
Rindu terdiam sejenak sebelum akhirnya ia masuk kamar. Seandainya saja Jeon tahu apa yang dilakukannya itu hanya untuk membatasi dirinya sendiri dengan segala perhatian yang ia terima.
Rindu tahu semua hal yang dibicarakan oleh Jeon. Ia juga paham bahwa caranya memang mungkin terlihat sangat salah, tapi apakah ada cara lain selain ini? Ia hanya tidak mau jika terus-menerus menerima perhatian dari Jeon justru ia akan semakin nyaman dan perasaannya tidak bisa dikendalikan.
Jika boleh jujur, Rindu sangat ingin menerima perhatian dari siapa pun. Bahkan tidak bisa dipungkiri, bahwa sebenarnya ia juga masih menaruh harapan bahwa Jeff yang melakukannya. Memberikan perhatian sekecil apa pun itu, melakukan apa pun yang dilakukan oleh Jeon. Ia ingin Jeef yang melakukan itu, bukan orang lain. Salah jika ia berharap pada suaminya sendiri?
Terlepas dari apa yang dilakukan oleh Jeff dibelakangnya, ia hanya ingin diperlukan sebagai istri oleh suaminya sendiri, bukan orang lain. Ia sangat tahu jika ia membuka hati dan kesempatan untuk setiap orang yang peduli padanya, maka tidak menutup kemungkinan, ia juga akan berpaling dari suaminya. Bukankah itu tidak ada bedanya antara dirinya dan Jeff?
"Tuhan, tolong katakan dan beritahu aku jika aku salah mengharapkan sesuatu pada suamiku sendiri."
Keinginan Rindu yang ingin tertidur kembali setelah memberikan minyak pada kakinya nampaknya hanya sia-sia belaka. Sudah berkali-kali ia berusaha memejamkan matanya dan juga mengganti posisi tidurnya di tempat yang sempit itu, namun keinginannya tak kunjung terkabul. Ia tak bisa tidur kembali hingga jam menunjukkan tiga dinihari. Dan yang membuat ia tidak habis pikir, adalah suaminya yang tak kunjung kembali dari luar.
Ceklek.
Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Rindu refleks berdiri dari duduknya. Ia tadi sama sekali tidak mendengar suara motor yang memasuki halaman rumah, lalu tiba-tiba Jeff sudah masuk kamar dengan tanpa rasa dosa.
Jeff diam, Rindu pun ikut terdiam. Ingin bertanya pun rasanya hanya menambah sakit hati saja. Jika saling diam, maka hubungan tidak akan ada perkembangannya. Bukankah ia sempat berpikir bahwa ia punya kesempatan untuk menarik perhatian Jeff? Iya, kesempatan memang selalu ada, hanya aja apakah kesempatan itu mampu membuay hati Jeff terbuka?
Apa sebenarnya keistimewaan Ratu sampai kamu begini?
__ADS_1
***
Hari terus berlanjut, kehidupan terus berjalan, namun tidak dengan perubahan ke arah yang lebih baik. Entah bagaimana cara mereka bertahan hidup tanpa komunikasi yang jelas di dalam lingkup yang disebut suami istri.
Mereka bak orang asing yang berada di satu atap, bahkan satu kamar. Seperti Rindu membatasi hubungannya dengan Jeon, wanita itu juga melakukan hal yang sama pada suaminya sendiri.
Memang sempat terpikir olehnya untuk membuat Jeff berpaling padanya. Tapi melihat suaminya yang akhir-akhir ini justru lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah saat tengah malam, membuat Rindu benar-benar menyerah dan tidak ingin memperjuangkan apa yang sudah pernah terpikir olehnya. Ia tak mau memaksa dirinya untuk dicintai oleh siapa pun.
Sama seperti halnya Rindu yang sudah tidak begitu peduli dengan apa yang dilakukan Jeff. Jeon pun melakukan hal yang sama terhadap Rindu. Sejak pertengkarannya malam itu, Jeon seperti sedang memberikan pelajaran pada wanita itu dengan mengikuti apa maunya, yaitu menjaga jarak dan kalau bisa menjauh darinya. Dan akhirnya seisi rumah itu yang dahulu dihuni dengan orang-orang yang penuh dengan cinta menjadi terlihat seperti orang asing yang tinggal dalam satu tempat.
Dan pemandangan itu nampak begitu nyata, ketika Pak Jo dan Bu Merlin meninggalkan rumah untuk sementara karena ada kepentingan di luar kota. Rumah besar yang dihuni oleh tiga orang pemilik rumah dan beberapa pegawainya itu nampak sepi dan lebih pantas disebut jika bangunan itu seperti tidak berpenghuni. Hingga akhirnya keheningan di rumah itu berubah menjadi malapetaka ketika Jeff merencanakan sesuatu.
"Mbak Rindu sedang keluar ke supermarket depan, Mas."
Jeff hanya mengangguk lalu berjalan kembali. Ia berjalan cepat ke kamar dan melakukan panggilan telepon di sana. Seperti sedang bicara dengan seseorang yang dengan mudah ia perintah.
"Lakukan sekarang dan bawa ke tempat yang aku minta setelah itu akan ke sana."
Jeff menyinggung senyum licik setelah itu. Tidak ada yang tahu apa yang ia rencanakan, kepergian kedua orang tuanya nampaknya menjadi momen emas dan kesempatan terakhir untuk membuat rumah tangganya juga berakhir.
__ADS_1
Sementara di lain tempat, Rindu sedang meronta di sebuah mobil dengan tiga orang pria di dalamnya. Sejak ketiga pria itu tadi berhasil membawanya, ia tak berhenti berteriak, meronta, dan melalukan pergerakan apa pun untuk minta dilepas. Namun, bukannya berhasil untuk melepaskan diri, tindakan Rindu itu justru membuat dirinya lelah sendiri dan membuat ketiga pria itu terpaksa membuat dirinya tak sadarkan diri lebih cepat dari perintah atasannya.
"Pak, kamui sudah bawa target ke hotel pemintaan Bapak." Seseorang menelepon atasannya.
Tak berselang lama, salah satu pria memberikan suntikan di tangan Rindu, entah berfungsi untuk apa suntikan tersebut tidak ada yang tahu.
Tak berselang lama, seseorang datang dengan seorang wanita. Mereka melihat Rindu yang sudah tak berdaya di atas tempat tidur. Mereka nampak puas dengan hasil kerja anak buahnya.
"Lepas seluruh pakaiannya, jangan sampai ada yang tertinggal!" Jeff berucap seraya mendekati tas Rindu dan mengambil ponselnya. Ia mengetikkan sesuatu di sana.
[Je tolong aku! Aku di sekap oleh seseorang di sebuah hotel. Aku nggak punya waktu banyak. Akan aku share lokasi ku sekarang].
"Selesai, tugas kalian yang kedua sudah siap kalian lakukan. Pergi sekarang!"
Hanya dengan satu perintah saja, ketiga orang yang berada di sana segera meninggalkanmu tempat.
"Kamu yakin ini akan berhasil?"
"Kenapa tidak, Sayang? memang apa yang membuat rencana ini gagal? Jangan ragukan aku soal ini." Jeff merangkul kekasihnya seraya menghapus pesan yang baru aja ia kirim.
__ADS_1
Tinggal satu langkah lagi, hanya butuh beberapa jam untuk membuat mereka membantuku mengakhiri pernikahan konyol ini.