
"Apakah kamu tadi mendengar aku menyebut namamu, Mas? Tindakanmu padaku barusan menjawab kecurigaanku."
Jeef melepas cengkramannya dengan kasar. Rindu yang semula selalu menangis dihadapan Jeff saat mendapat perlakuan kasar darinya, saat ini ia sudah mulai terbiasa. Lebih tepatnya membiasakan diri dan menyiapkan diri untuk kekerasan-kekerasan yang lainnya.
"Seharusnya kau tidak perlu semarah itu jika memang kau tidak melakukan apa pun dengan Ratu. Apakah kamu berpikir bahwa selama ini aku diam aku tidak mengetahui apa pun? Aku tahu semuanya, Mas, tapi aku diam. Aku sudah tidak mau peduli lagi dengan apa yang kamu lakukan di luar sana."
Merasakan kepalanya yang pusing dan terasa lelah, Rindu membanting kotak obat yang sejak tadi berada di tangannya. Ia pergi dari kamar dengan lelehan air mata yang selalu datang tanpa diminta. Ia benci air mata ini, air mata yang selalu dianggap kelemahan untuk banyak orang. Padahal tidak semua air mata berbentuk kelemahan.
Rindu mengusap kasar pipinya yang basah. Kakinya terus ia ajak berjalan menuju teras belakang rumah yang di sana terdapat kolam renang. Ia duduk ditepian kolam dengan memasukkan setengah kakinya di air. Ia tidak tahu apa yang membuatnya ke sini. Ia hanya berjalan mengikuti apa yang hatinya mau.
Di sekitar kolam renang, ada beberapa butiran kerikil yang nampaknya memang digunakan untuk menghiasi sekeliling kolam. Rindu mengambil beberapa kerikil dan ia lempar benda kecil itu ke dalam kolam. Ia melempar dengan sekeras-kerasnya seakan ia sedang melampiaskan segala amarah dan kekesalannya terhadap seseorang. Entah pada siapa, entah kesal pada dirinya sendiri, suaminya, Jeon, keadaan, atau bahkan Tuhan yang membawanya dan membiarkannya masuk ke dalam lingkaran gelap ini.
"Lemparlah sebanyak-banyaknya sampai beban kamu berkurang!"
Sebuah suara dari belakang mengejutkannya. Ia menghentikan aktivitasnya itu, namun tidak menoleh. Dari suaranya saja, ia sudah tahu siapa yang berdiri di belakangnya itu. Beberapa detik kemudian, ia kembali melempar kerikil yang masih tersisa di tangannya. Ia tidak peduli dengan siapa pun orang yang berada di belakangnya.
Tidak berselang lama Rindu mendengar suara tapak kaki yang mendekati tempatnya duduk.
__ADS_1
"Jangan ke sini! Apakah kamu tidak puas dengan kesalahpahaman yang terjadi hari ini? Kenapa masih di sini juga? Kenapa kamu selalu membuntuti aku? Tidak bisakah kamu istirahat di kamarmu saja?"
"Aku tidak peduli dengan kesalahpahaman hari ini, Rin. Kalau kita berada dalam posisi yang benar, kita tidak melakukan apa pun, kita tidak melakukan kesalahan apa pun. Lalu kenapa kita harus menjauh?"
"Justru kalau kita merasa ada di posisi yang benar, kita harus menjauh agar orang-orang tidak berpikir bahwa kesalahpahaman mereka itu benar."
"Kita difitnah, itu artinya kita harus bersatu untuk membuktikan bahwa kita ini tidak salah. Bukan malah berdiri sendiri-sendiri."
Tidak sabar dengan kelakuan Jeon, Rindu bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri pria itu. Dari wajahnya, ia nampak sangat kesal dengan Jeon.
