
"Oke Rindu kenapa kamu harus memikirkan apa yang baru saja terjadi? Dia suamimu. Dia hanya melihat saja, bahkan jika dia mau menyentuhnya pun tidak masalah, kan? Astaga Rindu."
Wanita itu selalu bergumam sendirian, di saat suasana hatinya sedang senang, sedih, atau suasana hati seperti apa pun Rindu selalu meluapkan dengan ocehan.
Seperti apa yang sudah Rindu pikirkan sejak ia memilih pakaikan tadi, ia harus memaksimalkan dirinya untuk sempurna. Ia harus terlihat cantik saat keluar dengan suaminya, setidaknya ada yang ia banggakan di dirinya.
"Aku memang selalu cantik."
Rindu berdiri di depan cermin dan meneliti dirinya dari atas hingga ke bawah. Merasa dirinya sudah sempurna, ia meraih tas selempang berukuran kecil berwarna hitam lalu berjalan dengan anggun.
Baru menuruni beberapa anak tangga ia mendengar suara Jeff yang sudah kesal karena menunggu terlalu lama.
"Hei kau! Tidak bisakah kau berjalan dengan cepat? Apa saja yang kau lakukan di kamar sampai kau membuatku menunggu terlalu lama? Berani sekali kau membuatku menunggu." Jeff berkacak pinggang di lantai bawah.
"Jelas aku berpakaian lah. Kamu mau keluar denganku tidak memakai pakaian? Kenapa kamu masih bertanya aku melakukan apa di kamar?"
Jeff masih diam ditempat, ia menunggu wanita itu sampai di dekatnya dan
"Tanganmu belum sembuh benar dan kau sudah berani berteriak denganku? Jangan sampai aku membuat luka fisikmu lebih banyak dari ini." Jeff berlalu dari sana tanpa memberi kesempatan Rindu untuk kembali berucap.
Seperti yang sudah-sudah, Rindu hanya merespon dengan kediamannya. Ia berusaha untuk mengunci mulutnya dari perdebatan kecil. Ia sebenarnya bingung dan bertanya-tanya, Jeff hendak membawanya ke mana. Namun, entah kenapa rasanya mulutnya ragu hendak bertanya. Dan jadilah mereka terdiam hingga mobil Jeff sampai di sebuah restoran mewah.
Jeff turun dari mobil seolah ia tidak datang bersama istrinya. Ia membuka pintu, turun dari mobil, dan berlalu begitu saja seperti pergi seorang diri.
Rindu sampai membuang nafas kasar saking kesalnya. Ia meraba wajahnya dan menundukkan kepala melihat tubuhnya beberapa saat. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah ada yang salah dengan penampilannya? Apakah penampilannya kali ini gagal? Apakah ia terlihat buruk di mata pria itu? Kenapa suaminya itu tidak melirik sama sekali penampilannya?
__ADS_1
"Ah sudahlah, kalau aku memikirkan segala hal dan setiap detik yang dilakukan sama Jeff, aku akan pening sendiri."
Akhirnya dengan berusaha untuk menutupi kekesalannya, Rindu berjalan menuju restoran dan mencari di mana suaminya itu duduk. Setelah beberapa detik mencari, akhirnya ia menemukan di mana tempat duduk suaminya. Ia segera berjalan menghampirinya, namun baru beberapa langkah kakinya berhenti bergerak.
Rindu berusaha tenang melihat suaminya dengan mesra menggenggam tangan seorang perempuan.
Apa perempuan itu yang nelepon Jeff pagi-pagi? Apa dia yang diberi nama kontak Ratuku?
"Ayolah jangan bahas dia, kita sedang berdua. Bahas masalah dan masa depan kita. Jangan bahas yang lain, apa pentingnya membahas Rindu. Makanlah, setelah ini kita akan belanja. Beli apa pun yang kamu mau. Sengaja aku tadi membawa Rindu untuk membawakan apa yang kita beli nantinya."
"Kamu ajak dia? Ngapain sih kamu ajak-ajak dia, katanya mau habiskan waktu berdua?"
