanya apa yang direncanakan Mita dan tersusun rapi dalam pikirannya tak sejalan dengan kenyataan.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2