Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
68. Bicara Dari Hati Ke Hati


__ADS_3

Keesokan paginya Jeon sudah diizinkan untuk pulang ke rumah karena keadaannya yang sudah cukup baik. Pria itu melarang kedua orang tuanya untuk menjemput. Ia hanya dijemput oleh Rindu karena ia ingin menghabiskan waktu dengan wanita itu saja.


"Kau dan ibumu akan pulang?" Bima dan Jeon berpapasan di lorong rumah sakit.


"Iya, Kak. Terima kasih untuk nasihatnya semalam. Aku jauh lebih baik sekarang. Aku senang bisa kenal dengan Kakak."


"Aku pun merasakan hal yang sama." Jeon merogoh saku celananya dan memberikan selembar kertas berukuran sedang. "Jangan sungkan untuk datang ke sini kalau kamu butuh teman, ya. Sepertinya aku harus menarik kata-kataku semalam yang mengatakan pertemuan kita adalah pertama dan terakhir. Aku berharap kita akan ketemu lagi suatu hari nanti. Aku akan senang kalau kamu menemui aku. Jadikan aku kakakmu."


Bima kembali berkaca-kaca. Tak ia sangka pertemuannya semalam justru membuatnya menemukan sosok teman yang baik dan tulus.


"Dokter? Kakak dokter? Pantesan, kata-kata dan profesinya nyambung. Kata-kata dari kakak membuat pikiran aku terbuka. Terima kasih. Aku pasti akan mendatangi Kakak suatu saat nanti. Aku nggak akan mau kehilangan sosok kakak bijaksana yang baru aku temui semalam." Bima memberikan pelukan sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah sakit. Ia sempat menoleh pada Rindu sesaat sebelum ia benar-benar pergi dari bangunan serba putih itu.


"Sejak kapan Jeon jadi bijaksana?" tanya Rindu pada dirinya sendiri.


"Mau aku ceritakan bagaimana kisahnya? Akan aku ceritakan sambil jalan." Jeon merangkul pundak Rindu dan ia bawa wanita itu untuk pergi dari sana.


°°°


"Kamu bisa menasehati orang, seakan kamu bisa menasehati diri kamu sendiri." Rindu mencibir setelah Jeon selesai menceritakan apa yang terjadi semalam. Mereka kini duduk berdampingan di bangku taman.

__ADS_1


"Terkadang kita memang butuh nasihat dari orang lain untuk membuka pikiran kita, kan? Semua orang begitu, Sayang. Antara satu orang dan orang lain pasti punya pandangan yang berbeda. Seperti yang terjadi pada kita akhir-akhir ini. Kamu punya pandangan yang berbeda denganku saat melihat satu orang yang sama. Dari Bima ada satu hal yang aku dapatkan. Sepertinya aku juga harus membuka pikiranku untuk melihat sisi yang lain. Sebelum aku mengabulkan apa yang kamu mau, ceritakan apa yang kamu bahas saat bertemu dengan Bu Mita."


"Kamu mau bertemu dengannya setelah aku bercerita tentangnya?"


Jeon mengangguk meski sebenarnya ia ragu. Ia terlihat memaksakan dirinya untuk menemui atau setidaknya bicara satu kali saja dengan wanita yang membuat dirinya ada di dunia ini. Ia lebih khawatir pada dirinya sendiri setelah melihat dan mengenal Bima. Kebencian dan kemarahan yang ia alami sekarang bisa saja tak sebanding dengan penyesalan yang akan ia hadapi nantinya.


Butuh waktu semalam penuh untuk Jeon mengambil keputusan ini. Banyak yang ia pertimbangkan sebelum ia memutuskan untuk mengatakan 'iya' pada kekasihnya.


Deretan kalimat yang Rindu keluarkan didengar dengan seksama dan penuh perhatian oleh Joen. Kata demi kata yang ia dengar begitu menusuk telinga dan hatinya dengan tepat sasaran. Bak ribuan peluru yang menyerangnya bersamaan, sesakit itulah hati Jeon mendengar cerita dari Rindu.


