Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
44. Kecupan singkat


__ADS_3

Jeon terbawa suasana, dengan perlahan ia mengangkat tangannya dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipi mulus wanita itu. Dengan pelan ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga.


Rindu tersadar dan perlahan menatap pria di sampingnya sesaat lalu kembali menatap tanaman yang berada di depannya. Jika sedang berdua begini, ia menjadi teringat beberapa waktu yang lalu di mana ia menangis sesenggukan di bahunya. Ada rasa malu yang tiba-tiba sedikit muncul saat ia teringat hal itu.


"Rin."


"Hm?"


"Lihat bulan bintangnya gitu banget sampai yang ada di samping enggak diperhatiin. Kamu tahu nggak kamu itu bersinar lebih terang dari bulan di malam paling terang, dan kamu lebih bersinar dari matahari di hari yang tidak berawan."


Kalimat sederhana saja, namun membuat Rindu tiba-tiba merasakan panas di pipinya. Ia sedikit mengatupkan mulutnya menahan senyum yang tiba-tiba ingin mengembang. Entahlah, seumur hidup tidak pernah ia dikagumi oleh seorang pria secara terang-terangan. Bisa dibilang Jeon adalah pria pertama yang mendekatinya dan memberikan perhatian setulus itu.


"Mau ketawa, kan?"


Jeon yang merasa Rindu membutuhkan sebuah penghiburan berusaha untuk mencairkan suasana dengan memberikan sedikit gombalan. Namun, setelah melihat respon wanita itu yang nampak malu-malu, ia pun mengubah strateginya dengan tindakan. Dengan refleks dan tiba-tiba Jeon menggelitik perut wanita itu hingga ia terpingkal-pingkal.


"Udah, Je. Udah geli, ih." Rindu berucap di sela tawanya.


Dan malam itu adalah menjadi tawa yang lepas pertama bagi Rindu setelah sekian lama terpuruk. Dan yang memembuat tawa itu hadir ternyata bukan suaminya sendiri, justru orang lain.


Rindu dan Jeon masih tertawa ketika Jeff melewati lorong yang berada di dekat taman. Ia berhenti di sudut tempat itu karena mendengar suara yang familiar, namun tawanya tidak pernah ia dengar.


Jeff yang datang karena merasa ingin bertemu dengan istri pertamanya harus menelan pil pahit, karena melihat kebersamaan istri dan juga adiknya yang nampak tidak sama sekali memikirkan perasaannya. Tentu saja melihat kebersamaan itu ia kesal karena ia dan Rindu masih menjadi suami istri, namun adiknya itu seperti bertingkah kejauhan.

__ADS_1


"Khem."


Aktivitas Rindu dan Jeon seketika terhenti dan menoleh ke arah suara secara bersamaan. Tidak ada nampak terkejut atau apa pun diraut wajah mereka. Biasa saja, seperti melihat orang lain yang memergoki mereka berduaan.


"Jeon, untuk apa kau datang ke sini?"


"Untuk apa lagi selain bertemu dengan Rindu?"


"Apakah kau berpikir bahwa tindakanmu itu pantas? Aku dan Rindu masih sah jadi suami istri."


"Memang apa yang aku lakukan? Aku hanya berusaha untuk membuatnya tertawa ketika kau hadir hanya untuk menghadirkan duka dan luka. Aku tidak menggaulinya, kenapa kau marah?"


"Tidak pantas kau berduaan di sini dengan istri orang!"


"Kau lama-lama lancang, Je."


Bugh!


Tanpa aba-aba Jeff memberikan pukulan bertubi-tubi di wajah Jeon. Ia sangat marah pada adiknya itu karena merasakan panas di hatinya melihat Rindu tertawa karenanya. Ia seperti tidak terima di tengah kekacauan yang ada dan hancurnya kehidupannya, Rindu malah tertawa dan tertawa itu karena orang yang tidak ia sukai.


