
Hening.
Itulah yang kini sedang mendominasi sebuah kendaraan beroda empat yang menggilas aspal di bawah sinar rembulan dan ribuan bintang. Sepasang suami istri yang baru saja bercecap-cecap ria, kini nampak sedang tenggelam dalam lamunan.
Rasa gugup nampaknya masih tersisa diantara mereka. Hal itu nampak nyata ketika Rindu memilih untuk buang muka ke arah pepohonan yang berjejeran di samping kirinya.
Sementara pandangan Jeff tidak lepas dari jalan yang berada di depannya. Bahkan ia terlihat terlalu fokus menyetir kali ini. Ia dalam hati beberapa kali menenangkan diri dan berusaha untuk melupakan apa yang terjadi barusan. Namun, semakin ia berusaha untuk melupakan, justru ingatannya semakin jelas.
Akhirnya keheningan yang terjadi malam itu membawa mereka ke rumah sedikit lebih lambat dari yang seharusnya. Rindu terhenti sejenak sesudah menutup pintu, setelah duduk sedikit lama dan mengharuskan ia berdiri dan berjalan rupanya tak semudah saat dirinya sehat.
"Aku mau pulang sekarang, ini hanya luka kecil." Jeff yang sudah sempat berjalan lebih dulu kembali ke mobil dan mengulangi ucapan Rindu saat bersama suster tadi.
"Ya emang ini hanya luka kecil. Aku hanya pusing." Rindu berusaha memulai berjalan.
Seakan tidak kapok dengan kegugupan yang baru menyerang, Jeff membawa istrinya ke dalam gendongan. Entah karena kasihan atau hanya sebatas formalitas saja, hanya Jeff yang tahu maksud dari perbuatannya itu.
Rindu yang terkejut hanya bisa menatap heran tingkah suaminya. Untuk sejenak pandangan mereka saling tatap dalam jarak yang dekat. Namun, momen itu hanya terjadi beberapa detik saja.
Ketakutan yang sempat masuk dalam pikiran Jeff nyatanya tak terjadi. Tak ada yang menyambutnya pulang. Entah ke mana perginya kedua orang tuanya, ia tidak mau memikirkannya karena justru ini menguntungkan untuknya karena tidak perlu menjelaskan apa-apa.
Langkah demi langkah membawa keduanya semakin dekat degan kamar. Suasana rumah yang sedikit hening membuat degap jantung mereka terdengar dengan jelas. Apalagi detakan jantung Jeff sangat terdengar jelas ditelinga Rindu.
Wanita itu semakin mengeratkan pegangannya di leher Jeff saat ia merasa tangan pria itu terasa lelah. Tindakan Rindu membuat Jeff menelan ludah kasar karena gugup yang semakin terasa memuncak.
"Kamu sepertinya salah meletakkan aku. Aku biasa tidur di sofa."
"Tidak apa-apa kau tidur di sini sementara. Aku masih punya hati, jadi tidak mungkin aku membiarkanmu tidur dalam keadaan kepala dibalut seperti itu."
__ADS_1
"Terus kamu tidur di mana?"
"Kenapa kau memikirkan hal yang tidak penting. Tidur saja!" sungut Jeff dengan nada kesal.
Jeff mendudukan dirinya di sofa dan mengambil ponselnya, lalu bermain-main dengan benda pipih
itu. Tidak membutuhkan waktu lama pria itu sudah tenggelam dalam dunianya.
Rindu memperhatikan Jeff yang bermain dengan ponselnya. Sejurus kemudian ia teringat bahwa benda pipih miliknya itu sudah dibawa oleh dua orang preman yang membuatnya ia celaka.
"Mas."
"Hm?"
"Aku baru ingat kalau tas dan hp-ku di jambret seseorang. Aku tadi berniat mengejarnya dan malah keserempet mobil."
"Aku hanya menjawab pertanyaanmu saat di rumah sakit tadi."
"Kau sudah menjawabnya dengan memberitahuku untuk tidak perlu peduli dengan apa yang terjadi padamu dan apa yang kau lakukan. Apa sekarang kau meralatnya?"
"Terserah apa katamu saja!" sungut Rindu kesal lalu memutar tubuhnya membelakangi suaminya dan berusaha untuk memejamkan mata.
