Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
18. Gagal


__ADS_3

Di tengah malam, sayup-sayup Rindu mendengar suara Jeff yang sedang bicara. Ia membuka mata perlahan, mencari sumber suara yang ternyata ada di depannya. Pria itu tengah berbaring di sofa dengan ponsel di telinga.


"Ya udah kamu istirahat, pasti cape habis perjalan jauh. Besok aku udah pulang dan mungkin aku akan memakai cara seperti di sini saat akan menemuimu. Jadi siap-siap kita akan kembali seperti dulu sering bertemu di setiap malam."


Meskipun baru terbangun dari tidurnya, telinga Rindu masih bisa digunakan untuk mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Jeff dengan sangat jelas.


Setiap malam? Jadi mereka sering bertemu setiap malam? Apa yang mereka lakukan? Astaga, bagaimana aku bisa melupakan ini? Kemarin mereka tinggal di satu hotel yang sama dan apakah mereka juga tinggal di satu kamar? Apakah sejauh itu hubungan suamiku dan Ratu? Sepertinya aku harus mencari tahu.


Sayang sekali, Rindu tidak bisa mendengar lagi percakapan itu lebih banyak dan dalam, karena Jeff menyudahi perbincangan itu tepat setelah Rindu mendengarkan kalimat terakhirnya. Tak apa, setidaknya ia bisa mendapatkan setitik cahaya untuk mengetahui sejauh mana hubungan Ratu dan Jeff yang memang seharusnya sudah ia cari tahu sejak awal pernikahan.


***


Keesokan harinya, mereka pulang dengan membawa keromantisan palsu yang sudah di setting oleh Jeff sedemikian rupa. Terlalu singkat bagi seseorang yang berbulan madu hanya dua hari, namun bagi mereka dua hari itu terasa lama dan membosankan.


"Kenapa kakimu, Rin?" Bu Merlin yang bertanya, karena hanya orang itu yang mengetahui sepasang suami istri itu sampai di rumah.


"Jatuh, Ma. Jalannya nggak hati-hati, nggak apa-apa, ini cuman keseleo. Beberapa hari juga sembuh. Kita langsung ke atas, ya, Ma. Biar bisa istirahat juga Rindu. Papa belum pulang?"


"Belum, mungkin sebentar lagi. Ya udah sana istirahat, nanti aja ketemu Papa pas makan malam. Hati-hati jalannya."


Mereka melanjutkan jalan dengan posisi yang masih sama seperti saat turun dari mobil. Posisi di mana Jeff menuntun istrinya dengan pelan dan terlihat penuh kasih sayang. Jeff memang pandai jika harus berpura-pura apalagi mendebat seseorang.

__ADS_1


"Aku rasa kau bisa berjalan sendiri, sudah tidak ada orang. Aku nggak perlu berpura-pura. Kau jalan sendiri ke kamar. Sekalian latihan, aku bukan baby sitter mu yang harus menuntunmu ke mana-mana."


Jeff melipir ke halaman samping rumah seraya tangannya merogoh saku dan mengeluarkan ponsel dari sana. Ia membuat gestur seolah-olah sedang menerima panggilan. Otak licik Jeff memang selalu lancar jika diminta untuk menipu keadaan.


Tidak mau disebut manja, Rindu berusaha untuk berjalan dengan tertatih menaiki tangga. Katupan di bibirnya tidak bisa bohong, wanita itu sedang menahan sakit saat kakinya yang terkilir menapaki tangga. Namun, ia tak mau menyerah, ia terus berjalan menuju kamar agar segera bisa merebahkan dirinya. Rasa sakit yang ia rasakan sekarang tak sebanding jika dengan sakit hati yang ditorehkan oleh Jeff.


"Mbak Rindu udah pulang? Kakinya kenapa? Kak Jeff mana?" Jeon yang sudah rapi dan hendak keluar rumah berpapasan dengan Kakak iparnya.


"Iya, baru aja sampai rumah. Nggak apa-apa, kakinya terkilir doang kok. Kalau rajin diurut beberapa hari juga sembuh. Aku lanjut jalan, ya. Mau istirahat."


Jeon hanya mengangguk seraya memperhatikan kaki Rindu yang terlihat sedikit bengkak. Pandangannya ia edarkan ke segala penjuru arah yang tak ia dapati sosok Jeff di sudut mana pun.


