Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
65. Pacar


__ADS_3

Begitu sampai rumah, Rindu menimang ponselnya. Bahkan di saat tubuhnya belum tersentuh oleh air, ia sudah menggulingkan tubuhnya di tempat tidur. Ia bimbang, dilema, ia seperti di tengah-tengah rasa rindu dan gengsi. Beberapa kali ia berniat untuk menghubungi Jeon lebih dulu, namun beberapa saat kemudian ia kembali meletakkan ponselnya di atas kasur. Begitu terus hingga beberapa kali. Dan akhirnya Rindu kalah dengan gengsinya. Saran dari salah satu temannya beberapa saat yang lalu meguap begitu saja. Persetan dengan gengsi, ia harus menghubungi Jeon untuk mendengar omelannya.


"Ma, Rindu. Dia hubungi aku duluan. Mama pulang sekarang."


"Ih kenapa harus pulang?"


"Mama, pulang aja dulu. Udah Mama pulang, aku mau angkat teleponnya."


"Ya udah angkat aja. Kenapa jadi harus ngusir Mama?"


"Ya udah, Mama yang angkat teleponnya. Bilang kalau aku kecelakaan parah dari kemarin belum sadar." Jeon dengan semangat menyodorkan ponselnya.


Bu Merlin hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tak ingin mendukung kebohongan dari sang anak, beliau memilih untuk mengabulkan keinginan anaknya yang pertama tadi, yakni pulang ke rumah.


Jeon berdecak kesal. Mau tak mau ia memutar otak untuk menjawab panggilan Rindu tanpa harus dirinya yang bicara. Merasa tidak ada pilihan lain, ia memencet tombol darurat untuk memanggil suster. Hanya beberapa detik saja bagi Jeon untuk menunggu, seseorang berseragam putih yang ia panggil sudah menampakkan diri.


"Sus, tolong jawab telepon ini dan katakan kalau pemilik telepon kecelakaan parah dan belum sadar dari kemarin."


Jeon menarik tangan Suster itu dan meletakkan ponselnya di telapak tangannya. Namun, Suster muda itu masih nampak linglung dan bingung. Khawatir sambungan telepon akan terputus, Jeon menggeser tombol hijau dan memberikan kode pada Suster itu untuk bicara sesuai dengan apa yang ia katakan tadi.


"Halo Jeon, kenapa lama banget ngangkat teleponnya? Kamu ke mana? Kenapa nggak ada kabar? Kamu marah sama aku? Apa hari ini semua wanita melahirkan sampai kamu nggak ada kabar sama sekali? Kamu nggak ada hubungi aku dari kemarin. Perasaan, kamu nggak ada rasa bersalah sama sekali ninggalin aku kemarin."


Suster itu hanya menutup mulutnya karena menahan tawa mendengar ocehan panjang Rindu. Sementara Jeon meraba tengkuknya karena merasa kikuk dengan profesinya yang secara tidak langsung diketahui oleh Suster itu.


Seorang dokter kandungan? Aku baru tahu ada dokter yang bucin seperti ini.

__ADS_1


Astaga. Aku tidak tahu kalau akan begini jadinya. Tingkahku sejak kemarin bertolak belakang dengan profesiku.


"Halo, maaf dengan siapa saya bicara? Oh maaf jika dilihat dari kontak nama, sepertinya anda calon istrinya. Pemilik HP ini mengalami kecelakaan parah dan dari kemarin belum sadarkan diri. Itulah sebabnya kenapa pasien tidak mengabari Anda."


"Apa? Kecelakaan? Di rumah sakit mana sekarang? Bagaimana keadaannya? Separah apa keadaannya sampai sekarang belum sadar? Tunggu, dari mana kau tahu aku calon istrinya?" Rindu tergesa-gesa keluar rumah hingga mengabaikan pertanyaan dari ibunya. Ia bahkan masih berpakaian kantor saat kembali keluar rumah.


"Calon suami Anda dirawat di rumah sakit pelita sehat. Cepatlah kemari, mungkin dengan kedatangan Anda, pasien bisa langsung pulang hari ini."


Jeon segera mengambil paksa ponselnya dari tangan Suster itu sebelum ia bicara lebih jauh.


"Pacar. Hahaha. Bahkan aku baru tahu jika pria yang manja sepertimu seorang Dokter. Hahaha." Suster itu tak bisa berhenti tertawa karena mengingat dirinya yang sejak kemarin memantau keadaan Jeon.


