
Jika mendapat pertanyaan seperti itu Jeon sendiri juga bingung harus menjawab apa. Jeon ingin membawa Rindu pergi jauh bersamanya, tapi juga tidak semudah itu, kan? Jika ia meminta Rindu untuk bersabar, lebih kuat, dan bertahan, itu sama saja ia menyakiti Rindu dan memberikan peluang pada kakaknya untuk menyakitinya lebih jauh dan dalam.
"Kamu harus mengambil keputusan dengan tegas. Kalau kamu peduli sama orang-orang di sekitarmu terus, itu artinya kamu harus siap mengorbankan dirimu sendiri. Tapi jika kamu peduli dan sayang sama dirimu sendiri, pelan-pelan jelaskan ke mereka kalau menjadi kamu itu tidak mudah. Jelaskan pelan-pelan apa yang terjadi. Yang ngerti keadaan kamu itu kamu sendiri. Kamu harus bisa mencintai diri sendiri, baru setelah itu orang lain jangan dibalik. Aku yakin kok, kalau orang tua kita tahu keadaan yang sebenarnya, mereka nggak akan minta kamu untuk terus bertahan."
Tangis Rindu sudah tidak sehebat tadi, meskipun masih terdengar isakan dan sesenggukan. Entah sadar atau tidak wanita itu melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Jeon. Tindakan Rindu membuat pelukan Jeon semakin erat. Sepertinya mereka terbawa oleh suasana dan keadaan.
"Aku cape."
"Iya aku tahu, makanya istirahat dulu. Tempat ini punya kamu." Jeon semakin berani menunjukkan perasaannya dengan mengelus-elus pipi wanita itu.
***
Jika Rindu sedang menikmati kebersamaan meskipun dengan tangisan, berbeda dengan Jeff dan Ratu. Sepasang pengantin baru itu bertengkar hebat di hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri. Ini adalah pertama kalinya Jeff mengamuk dan marah besar pada Ratu.
"Kamu tuh kenapa sih iseng banget? Apa untungnya kamu kirimin ini sama Rindu? Mau bikin sakit hati yang kayak gimana? Tanpa kamu ngirim ini pun, dia udah sering sakit hati, Rat. Kamu nggak mikir kalau Rindu tahu ini, dia pasti akan sedih, nangis, nanti akan jadi pertanyaan juga untuk orang tuaku. Kamu nggak mikir sampai sana apa gimana, sih? Aku tuh heran sama kamu, dari dulu kalau apa-apa nggak pikir panjang."
Jeff mengomel seraya bersiap-siap akan pulang, tangannya terus menghubungi Rindu, namun teleponnya itu tidak terangkat sama sekali sejak tadi. Entah apa yang membuatnya begitu khawatir mengenai kondisi Rindu sekarang.
"Kok kamu jadi marah banget sama aku? Sejak kapan kamu peduli sama perasaan dia? Sejak kapan kamu peduli sama kesedihan dia? Mulai suka kamu sama dia? Mulai ada perasaan, iya?"
"Terserah mau bilang apa, yang jelas tindakan kamu ini salah dan aku wajar menyalahkannya."
"Kamu ke mana? Kamu nggak boleh pulang, kamu harus di sini nemenin aku," rengek Ratu ketika Jeff berjalan meninggalkan kamar.
Jeff tak menggubris ucapan istri barunya itu, ia terus melangkah menuju lantai bawah dengan tergesa-gesa. Langkahnya yang lebar membuat Ratu kesulitan untuk mengejar suaminya.
__ADS_1
"Kamu tidak pernah semarah ini sama aku dan kamu sekarang marah banget sama aku cuman gara-gara Rindu?"
Jeff berhenti melangkah. Untuk beberapa saat ia terdiam dengan nafas yang naik turun dengan cepat, seakan dirinya menahan amarah yang sebenarnya tak bisa ia tahan.
