Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
21. Rencana Yang Mulus


__ADS_3

Jeon tanpa pikir panjang langsung melompati motornya. Mendapat pesan seperti itu dari Rindu tentu saja membuatnya tidak sempat untuk berpikir jernih. Membaca kalimat di sekap seseorang, tidak ada yang tidak panik jika mendapat pesan seperti itu.


Sebisa mungkin Jeon mengendarai motornya dengan kencang, menyalip-nyalip kendaraan yang berjalan lambat, menerobos lampu merah. Entah sadar atau tidak dengan apa yang ia lakukan, ia sedang menaruhkan nyawa demi seseorang yang sedang berusaha ia jauhi.


Usaha Jeon untuk mengorbankan nyawanya untungnya tak merugikan dirinya, ia berhasil sampai di hotel dengan selamat dan


Grap


Sesorang dari belakang berhasil membuat Jeon tidak sadarkan diri karena bungkaman bius. Hanya hitungan detik saja, Jeon sudah tak sadarkan diri dan dibawa oleh tiga orang yang sama yang membawa Rindu tadi.


Dengan gaya seakan memapah sesorang yang sedang mabuk, mereka bertiga sukses membawa Jeon ke kamar yang sama dengan Rindu tanpa banyak hambatan.


"Lucutkan bajunya juga. Jangan ada sisa, buat mereka dengan posisi seolah mereka baru saja melakukan hubungan badan dan tutup dengan selimutnya."


Jeff memberi perintah seraya berusaha mencari ponsel Jeon. Begitu ia menemukannya, segera ia hapus pesan dari ponsel Rindu. Setelah semua selesai, Jeff mengajak semuanya untuk pergi dari sana. Membiarkan mereka berdua tidak sadarkan diri dengan keadaan tanpa busana dan dalam satu selimut yang sama. Siapa pun yang akan melihat mereka tertidur dengan posisi berpelukan seperti itu sudah dipastikan akan salah paham. Meski dijelaskan sekeras apa pun, pembelaan mereka tidak akan dapat di dengar.


Semua berjalan seperti keinginan Jeff, kedua orang tua yang dijadwalkan pulang malam ini, pukul delapan malam mereka sudah tiba di rumah. Hanya Jeff yang menyambut kedatangan mereka dan itu tentu saja menjadi tanda tanya besar di kepala Pak Jo dan istrinya.


"Itulah, Pa. Dari aku pulang kantor tadi itu Rindu dan Jeon nggak ada di rumah. Kalau kata Bibi Rindu sedang supermarket depan sana. Kalau Jeon aku nggak tahu, entah apa yang membuat mereka belum pulang sampai sekarang." Itu adalah jawaban ketika ditanya mengenai perihal keberadaan Rindu.


"Telfon dong, Jeff. Kamu ini suaminya kok diam aja. Kalau ada apa-apa sama Rindu gimana?" protes Bu Merlin.

__ADS_1


"Udah, Ma. Nggak diangkat sama Rindu."


Jeff meraih gawainya, seakan membuat pergerakan bahwa dirinya sedang berusaha untuk menghubungi istrinya kembali. Namun, disaat bersamaan ia menerima sebuah pesan yang mengatakan bahwa Rindu sedang berada di sebuah hotel.


"Ma, Pa. Salah satu temanku mengirim pesan dan memberitahu kalau dia melihat Rindu di sebuah hotel. Aku susul dia aja kalau gitu."


"Hotel? Untuk apa dia pergi ke hotel malam-malam?"


"Itulah yang nggak aku tahu, Pa. Sepertinya kita harus ke sana."


"Kita?" ulang Pak Jo.


"Iya, kita semua. Barangkali Rindu membutuhkan pertolongan kita di sana nanti, ya, kan? Kita nggak tahu apa yang terjadi di sana, temanku hanya melihat Rindu berada di hotel tanpa memberitahu dengan siapa dia di sana. aku takut terjadi apa-apa aja, Pa. Dan bagaimana jika aku butuh bantuan?"


