Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
19. Debat


__ADS_3

Pak Jo masih mematung di tengah pintu kamar menatap kedua anaknya bergantian. Sedangkan yang ditatap masih diam seakan tenggorokannya sedang tercekat oleh air liur.


"E ini, Pa. Aku mau keluar cari makan, Rindu katanya lapar. Tapi Jeon salah paham mengira aku maling karena berjalan pelan dan mengendap-endap. Hanya salah paham saja, Pa."


"Oh ya udah sana." Pak Jo lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Sementara di ruang tamu keduanya masih saling tatap. Jeff mendekati Jeon lalu berkata, "Inilah akibatnya kalau kau terlalu sering ikut campur urusanku. Kau seperti ini bukan karena kau peduli dengan keluargaku, tapi kau mulai ada rasa dengan Rindu, jatuh cinta kau dengannya? Kau suka sama Rindu? Kalau kau suka kau bisa mengambilnya. Kalau sampai Mama atau Papa tahu aku masih ada hubungan dengan Ratu, Rindu adalah orang pertama yang akan aku sakit. Kau dengar itu baik-baik!" Jeff melihat ayahnya kembali dengan segelas air putih. Dengan segera pria itu bergegas keluar rumah.


Aku? Jatuh cinta dengan Rindu? Apa dia gila berkata seperti itu?


Akhirnya Jeon mau tidak mau kembali ke kamar dengan tangan dan hasil yang hampa. Ia sedikit menyesali caranya mencegah Jeff tadi. Niatnya yang ingin memergogik Jeff agar tidak jadi keluar rumah, yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu bisa keluar rumah malah dengan izin ayahnya.


Jeon bisa saja menyanggah apa yang diucapkan Jeff tadi, tapi ia masih memikirkan perasaan Pak Jo yang harus ia jaga. Biar bagaimanapun, ayahnya itu sudah tidak lagi muda yang di mana tidak ada yang bisa menjamin kesehatannya jika mendengar sesuatu yang mengejutkan.


Apalagi jika sampai Pak Jo mendengar bahwa anaknya itu bertemu dengan wanita lain di tengah malam begini. Siapa yang akan berpikir positif jika ada dua orang berjenis kelamin berbeda bertemu di luar rumah di jam yang sudah tengah malam? Ia rasa semua orang akan berpikir sama seperti dirinya. Apalagi yang akan mereka lakukan selain saling menghangatkan satu sama lain.


Saat kakinya menapaki lantai dua, saat itulah Rindu keluar kamar. Kenapa Tuhan selalu mempertemukan dirinya dan Rindu di tengah malam begini? Tidak bisa kah Tuhan mempertemukan mereka disaat yang tepat? Kenapa harus di tengah malam?

__ADS_1


"Mau ke mana Mbak?"


"Ee ... Mau ... Mau ke bawah ambil minyak urut."


"Ya udah, Mbak tunggu sini aja biar aku yang ambil. Naik turun tangga tidak baik untuk kakimu."


"Baiklah, terima kasih."


Rindu terduduk di lantai dua, lebih tepatnya di anak tangga yang paling atas. Kakinya terasa sakit jika digunakan untuk berdiri terlalu lama. Sebenarnya ia terbangun untuk mengetahui siapa yang baru saja keluar dengan menggunakan motor. Dan sekarang nampaknya ia tidak perlu mencari tahu lagi karena pemilik motor berada di rumah, itu artinya yang mengendarai motor barusan adalah suaminya sendiri. Dan seharusnya ia tidak perlu bertanya atau mencari tahu lagi, mengingat obrolan suaminya dengan Ratu, seharusnya ia sudah berpikir ke arah sana.


Lalu setelah kamu tahu apa yang Jeff lakukan dengan Ratu, lantas apa yang akan kamu perbuat? Bukankah itu hanya akan menambah sakit hatimu saja? Mau kamu tahu apa yang dilakukan Jeff atau tidak, bukankah itu akan sama saja? Sama-sama menyakitkan untukmu, karena kamu tidak bisa mengubah statusmu. Kamu bertahan di sini bukan untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk kedua orang tuamu dan juga mertuamu. Bukankah kamu menghargai perasaan mereka? Jika kamu ingin terbebas dari sakit hati ini, itu artinya kamu harus tega.