Jeff tak mengerti kenapa ia bisa semarah ini, selain ia ketakutan jika kedua orang tuanya tahu hal ini, ia juga memikirkan perasaan Rindu. Ia tak tahu sejak kapan ia peduli dan memikirkan perasaan wanita itu.
"Aku nggak akan semarah ini kalau kamu nggak keterlaluan, Rat. Gimana nasib kamu dan anak kita kalau orang tuaku tahu ini? Aku susah payah, berusaha dengan keras biar bisa nikahin kamu tanpa sepengetahuan orang rumah. Tapi kamu menghancurkannya dengan hitungan detik."
"Kenapa kamu semarah ini? Kamu bisa, kan menggunakan cara kamu yang biasanya. Kamu bisa ngancam Rindu biar nggak ngomong sama siapa-siapa. Selesai urusan."
"Udahlah, Rat. Aku cape, biarin aku pulang. Kamu istirahat sana!"
Jeff meninggalkan Ratu sendirian di rumah sebesar rumah utama Pak Jo. Selama berjalan menuju mobilnya Jeff menghubungi orang rumah, menanyakan apakah Rindu sudah pulang. Jawaban sang Ibu membuat Jeff khawatir, ia bingung ke mana perginya Rindu. Sejak tadi dihubungi tak terangkat, ia hanya takut jika wanita itu kenapa-napa seperti yang sudah-sudah. Wanita itu selalu bermasalah jika kemana-mana sendirian.
Jeff tak menyerah, ia akan terus menghubungi istrinya itu sampai terangkat.
Jeon pun masih tetap memberikan pundaknya meskipun ia sudah merasa sedikit kesal karena menahan Rindu sedikit lama. Sudah tidak ada isakan dari mulutnya, ia nampak lebih tenang dari yang tadi.
"Gimana? Udah tenang, kan perasaannya? Bisa kita pulang sekarang?"
Jeon menepuk pipi Rindu, ia merasa bahwa wanita itu ketiduran. Namun, tangannya tiba-tiba terasa basah oleh sesuatu. Ia melihat telapak tangannya dan,
"Astaga darah, Rindu kamu mimisan, Rin?"
"Kepalaku sakit, Je," ujar Rindu lemah.
__ADS_1
"Ya, Tuhan. Kita ke rumah sakit. Aku pesan taksi." Jeon mengambil ponsel dan mulai mencari sesuatu di sana.
"Pulang, pulang aja."
"Kamu mau pulang? Iya, kita pulang. Tolong tetap sadar, Rin."
Jeon lalu menghubungi supir rumah untuk menjemput mereka. Setelah itu dengan telaten pria itu membersihkan hidung Rindu yang sudah penuh dengan darah.
"Kalau kamu pusing harusnya kamu ngomong dong, kita bisa pulang. Jangan ditahan. Kalau kayak gini kamu buat aku khawatir."
"Kalau aku sakit kepala berat memang selalu seperti ini. Nggak usah khawatir, aku nggak apa-apa."
Rindu menatap lekat wajah yang berada di depannya, wajah yang sangat dekat dengannya. Wajah yang teduh, wajah yang begitu terlihat mengkhawatirkanya, dan wajah yang seharusnya ia lihat di wajah suaminya jika ia sakit seperti ini.
Tak berselang lama, supir keluarga Pak Jo tiba. Dengan setengah berlari, Jeon membawa Rindu ke dalam gendongannya.
"Kita pulang, Mas?" tanya si supir.
"Iya, ngebut, ya Pak. Mbak Rindu agak demam. Kamu kenapa sih, tiba-tiba demam gini? Tadi kayaknya enggak."
"Aku sudah bilang, jangan khawatirkan aku."
"Gimana nggak khawatir kalau tiba-tiba kamu sakit begini, tahu gitu tadi aku bawa pulang aja ke rumah."
"Kenapa kamu sekhawatir itu? Aku nggak apa-apa. Semua orang pernah merasakan demam."
__ADS_1
"Jelas aku khawatir. Aku sayang kamu, Rin," bisik Jeon di telinga wanita itu.