
Rindu yang tidak punya kesibukan apa pun akhirnya menghabiskan waktu di halaman samping rumah. Ia duduk di bawah pohon mangga yang rindang. Rambutnya yang terurai panjang sesekali tertiup angin yang menyejukkan wajahnya di terik matahari yang sangat panas.
Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang, tapi panasnya seakan sudah melewati jam makan siang. Seperti biasa, ia menghabiskan waktu dengan membaca sebuah novel dan juga camilan di tangannya. Rindu adalah wanita yang suka membaca, terutama novel yang bergenre percintaan.
Rindu suka sesuatu yang romantis, ia menyukai hal sederhana, namun terkesan perhatian, seperti yang di lakukan oleh Jeon. Kata-katanya yang lembut dan sederhana, nyatanya menghangatkan. Belum lagi dengan perhatian kecil yang diberikan, itu sungguh manis bagi seorang Rindu yang suka dimanjakan.
"Tokoh utama di novel ini benar-benar mengingatkan aku dengan Jeon. Lucu sekali, terlalu berlebihan menanggapi sesuatu yang kecil."
"Khem."
Rindu mendongak.
"Kamu udah pulang ngampus?"
"Udah. Lagi baca apa? Kenapa ketawa?"
"Novel. Lucu, aku suka."
"Mbak suka baca novel?"
"Banget, kalau aku nggak ada temen, ya novel aku jadikan teman."
Jeon ingin lebih lama duduk berdua dengan Rindu, meskipun hanya duduk diam menemani wanita itu membaca. Entahlah, Jeon merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sejak obrolannya dengan Rindu malam itu, ia seperti tidak bisa melupakan senyum yang hanya dilihat olehnya. Sebuah senyum yang tidak lebar, tidak dipaksakan, tapi nampak begitu manis dan memabukkan.
__ADS_1
Jeon hendak pamit pada Rindu ingin masuk rumah, namun belum sempat ia mengungkapkan kalimat pamitnya, Rindu nampak mengucek matanya.
"Kenapa matanya? Kemasukan apa?"
"Nggak tahu, mungkin debu atau bulu mata, tapi ini terasa perih."
"Aku lihat, aku lihat."
"Nggak Je, nggak usah. Nggak apa-apa, aku mau masuk rumah aja. Mungkin aku bisa melihatnya dengan cermin. Aku nggak apa-apa."
Jujur saja, Jeon merasa ada yang seperti merasa tidak terima jika Rindu memperlakukan dirinya seperti itu. Tapi ia lebih memilih diam untuk menghargai Kakak iparnya. Ia hanya melihat Rindu berjalan sedikit cepat dengan salah satu tangan menutup matanya yang nampak ada sesuatu yang masuk.
Sangat terasa bagi Jeon, ia diam bukan berarti ia tidak sadar dengan tingkah Rindu yang sebulan ini menjauh darinya. Ada rasa tak enak di hati, dan seperti ada kegundahan tersendiri yang ia rasakan. Namun, ia tidak berani menanyakan apa yang ia rasa itu karena ia tahu, kejadian malam itu adalah satu-satunya alasan Rindu menjauh darinya.
Ada sedikit penyesalan dalam dirinya, kenapa ia harus menceritakan kisahnya yang membuat Rindu iba dan meresponnya dengan sentuhan. Sungguh jika waktu bisa di putar ke masa sebelumnya, maka ia tidak akan mau disentuh oleh Rindu.
"Ya Tuhan, Mbak, bangun Mbak. Ma, Mama." Jeon menepuk-nepuk pipi, berusaha untuk membuat Rindu sadar.
"Ada apa, Mas Jeon? Ibu sedang... Ya Allah, Mbak Rindu kenapa, Mas?"
"Bi tolong ambilkan kotak obat." Jeon mengangkat tubuh Rindu dan membawanya ke sofa ruang tengah.
Jeon tidak pernah sepanik ini saat menghadapi seseorang dengan luka kecil yang dimiliki. Ia sering membantu sesama dan sering menjadi sukarelawan saat ada bencana yang menimpa di berbagai kota. Namun, entah kenapa saat Rindu terluka, ia begitu panik.
__ADS_1
"Ini, Mas kotak obatnya. Mbak Rindu kenapa?"
"Jatuh dari tangga. Mama mana?" Jeon membersihkan luka yang lebar, namun tidak dalam dan parah.
"Ibu lagi ada arisan."
"Ya udah, Bibi boleh pergi. Mbak Rindu nggak apa-apa."
Jeon masih dengan telatennya mengobati luka di dahi wanita yang akhir-akhir ini menjaga jarak darinya. Berada di jarak dekat dengan Rindu membuat Jeon teringat dengan beberapa waktu lalu, ia juga pernah berada di jarak sedekat ini dengannya dan dengan alasan yang sama, yakni mengobati luka. Meski hingga saat ini ia tidak tahu, luka di lengan Rindu bekas kuku siapa dan apa alasan orang itu melukai Rindu. Ingin curiga pada kakaknya, namun ia tidak punya bukti untuk ataupun alasan untuk mencurigainya.
Sesaat setelah selesai dengan pertolongannya, Rindu mengerjapkan mata. Dengan perlahan ia membuka mata dan memegang keningnya yang terluka.
"Sakit? Perlu periksa ke dokter?"
"Aduh." Rindu berusaha duduk. Jeon dengan sigap membantu, namun Rindu dengan cepat mencegahnya dengan memberi kode dengan tangannya.
"Aku bisa. Nggak apa-apa. Kamu selalu sama. Jangan berlebihan menanggapi sesuatu. Ini luka kecil. Kamu sudah mengobatinya, kenapa harus ke dokter? Terima kasih. Kamu sudah mengobati ini."
"Jangan menggampangkan sesuatu yang kecil, apa pun itu. Aku nggak ada maksud buat berlebihan. Kenapa Mbak selalu merespon tindakan ku dengan berlebihan juga? Aku tahu Mbak menghindari aku. Tapi bukan berarti hubungan kita jadi tidak baik begini. Tidak ada larangan bagi kita untuk sekedar ngobrol sebentar, jaga jarak bukan berarti musuhan."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Je."
"Terus maunya Mbak itu gimana? Aku juga gak masalah kalau Mbak ngejauhin aku, nggak tegur sapa sama aku, nggak apa-apa, Mbak. Tapi aku ingat di hari pertama Mbak tinggal di sini, kalian bertengkar hebat. Mbak nggak ada teman, nggak ada telinga buat dijadikan tempat berbagi keluh kesah. Aku cuman mikirin itu, sekarang...."
__ADS_1
"Kenapa kamu se peduli itu, Je? Aku hanya Kakak iparmu. Anggap aku seperti itu dan anggap aku nggak pernah punya masalah dengan suamiku. Aku nggak mau kehilangan kepercayaan semua orang, aku yakin kamu juga begitu. Aku permisi."
Jeon hanya mampu manggut-manggut. Entah ada apa dengan dirinya, melihat Rindu setiap hari, bertemu muka setiap waktu, namun tidak tegur sapa membuat ia merasa ada yang aneh saja.