Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
35. Aku Harus Apa?


__ADS_3

Jeon mengendarai motornya dengan pelan. Ia menikmati malam bersama orang yang ia cintai meskipun dalam tangisan. Malam, bulan, dan bintang hari itu menjadi saksi, bahwa untuk pertama kalinya ia membawa Rindu dengan motornya dengan perasaan yang berbeda.


Beberapa menit mereka membelah jalanan. Jeon membelokan motornya ke sebuah tempat yang indah. Ada banyak sekali tanaman di sana. Semacam tempat wisata, hal itu terlihat dari banyaknya pasang muda-mudi yang sedang menghabiskan malam minggu dengan pasangan masing-masing.


Untuk sesaat, Rindu terhipnotis dengan pemandangan yang berada di depannya. Ribuan bunga yang berwarna-warni nampak indah jika di satukan. Jalanan setapak yang dipenuhi bunga kanan kirinya untuk sesaat mengalihkan perhatian Rindu.


Jeon menggenggam tangan Rindu dan membawanya ke dalam. Mengajaknya berkeliling sejenak untuk menikmati semua bunga yang ia yakin bisa membahagiakan Rindu barang sesaat.


"Suka sama tempatnya?"


"Suka."


Meraka berjalan dengan bergandengan tangan seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Siapa pun yang melihat mereka pasti akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang saling mengisi.


Jeon berjalan seraya menatap sekeliling. Ia sedang mencari tempat yang tidak terlalu ramai dijangkau oleh pengunjung. Tidak lucu jika ia membiarkan Rindu menangis dan dilihat oleh banyak orang saat bercerita apa yang sudah membuatnya menangis hingga sesenggukan.


"Kita duduk di sana mau?" Jeon bertanya seraya menunjuk ke suatu arah. Ada satu buah kursi panjang di sana, tepat di bawah lampu berwarna kuning yang tidak terlalu terang, namun masih bisa dilihat oleh banyak orang.


Rindu hanya mengangguk seraya menunduk. Saat menunduk itulah Rindu tersadar bahwa sejak tadi tangan mereka bergenggaman. Ia berusaha melepaskan, namun genggaman itu dieratkan oleh Jeon.

__ADS_1


"Je, ini salah."


"Kalau kamu tahu ini salah, seharusnya kamu nggak ikut aku. Seharusnya kamu menolak saat aku ajak ke sini. Kamu nggak ingat di restoran tadi? Kamu pasrah banget Rin, sama ajakan aku. Aku tahu ada yang membuat kamu terluka."


Jeon seakan tidak peduli bahwa Rindu ingin melepaskan tautan tangan itu. Dengan santainya ia menggeret wanita itu untuk melanjutkan perjalanan agar segera duduk di kursi yang sudah dekat dengan mereka.


"Di sini cukup sepi kalau kita ngobrol, nggak akan ada yang dengar. Coba ngomong kenapa kamu tadi nangis kayak gitu? Aku rasa kalau dimarahin orang aja nggak akan kayak gitu nangisnya."


Rindu menghembus nafas pelan.


"Aku bingung mau cerita dari mana. Kamu tahu usahaku untuk bertahan di pernikahan ini, kan? Aku sudah sangat berusaha untuk menjadi istri yang baikĀ  menantu yang baik, tapi..."


Rindu terisak di bawah telapak tangannya, wajahnya ia sembunyikan di sana. Pundaknya bergetar hebat menandakan bahwa tangisnya begitu menyakitkan.


Rindu kembali mendongak ketika tangan Jeon menyentuh pundaknya dengan lembut. Pandangannya ia arahkan pada bunga-bunga di depannya, ia sangat menghindari kontak mata dengan pria itu. Hingga saat ini pun, ia tidak bisa memungkiri bahwa Jeon adalah laki-laki yang bisa membuatnya nyaman untuk tempat cerita. Meski ia berusaha untuk menghindari, acuh, cuek, dan tidak peduli, tapi rasa itu tetap saja bersarang di hatinya. Apalagi sifat Jeon yang tetap bersikap baik dan lembut padanya, meskipun ia tahu dan sadar bahwa sikapnya beberapa bulan terakhir mungkin saja bisa menyakiti hatinya.