Hal ini menambah daftar kecurigaan Jeon terhadap kakaknya sendiri. Dari awal pernikahan dan kejadian malam di mana Jeff mengambil potret dirinya yang bersama Rindu, ia sudah menaruh kecurigaan bahwa ada yang direncanakan oleh kakaknya. Apalagi jika ia ingat obrolannya dengan Rindu malam itu.


Jeon kembali melangkah setelah melihat Rindu masuk kamar. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika di anak tangga yang paling bawah. Tak sengaja sudut netranya melihat sosok Jeff yang berdiri membelakangi jendela kaca. Jeon menyipitkan mata demi melihat apa yang dilakukan oleh kakaknya.


Menelepon seseorang? Kenapa aku jadi ingin tahu siapa yang ditelepon? Memang siapa yang lebih penting selain mengantar istrinya ke kamar dalam keadaan pincang?


Jeon menguping, ia tahu ini tidak sopan, tapi entah mengapa ia masih tidak terima dengan sikap Jeff sebulan yang lalu. Mengetahui istrinya berdua dengan dirinya di dapur, bukannya menegur, tapi malah memfoto dan menunjukkan kepada kedua orang tuanya. Bukankah itu hal yang sangat mencurigakan? Untuk apa Jeff melakukan itu jika tidak mempunyai tujuan tertentu.


"Iya, Sayang. Aku usahakan nanti malam untuk apartemen kamu, ya. Aku tutup dulu."

__ADS_1


Jeon bersembunyi di balik pintu, sebisa mungkin ia menahan nafasnya saat Jeff kembali masuk ke rumah. Sudah ia sangka bahwa Jeff tidak secepat itu berubah.


***


Sesuai yang dijanjikan Jeff tadi sore pada sang kekasih. Ia berjalan mengendap-endap seraya melihat sekeliling, memastikan keadaan aman. Dalam keadaan gelap gulita, ia berjalan tanpa bantuan pencahayaan apa pun. Ia berjalan sepelan dan sesamar mungkin agar tidak ada yang mendengar langkahnya.


Jeff sedikit bisa bernafas lega setelah tangannya berhasil meraih gagang pintu utama. Dengan segera ia memutar kunci untuk membuka pintu dan di detik berikutnya, benda persegi itu berhasil ia buka, namun di saat yang bersamaan lampu ruang tamu juga menyala. Jeff urung melanjutkan langkahnya, bahkan bukan hanya langkahnya saja yang terasa terhenti, namun detak jantungnya juga terasa tak berfungsi dengan baik.


"Kakak mau ke mana?"


Mengetahui bahwa orang yang memergoki dirinya bukan sang ayah, seketika Jeff memutar tubuhnya.


"Oh kupikir siapa. Sepertinya bukan urusanmu aku mau ke mana. Kenapa kau senang sekali mengurusi urusan orang lain? Urus saja dirimu sendiri dan pikirkan bagaimana cara membalas budi pada orang tuaku. Fokuskan pada kedua hal itu saja, jangan pernah urusi urusanku." Jeff kembali memutar badan hendak keluar rumah.


"Justru apa yang aku lakukan ini adalah caraku membalas budi kepada orang tuamu. Aku nggak mau orang tuamu sedih melihat kelakuan anaknya yang begini."


"Kau bisa balas budi dengan caramu sendiri tanpa melibatkan aku. Lagi pula Apa yang kau lakukan di sini?"


"Menunggu ini. Aku tahu Kakak masih berhubungan dengan Ratu, kan? Kakak sudah berhasil membuat Papa percaya, tapi kenapa sekarang Kakak malah merusaknya? Setidaknya kalau Kakak tidak peduli dengan Rindu, Kakak bisa memikirkan bagaimana perasaan Mama sama Papa kalau tahu hal ini. Mereka pasti sedih, Kak. Anak kandung satu-satunya, harapan satu-satunya, justru malah menghianati mereka."


"Kau bisa simpan ceramah itu untuk orang lain. Jangan berikan petuah apa pun yang bisa merusak telingaku."

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


Kakak beradik itu seketika memutar kepala ke arah sumber suara. Dan mata keduanya sama-sama membola.


__ADS_2