Jeff mengikuti langkah kedua orang tuanya yang kembali menuju mobil. Mereka bertiga kembali berada di jalanan di tengah gelapnya malam. Langit begitu ramai dengan gemerlap bulan dan ribuan bintang. Hamparan luas ciptaan Tuhan itu seakan sedang menunjukkan dan mewakilkan perasaan Jeff sekarang. Tidak ada yang tahu seberapa ia bahagia dan puas dengan apa yang ia lakukan hari ini.


Begitu sampai di hotel, Jeff bertanya pada resepsionis di mana kamar Rindu. Mereka bertiga berjalan berduyun-duyun menuju kamar yang disebut oleh resepsionis tadi.


"Jeff mungkin kamu salah orang, mungkin saja temanmu itu juga salah lihat. Mana mungkin Rindu menginap di hotel ini, sedangkan dia punya rumah." Pak Jo berusaha untuk menolak apa yang beliau lakukan ini.


"Nggak ada salahnya untuk mencoba, Pa. Rin, Rindu, apakah kamu di dalam? Jawab aku kalau ada di dalam. Ini aku Jeff."

__ADS_1


Beberapa kali Jeff mengetuk dan memanggil nama Rindu, bukannya pintu yang terbuka, namun justru ia malah mendengar jeritan suara Rindu dari dalam. Untuk melengkapi aktingnya, Jeff memasang wajah panik sekaligus terkejut lalu membuka pintunya dengan paksa.


Jeduaaarrr!


Semua orang yang berada di kamar hotel itu terkejut dengan apa yang mereka lihat. Rindu dan Jeon terkejut dengan keadaannya yang tanpa busana, ditambah lagi mereka diperkoki oleh kedua orang tuanya. Pak Jo dan Bu Merlin pun terasa dibuat mati mendadak dengan pemandangan yang mereka lihat. Melihat mereka yang berada di satu tempat tidur dalam keadaan satu selimut, ditambah lagi mereka tanpa mengenakan apa pun. Hati siapa yang tak remuk melihat pemandangan seperti itu.


Wajah tekejut Pak Jo beberapa saat kemudian berubah menjadi jadi merah padam. Terlihat jelas dari guratan wajahnya beliau sangat murka dengan apa yang mereka lihat.


"Pakai baju kalian dan pulang sekarang!"


"Ini yang kamu lakukan di belakang aku, Rindu? Seandainya kamu tahu aku, sedang berusaha membuka hati buat kamu. Aku mencoba untuk mencintai dan menerima kamu sebagai istriku, tapi belum apa-apa hatiku sudah kamu patahkan dengan apa yang kamu lakukan."


"Sudah Jeff. Tinggalkan mereka berdua, biarkan mereka memakai pakaiannya. Kita bisa bicara hal ini di rumah, jangan membuat keributan di tempat orang." Pak Jo menyentuh bahu sang anak.


"Papa tunggu kalian di luar."


Bibir Rindu dan Jeon seakan terkunci. Jangankan untuk membuka mulutnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Untuk memahami diri mereka sendiri, bagaimana bisa berada di tempat yang sama dan dalam keadaan seperti ini saja mereka tidak mengerti.


"Aku tidak ingat apa pun. Tolong, aku sama sekali tidak ingat bagaimana kita bisa ada di sini. Aku merasa aku tidak pernah melepas baju, tidak pernah melakukan hubungan yang ... Bagaimana kamu bisa ada di sini, Jeon? Aku..." Rindu terisak. Namun, beberapa saat kemudian ia teringat.


"Tunggu, aku ingat sekarang. Kamu yang melakukan ini Jeon? Apa kamu yang merencanakan hal busuk ini? Aku ingat kalau aku dibawa paksa oleh seseorang, tapi aku tidak ingat dibawa ke mana. Apa maksud kamu merencanakan ini, Jeon? Kamu menipuku kamu melakukan hubungan menjijikan ini untuk merusak rumah tanggaku? Jahat kamu, Je." Rindu memberikan pukulan berkali-kali di tubuh Jeon.

__ADS_1


Sementara Jeon tidak mempedulikan tubuhnya menerima pukulan bertubi-tubi. Ia sedang berusaha untuk mengumpulkan nyawa dan juga mengingat sesuatu yang terjadi sebelum ia tidak sadarkan diri.


__ADS_2