"Ya lumayan, kan ada yang bawain barang kamu. Dia itu tipe perempuan yang lemah, dia juga menjadi wanita yang sok baik sebagai seorang istri. Kalau dia berpikir seperti itu pasti dia nanti akan menuruti apa yang aku mau, kan?"
"Terus sekarang dia di mana?"
"Aku di sini. Kenapa kau cari aku?"
Rindu yang mendengar dengan jelas pembicaraan suaminya, tentu saja ia ingin membuktikan bahwa apa yang dibilang suaminya itu tidak benar. Ia bukan perempuan lemah, ia memang berusaha menjadi sosok istri yang baik untuk suaminya, tapi jika ia dihina bahwa dirinya lemah, tentu saja Rindu tidak terima. Jika pun benar, Rindu lemah, tentu ia tidak menjunjukkan pada suaminya.
Sepasang kekasih haram itu pun menoleh ke arah suara secara bersamaan. Tidak ada raut terkejut atau apa pun yang tercetak di wajah mereka. Wajah mereka hanya biasa saja, seperti melihat seseorang yang tidak mereka kenal.
"Jadi ini yang namanya Ratu? Yang menelpon suamiku pagi-pagi buta setelah kami menikah?" Sengaja Rindu berbicara sedikit keras, suasana restoran yang cukup ramai nampaknya menguntungkan bagi Rindu untuk melakukan sesuatu pada wanita itu.
Jeff dan Ratu sedikit gelagapan karena mereka sadar, beberapa orang yang berada di restoran mulai mengalihkan perhatian pada mereka.
__ADS_1
"Rindu, duduklah dan makan di sini dengan tenang! Jangan membuatku malu," tegur Jeff sangat pelan.
Rindu hanya sedikit tersenyum miring atas teguran dari suaminya. Di detik berikutnya, pandangannya ia arahkan pada Ratu. Tanganya mengambil gelas yang berisi jus buah dan menyiramnya tepat di atas kepala Ratu. Tentu saja tindakan yang Rindu lakukan membuat semuanya terbelalak dan membuka mulutnya tanpa sadar. Tak terkecuali Jeff dan Ratu.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila!" Ratu berteriak dengan marah.
"Kau yang gila! Beruntung kau hanya ku siram tidak aku rusak wajahmu itu!"
Meski ucapan Rindu menyakitkan, ia bicara dengan nada yang pelan, namun penuh penekanan. Ia sadar, ia harus tenang dan tidak merespon dengan amarah. Karena itu hanya akan membuktikan kualitas dirinya yang tak jauh beda dengan Ratu. Logika Rindu bekerja cukup baik hari ini.
Mulai terdengar kasak kusuk dari pengunjung restoran. Menyadari hal itu, Jeff seketika menyeret Ratu dari tempat itu. Sebelum benar-benar pergi
"Sebelum kau melakukan sesuatu yang lebih padanya, aku yang akan melakukannya terlebih dahulu padamu." Jeff lalu membawa Ratu pergi dari sana.
Sakit? Jangan ditanya. Remuk sudah hati Rindu beserta harga dirinya di depan banyak orang. Dirinya yang berniat untuk mempermalukan Ratu justru yang terjadi diluar ekspetasinya. Ia dibuat malu dengan suaminya sendiri yang lebih memilih kekasih gelapnya.
"Dasar pelakor. Kayak nggak ada laki-laki lain aja. Udah beristri diembat juga." Salah satu pengunjung berkata dengan lantang.
Wanita itu lalu berjalan mendekat Rindu yang mematung entah memikirkan apa. Rasanya ingin menangis, tapi keadaan yang banyak pasang mata membuat ia urung melakukannya.
"Yang sabar, Mbak. Jangan sedih, Mbak lebih cantik dari dia. Minta yang di Atas jalan yang terbaik buat kehidupan Mbak." Wanita itu mengelus pelan punggung Rindu.
"Terima kasih, Bu, untuk sarannya. Saya permisi. Maaf jika membuat kalin tidak nyaman."
Semua pengunjung mengangguk dan setelah itu berlalu dari sana. Begitu samping di parkiran, ia tidak melihat mobil Jeff di sana.
__ADS_1