"Sus, tolong pelan-pelan! Sentuh tanganku dengan pelan tanganku terluka dan tulang tanganku ini patah. Jadi tolong pelan-pelan, apa pun yang kau lakukan jika tidak dengan hati akan terasa sakit. Kau suster, kenapa kasar sekali?"


Jeon tak henti-hentinya mengaduh dan mengeluh. Tak lupa ia beberapa kali juga menyalahkan Suster yang menanganinya.


Percakapan di atas adalah secuil dari rangkaian keluhan atas apa yang ia alami.


"Hentikan tawa mu! Kenapa kau mengatakan hal yang tidak perlu kau katakan. Pergi sana!" Jeon kembali merebahkan tubuhnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain tebal yang dibawa oleh ibunya semalam.


"Terima kasih," ujar Suster itu bermaksud untuk menyindir pasiennya yang tidak tahu diri itu.


Di tempat yang sama dibagian berbeda, sosok wanita yang masih mengenakan pakaian kerja dan sepasang sendal jepit berlarian meyusuri lorong panjang rumah sakit dengan wajah panik.


Air matanya tak berhenti mengalir memikirkan kondisi Jeon yang sejak kemarin tak sadarkan diri. Pikirannya sudah melayang kemana-mana mengenai kondisinya. Mendengar kalimat tidak sadarkan diri dari kemarin tentu saja membuat Rindu tidak bisa berpikir mengenai hal yang positif.

__ADS_1


Rindu membuka pintu dengan keras saat menemukan ruangan di mana Jeon berada. Melihat selang infus yang menancap di tangannya membuat wanita itu berlari dan memeluk pria itu dengan tangisan. Sementara yang dipeluk sangat berusaha keras untuk menahan tawanya.


"Jeon bangun, jangan buat aku khawatir! Apa pun akan aku lakukan. Jika kamu minta aku untuk menikah denganmu segera, iya, aku akan menikah denganmu. Tapi tolong bangun dulu."


Mendengar kalimat dari Rindu tentu saja membuat pria itu ingin bersorak, tapi ia ingat ia sedang bersandiwara. Dan setidaknya, ia harus meneruskan sandiwaranya itu hingga beberapa jam kedepan. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu ketika dirinya sekarat seperti ini.


Rindu melepas pelukannya dan menghentikan tangisannya ketika pintu terbuka dan muncullah satu Suster yang membawa makan malam untuk pasien.


"Selamat malam, maaf mengganggu. Ini makan malam untuk pasien."


Astaga, bagaimana bisa aku melupakan ini? Seharusnya aku mengatakan pada Suster tadi untuk tidak mengirimkan makan malam.


"Makan malam?" Rindu mengernyit bingung. "Tapi bukannya dia... "


"Ah tunggu. Sepertinya saya melakukan kesalahan. Apakah Mbak tadi yang menghubungi pasien? Yang Kontak namanya diberi nama pacar. Apakah Mbak orangnya?"


Jeon yang masih pura-pura terpejam seketika membuka mata dan melempar bantalnya pada Suster itu. Rindu tergeser dari tempatnya karena saking terkejutnya melihat Jeon yang tiba-tiba terbangun dan melempar bantal.


"Dasar lancang. Akan aku beritahukan kelakuan Suster ini kepada penanggung jawab rumah sakit ini. Bagaimana bisa mereka memperkerjakan suster seperti ini?" Suster itu mematung di tempat menatap Jeon yang masih terduduk dengan wajah kesal.


"Tunggu apa lagi? Kenapa masih berdiri di sini? Sana pergi!"


Suster itu refleks kembali keluar kamar dengan tangan yang masih berisi makan malam untuk pasiennya. Kini giliran Rindu yang menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Apa ini, Jeon? kamu bohong sama aku? Dasar jahat, kamu nggak tahu betapa paniknya aku mendengar kamu kecelakaan dan enggak sadar dari kemarin. Lihat! Bahkan aku belum mandi. Aku masih memakai pakaian kerja, aku memakai sandal jepit karena aku panik dan khawatir ingin melihat keadaan kamu, tapi kamu malah bohong sama aku. Jahat kamu!" Rindu mulai memukul lengan pria itu dengan kedua tangan.

__ADS_1


__ADS_2