Lupakan soal ia dibuang ibunya, lupakan bahwa ia baru saja menerima kenyataan ia akan dijual ayahnya pada orang kaya, dan lupakan rasa sakit merasakan dibuang. Yang Jeon tanyakan, tak adakah panti asuhan 26 tahun yang lalu? Tidak adalah sanak saudara yang sudi mengasuhnya? Tidak bisakah ibunya melarikan diri yang jauh dan hidup berdua? Kenapa ibunya harus melarikan diri dengan jarak yang cukup jauh, tapi malah meninggalkan dirinya seorang diri? Di tong sampah? Kenapa beliau lebih memilih melanjutkan hidup dengan suaminya dan lalu pergi tanpa menjemputnya. Se menyusahkan itu dirinya bagi sang Ibu?


"Ibu sangat ingin membawa kamu hidup berdua sama Ibu. Tapi bagaimana caranya Ibu mengurusi kamu jika Ibu sendiri saja nggak bisa ngurus diri sendiri? Ibu nggak punya apa-apa, nggak ada sesuatu yang bisa Ibu jual. Bahkan pakaian yang kamu kenakan saja itu pakaian dari rumah sakit. Ayah nggak izinkan Ibu untuk membeli apa pun untuk kamu." Bu Mita meraih tangan kiri anaknya untuk ia genggam.


"Maafkan Ibu yang sudah salah. Tidak seharusnya Ibu meletakkan kamu di tempat yang kotor. Maafkan ibumu yang pecundang ini, Nak. Ibu janji setelah ini tidak akan menemui kamu lagi jika kamu nggak mau ketemu sama Ibu. Ibu akan kembali ke luar negeri jika kamu tidak mau satu tempat dengan Ibu. Ibu nggak akan marah sama kamu meskipun kamu nggak mau ketemu sama Ibu. Tidak apa-apa, Nak. Yang penting, sebelum Ibu meninggal, Ibu sudah mendapatkan maaf dari kamu, sudah ketemu sama anak Ibu. Itu aja udah cukup buat Ibu. Ibu nggak akan rebut kamu dari orang tua asuh kamu, meskipun sebenarnya Ibu ingin. Ibu tahu mereka pasti mengeluarkan banyak hal untuk merawat anak ibu dan membesarkannya. Sampai anak Ibu sekarang menjadi dokter. Tidak hanya uang yang mereka keluarkan, tapi tenaga, waktu, kasih sayang yang nggak bisa Ibu kasih buat kamu. Sangat mustahil jika Ibu tidak punya keinginan untuk mengambil kamu dari mereka. Tapi tenang, Ibu tidak seegois itu sekarang. Makasih, ya kamu sudah mau mendengarkan cerita Ibu. Sudah mau menemui Ibu. Hari ini adalah hari yang menyakitkan dan membahagiakan untuk Ibu."


"Menyakitkan?"


"Ibu harus kembali pulang besok. Karena memang Ibu ke sini hanya untuk menemui kamu dan meminta maaf. Adik-adik kamu sendirian di rumah."

__ADS_1


"Aku punya adik?"


"Iya. Kamu punya dua adik. Satu perempuan dan satu laki-laki." Bu Mita menghapus air matanya yang hendak jatuh lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya. Mengotak-atik ponselnya sebentar dan menunjukkannya pada anak sulungnya.


Jeon refleks meraih benda itu dan mengamatinya. Terdapat sosok perempuan dan laki-laki yang nampak tersenyum melihat kamera. Mereka hampir memiliki wajah yang sama, jarak usia keduanya pun nampak tidak jauh.


"Mereka adalah adik-adik kamu namanya Nabila dan Abil. Nabila berusia 21 tahun dan Abil 19 tahun."


"Ibu sudah satu tahun lebih di sini. Ibu meninggalkan mereka sendirian?"


"Ada yang mengurus mereka di sana. Mereka tidak keberatan karena mereka tahu Ibu ke sini untuk apa. Ibu tidak bisa cerita banyak hal tentang kamu ke mereka, karena Ibu nggak punya kenangan. Tapi setelah pulang dari sini Ibu akan menceritakan banyak hal. Yah, meskipun kebersamaan kita hanya hari ini saja."


"Kenapa harus besok? Kenapa nggak menunggu beberapa hari lagi?"


"Kamu keberatan Ibu kembali besok?"


"Tidak. Apa yang membuat aku keberatan?"


Hati Bu Mita terasa tersentil mendengar jawaban dari anaknya. Meskipun beliau sudah mendapatkan maaf dan bisa bicara dari hati ke hati dengan anaknya, tentu saja tetap menimbulkan rasa sakit yang berbeda ketika anaknya tidak mencegahnya untuk pulang lebih cepat.

__ADS_1


__ADS_2