"Jeff kamu ini apa-apaan, sih? Sudah cukup! Kamu dengar, ya! Aku memang masih sah jadi istri kamu, tapi kita dalam proses perceraian! Memangnya kenapa kalau aku berduaan sama Jeon? Emang aku pernah larang kamu berduaan atau pacaran sama Ratu? Waktu kita ke Bali pun, yang harusnya kita bulan madu, kamu perginya sama Ratu. Apa aku melarangmu? Jadi sekarang kamu yang harus memahami dan mengerti aku. Apalagi kita sekarang proses perceraian, sedangkan kamu melakukan itu di saat masih jadi suami istri yang bahkan baru menikah. Aku dulu diam, ya Jeff. Dan Sekarang saatnya kamu yang diam."


Setelah bicara panjang lebar itu, ia membawa Jeon yang sudut bibirnya sudah terluka dan mengeluarkan darah karena pukulan dari suaminya. Wanita itu membawa Jeon ke depan ruangan di mana ayahnya dirawat.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini sebentar, ya. Aku masuk ambil tisu di tas."


Rindu hendak melangkah, namun tangannya dicekal oleh Jeon. "Udah, aku nggak apa-apa, Rin. Duduk sini!"


Jeff rupanya tidak kapok, setelah mendapat teguran yang begitu menyakitkan dari mulut Rindu dan Jeon, ia masih mengikuti langkah kaki mereka berdua dan sampailah ia di mana ia melihat istrinya dan juga adiknya itu duduk berdua di depan ruangan ayahnya. Mereka terlihat dekat dan hal itu rupanya mengundang kecemburuan di hati Jeff.


Ingin rasanya ia kembali memisahkan mereka seperti tadi, namun ia ingat bahwa ini di rumah sakit dan tidak mau menimbulkan kekacauan. Apalagi jika kedua orang tua Rindu mengetahui kehadirannya. semua masalah akan tambah runyam dan ujung-ujungnya ia sendiri yang akan menanggung lalu nantinya. Merasa di tempat itu semakin membuatnya kesal dan sakit hati, ia pun akhirnya melipir dari rumah sakit.


"Bibir kamu luka, Je. Seenggaknya kalau nggak diobati sekarang aku bersihin dulu darahnya."


"Nggak apa-apa, ini bisa dibersihkan pakai tangan. Nggak usah se khawatir itu. Ini hanya luka kecil. Aku pamit aja, ya. Udah cukup lama juga kita ketemu. Besok aku ke sini lagi, ya."


"Kalau cape nggak usah ke sini nggak apa-apa kok, Je. Lagian Papa juga kayaknya satu atau dua hari lagi boleh pulang."


"Nggak ada kata cape kalau kita melakukan sesuatu untuk seseorang yang spesial dalam hidup dan hati kita. Aku yakin kamu pun sebenarnya juga paham." Tangan Jeon terangkat untuk mengelus pipi wanita depannya. Dan seakan terhipnotis, wanita itu diam saja mendapatkan elusan pelan dan lembut dari pria itu.


"Jaga kesehatan, jangan lupa makan, jangan sakit-sakit, makannya harus teratur. Aku nggak mau lihat kamu sakit kayak kemarin itu. Bikin aku khawatir tahu nggak."


Rindu hanya mampu menjawab dengan anggukan. Di detik berikutnya, dengan gerakan cepat dan tanpa aba-aba, Jeon melancarkan kecupan singkat di kening wanita itu. Sementara yang dikecup hanya mematung dan menampakkan wajah terkejut. Mulutnya pun seakan terkunci tidak mengeluarkan apa pun selain nafas dan detak jantung yang tiba-tiba berdetak sangat kencang.


"Aku pulang, ya. Kamu masuk ke dalam, istirahat."


Jeon tanpa rasa dosa lalu membalikan badan dan berjalan menyusuri koridor yang tadi yang lewati saat datang ke rumah sakit. Jika Rindu masih duduk mematung di tempat semula, berbeda dengan Jeon yang berjalan dengan asik dan senyum yang begitu merekah. Seakan ia baru saja memenangkan undian hadiah.

__ADS_1


__ADS_2