Tapi jika aku tega melakukan sesuatu dengan pernikahan ini, itu artinya aku menyakiti banyak orang. Bagaimana dengan orang tuaku dan juga kedua mertuaku? Mereka menginginkan pernikahan ini berakhir dengan bahagia.


Di saat Rindu sedang bertengkar dengan dirinya sendiri, Jeon datang dengan membawa minyak urut di tangannya. Ia duduk di sebelah Rindu dan memberikan minyak tersebut padanya.


"Makasih, ya, Je. Aku langsung ke kamar."

__ADS_1


Rindu bersusah payah berusaha berdiri lalu berbalik. Namun, nampaknya ia terlalu keras saat meletakkan kakinya di lantai untuk berjalan sehingga refleks ia megaduh. Seperti biasa, jiwa perhatian dan kebaikan Jeon seketika bangkit dan menghujani Rindu degan pertanyaan.


"Kenapa Mbak? Nggak bisa buat jalan kakinya?" Jeon refleks merangkul lengan Kakak ipar yang usianya lebih muda darinya.


Rindu dengan segera menepis tangan-tangan itu dan berkata, "Nggak apa-apa, Je. Aku nggak apa-apa. Jangan begini tolong!"


Jeon sedikit terkesiap, "Terus aku harus gimana? Haruskah aku seperti kakakku yang membiarkan kamu begini? Melihat kamu kesakitan dan aku hanya melihat kamu berjalan sendiri begitu? Itu yang kamu mau? Kamu kenapa, sih? Aku tuh bingung jadinya, seingat aku Papa nggak masalah kita dekat asal tahu batasan. Apakah kamu berpikir aku ini tidak tahu batasan antara Kakak dan adik ipar? Sudah aku bilang berkali-kali kalau kamu mau menjaga jarak, silakan! Tapi jangan begini, kita tuh jadi kayak orang yang nggak akur."


"Terus kalau memang kita terlihat tidak akur, apa masalahnya, Je? Bukankah sebelum ini kita memang tidak saling kenal, kita tidak saling membutuhkan. Kita mau dekat atau tidak, nggak akan berpengaruh sama kehidupan kita, kan?"


"Iya, kamu benar. Tidak seharusnya aku protes apalagi memikirkan bahwa kamu butuh teman. Setelah aku melihat hubunganmu dengan suamimu, tidak seharusnya aku menawarkan diriku untuk menjadi temanmu dan menjadi telinga ketika kamu butuh seseorang untuk mendengar ceritamu. Jangan lupa, di rumah ini hanya aku satu-satunya orang yang tahu bahwa hubunganmu dengan suamimu tidak baik-baik saja. Apa kamu tidak tahu di luar sana banyak orang yang mengakhiri hidupnya dan berakhir di rumah sakit jiwa hanya karena sebuah permasalahan hidupnya. Mereka tidak punya tempat untuk cerita. Apa kamu mau menjadi salah satu di antara mereka, lalu membuat sedih semua orang yang berada di sekelilingmu? Lakukan saja jika kamu mau."


Jeon pergi setelah mengatakan itu. Ia sadar ia terlalu kasar dengan Rindu. Ia sadar bahwa caranya mungkin saja salah. Tapi ia merasa sudah kehabisan cara untuk membuat Rindu kembali terbuka dengannya. Ia sadar, ia tak ada hak untuk memaksa Rindu. Hanya saja hati kecilnya berkata lain, ia sangat ingin Rindu berbagi kesedihan dengannya. Ia tahu tidak ada wanita yang baik-baik saja jika mengetahui suaminya bermain belakang dan terlalu jauh bermain.


Jeon hanya memikirkan waktu itu tiba. Waktu di mana bom yang sedang terus memajukan waktunya itu akan meledak kapan saja. Entah berapa hati yang akan terluka. Dan ia hanya mau, saat itu tiba, Rindu sudah punya tempat meski hanya untuk bersandar.


Tapi, kenapa Jeon berpikir sejauh itu? Kenapa ia se peduli itu dengan Kakak iparnya? Apakah yakin, itu hanya rasa iba?

__ADS_1


__ADS_2