"Memang seharusnya kita berdiri sendiri-sendiri, Jeon. Tanpa membuktikan apa pun kita sudah terlihat salah. Memang apa yang kamu punya? Bukti apa yang kamu punya untuk membuktikan bahwa kita ini difitnah? Aku tahu difitnah, kita di jebak, aku paham, Je. Tapi bagaimana caranya kita membuktikan kalau kita ini dijebak, kita nggak punya apa-apa untuk membuktikan bahwa kita itu benar. Semua ... Semuanya membuktikan kalau kita..." Rindu tak sanggup lagi berucap, ingatannya kembali berpitar beberapa jam yang lalu, di mana ia berada di satu selimut yang sama dengan Jeon. Dan itu sangat menyakitkan untuknya. Ia kembali terisak lemah di hadapan Jeon.
Jeon sudah manyangka bahwa Rindu tahu segalanya, sangat mustahil jika wanita itu tidak mengetahui kelakukan suaminya di belakang. Entah karena apa, Jeon merasakan sakit saat melihat Rindu yang terisak. Baru kali ini yang melihat Rindu yang begitu rapuh.
"Sssttt. Kamu nggak pantas menangis seperti ini untuk laki-laki seperti kakakku." Jeon memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya dan membawa Rindu ke dalam pelukannya.
Jujur saja Jeon sangat takut dengan reaksi Rindu, ia takut dengan sejuta alasannya untuk mengutarakan penolakan. Namun, entah kenapa perlakuannya ini diterima oleh Rindu. Wanita itu justru menenggelamkan kepalanya di pada lebar adik iparnya.
__ADS_1
Jeon diam saja, entah sadar atau tidak Rindu melakukan itu, hal itu tidak penting bagi Jeon. Ia hanya memperdulikan bahwa wanita yang saat ini membutuhkan pundak seseorang hanya untuk meletakkan sedikit bebannya. Tak peduli status mereka, tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi, sungguh Jeon tak peduli jika ia mendapat pengusiran dari kedua orang tua angkatnya karena melakukannya hal yang begitu jauh dengan Kakak iparnya.
"Sudah Rindu, jangan tangisi dia. Air matamu cukup berharga untuk orang seperti kakakku. Jangan keluarkan ini untuk dia." Jeon melonggarkan pelukan mereka.
Pandangannya langsung ia arahkan pada wanita di depannya. Pipinya begitu basah. Entah perintah siapa, Jeon menghapus air mata itu dengan lembut. Lagi-lagi, tidak ada penolakan dari Rindu. Untuk beberapa lama tatapan mereka bertemu satu sama lain.
"Maaf sepertinya aku sudah berlebihan." Rindu mengundurkan kepalanya seraya menghapus pipinya yang sudah kering dari air mata.
"Respon kamu sama sekali tidak berlebihan, Rin. Seharusnya respon itu sudah kamu tunjukkan ketika kamu baru mengetahui suamimu bermain begitu jauh. Kamu adalah wanita yang kuat di mata aku. Tetaplah menjadi kuat untuk dirimu sendiri!"
"Iya. Terima kasih untuk supportnya. Aku ke kamar." Rindu mengundurkan diri dari hadapan Jeon. Baru hendak melangkah, tangannya sudah di cekal oleh Jeon.
"Mau berjanji satu hal padaku?" Jeon bertanya setelah Rindu kembali menoleh padanya.
"Berjanjilah untuk tidak menjauhi aku lagi, Rin. Untuk saat ini hanya aku yang bisa mengerti kamu. Hanya aku yang mengetahui masalahmu."
"Iya."
__ADS_1
Hanya satu kata itu yang dikeluarkan oleh Rindu. Jujur saja dari hati Rindu yang paling dalam, ia tidak ingin menjauh dari Jeon. Bahkan dari dulu pun ia tidak ingin menjauh. Ia terpaksa menjauhi Jeon, selain untuk kebaikan bersama, ia juga tidak ingin terbawa suasana ataupun perasaan saat dekat-dekat dengan pria itu. Tidak bisa dipungkiri jika ia terus meladeni perhatian dan kepedulian dari adik iparnya, maka tidak menutup kemungkinan lama-lama ia akan merasa nyaman dan malah tumbuh perasaan yang lain. Terlepas dari perlakuan Jeff terhadapnya, ia tidak mau jatuh cinta atau menaruh rasa pada pria mana pun di saat statusnya menjadi istri orang.