"Sejak kecelakaan yang menimpaku waktu itu, Jeff sedikit demi sedikit mengubah sikapnya, meskipun terlihat samar, tetapi aku merasakan kalau Jeff sudah tidak sejahat dulu. Aku berpikir kalau aku bisa menggeser Ratu dalam kehidupan dan hatinya. Aku sudah punya keyakinan itu sejak Jeff berubah. Tapi hari ini aku dipatahkan oleh harapanku sendiri. Aku menyesal karena sudah berharap terlalu jauh, akibatnya sekarang aku terluka terlalu dalam."


"Emang dia kenapa lagi? Apa yang dia lakukan sampai kamu begini?"

__ADS_1


"Dia ngirim ini." Rindu mengambil ponselnya dari dalam tas dan menyerahkan pada Jeon.


Mata Jeon seketika terbelalak melihat layar. Baginya, sudah biasa jika Jeff tidur dengan wanita itu berkali-kali, berpuluh-puluh kali, bahkan setiap hari pun ia tidak akan terkejut. Tapi melihat Jeff melangsungkan pernikahan dengan seorang Ratu, sungguh ini sangat di luar dugaan Jeon. Meskipun ia tahu Ratu hamil anak Jeff, Jeon tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu benar-benar terjadi. Ia tak pernah terpikir ke arah sana.


"Dia nikah sama Ratu, aku nggak tahu apa yang ada dipikirannya. Aku udah merasa berdosa dan tersiksa dengan mempertahankan pernikahan ini. Tapi lihat apa yang dia lakukan Jeff. Aku harus apa?"


Meskipun Jeon tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Rindu, ia tahu wanita itu pasti sangat sakit hati dan hancur dengan kenyataan ini. Suaminya menikah diam-diam, sudah pasti sangat menyakitkan. Belum lagi jika wanita itu tahu bahwa Ratu sedang hamil anak dari suaminya, pasti hancurnya berkali-kali lihat.


Jeon membawa Rindu ke dalam dekapannya, tak peduli ditolak atau tidak, ia akan tetap memaksa untuk memberikan bahunya pada wanita itu. Dan sehancur apa pun Rindu, ternyata ia masih mempertahankan keteguhannya. Ia tak mau menerima pelukan dari pria itu. Dengan halus ia mencoba untuk menolak dekapan Jeon.


"Kamu nggak akan kayak gini kalau kamu nggak ngerasain sesuatu sama aku, Rin. Kamu bersikap kayak gini karena kamu takut rasa nyaman kamu akan terus membawa kamu ke perasaan yang lain, kan? Aku mungkin nggak akan tahu rasanya jadi kamu, tapi aku tahu kamu pasti sakit. Ya walaupun aku nggak tahu sesakit apa kamu, kamu nggak boleh dan nggak pantes nangisin laki-laki kayak dia. Aku sampai bosan bilang ini sama kamu. Saat ini kamu cuman punya aku, kamu punya orang tua lengkap, keluarga yang lengkap, tapi mereka nggak tahu keadaan kamu yang sebenarnya. Yang tahu keadaan kamu itu cuman aku cuman, Rin. Cuman aku sama Tuhan. Kamu mau cerita ke siapa lagi selain sama aku dan Tuhan? Kamu mau bersandar ke siapa lagi selain sama aku dan Tuhan? Mungkin pelukanku nggak akan mengurangi rasa sakitmu, tapi setidaknya kamu bisa menjadi sedikit lebih tenang."


Biasanya, seseorang yang sedang menangis atau bersedih sensitif jika diberikan elusan di punggungnya, mereka akan lebih tersedu dan tenggelam dalam tangisan. Kepala yang semula kuat untuk menyangga, mendadak hilang kekuatan untuk berdiri tegap. Dan hal itu, ternyata berlaku juga untuk Rindu saat ini.


Dengan kencang ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jeon. Tangisannya makin terisak dan semakin menyakiti Jeon.


"Menangis sepuasnya sekarang, aku akan temani dan tunggu kamu sampai kamu tenang." Jeon mengelus kepala belakang wanita itu dengan lembut.


"Aku harus gimana? Aku harus apa, Je? Pernikahan ini terlalu menyakitkan untukku. Aku sudah sangat sakit bertahan hingga detik ini, tapi jika aku menyerah, bagaimana kedua orang tua kita? Apalagi papaku yang sudah sering keluar masuk rumah sakit. Aku harus gimana, Je?" Rindu semakin terisak saat mengingat sang Ayah.

__ADS_1


__ADS_2