Melihat kesalnya Rindu, entah kenapa dan entah karena apa Jeff refleks tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya. Di detik berikutnya ia kembali menundukkan kepala dan kembali fokus pada ponselnya.
Jeff menghabiskan waktu dengan bermain ponsel hingga berjam-jam malam itu. Setelah jam hampir menunjukkan tengah malam pria itu meletakkan ponselnya di meja dan berjalan menuju ranjang. Belum sampai ranjang, kakinya sudah terhenti. Ekor matanya melihat tidur Rindu yang begitu memenuhi tempat tidurnya.
Jeff berjalan mendekati ranjang dan membenarkan letak tidur wanita itu. Baru kali ini ia mengamati Rindu yang sedang terlelap. Wanita itu sangat cantik meskipun Jeff yakin bahwa ia hanya mandi pagi hari tadi saja.
__ADS_1
Jeff masih memperhatikan wajah itu dengan cermat saat tangan wanita itu merangkul dan menariknya kedalam pelukan. Jeff diam tidak berontak ataupun berusaha melepas pelukan erat tersebut. Ia justru semakin menikmati wajah Rindu dari dekat. Nampaknya apa yang menimpa Rindu membuat jiwa kemanusiaan Jeff sedikit timbul.
Terlalu lama mengamati wajah Rindu membuat pria itu lama-kelamaan terkantuk-kantuk dan akhirnya tertidur dengan posisi berhadapan.
***
Bugh!
"Auuu," pekik Rindu berteriak. Belum usai rasa sakit di kepalanya, kini tubuhya kembali dihadapkan dengan rasa sakit jatuh dari ranjang.
"Kenapa, Rin?"
"Kamu gimana sih, Mas? Tidur yang benar jangan nendang-nendang. Kepalaku masih diperban, jangan sampai aku duduk di kursi roda juga karena kamu tendang."
"Namanya juga orang tidur, mana sadar?" Jeff turun dari ranjang dan mengulurkan tangannya untuk membantu. "Mana yang sakit?" tanyanya setelah Rindu terduduk di ranjang.
"Punggungku, tapi nggak apa-apa. Nanti akan hilang sendiri. Aku sudah biasa nyeri punggung dan sakit di sekujur tubuh karena setiap hari aku tidur di tempat yang sempit. Aku mau mandi."
Tanpa memperdulikann ekspresi Jeff, Rindu kembali bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
Apa selama ini aku terlalu kejam karena membiarkannya tidur di sofa sementara aku tidur di tempat tidur yang empuk? Tapi bahkan aku pernah melakukan hal lebih parah dari pada membuatnya tidur di sofa. Sudah beberapa kali aku menyakiti fisiknya, apalagi hatinya, setiap hari aku melakukannya. Tapi tunggu dulu, kenapa aku jadi memikirkan hal ini? Kenapa aku jadi peduli sama dia? Jeff apa-apaan kau ini?
Pria itu sedikit memukuli kepalanya karena memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan. Namun nampaknya, memukul kepalanya bukan membuatnya sadar malah justru membuatnya teringat dengan kebersamaannya semalam. Jujur saja hal ini membuat Jeff benar-benar tersiksa.
Dan siapa sangka pagutan bibir yang tidak disengaja itu membawa perubahan sedikit demi sedikit dari sikap Jeff kepada Rindu. Satu minggu setelah kejadian itu, Jeff perlahan terlihat sedikit merubah sikapnya kepada istrinya itu. Ia sekarang sudah tidak sekasar, tidak sejahat, dan tidak setega sebelumnya. Meskipun nampak samar-samar Rindu menyadari perubahan itu.
Apakah ia senang, bahagia, bersyukur? Jawabannya adalah iya. Tidak bisa dipungkiri, seberapa sakit hati Rindu terhadap pria itu ada sedikit dan setitik rasa syukur yang ia panjatkan kepada Tuhan, karena perubahan sikap suaminya yang sedikit lebih baik. Tentu saja Rindu menerima perubahan itu dengan senang hati dan menyambutnya dengan baik. Ia yakin, dengan perubahan sikap ini, ia bisa sedikit demi sedikit bisa menggeser nama Ratu dan membuatnya benar-benar menghilang di hati dan kehidupan suaminya.
__ADS_1