Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
56. Masa Lalu


__ADS_3

"Kamu pulangnya hati-hati, ya. Nanti kalau sampai rumah jangan lupa kabarin aku. Harus kabarin aku! Sekali lagi aku minta maaf, ya. Aku nggak bisa antar."


Jeon dan Rindu kini sedang berdiri di halaman rumah sakit untuk menunggu taksi online yang sudah Jeon pesan untuk mengantar Rindu pulang.


"Nggak apa-apa, aku ngerti kok. Jangan terlalu khawatir, aku bisa jaga diri."


"Gimana aku nggak khawatir? Ini sudah malam dan aku malah memintamu untuk pulang sendiri. Kalau tahu begini mungkin aku tadi akan mengantarmu pulang lebih dulu."


"Aku pernah mendengar kalimat dari seseorang. Jika kamu mencintai seseorang, maka kamu harus percaya sama orang itu."


Jeon mengulum senyumnya, tangannya terangkat untuk ia letakkan di puncak kepala wanita itu dan mengacak rambutnya pelan. Tak berselang lama, taksi yang di pesan Jeon datang.


"Pak, tolong antar calon istri saya sampai di rumah dengan selamat, ya."


Rindu terkejut. Ya, Rindu hanya terkejut saja. Tidak ada penolakan atau apa pun yang ia lakukan. Justru wanita itu nampak memerahkan pipinya dan mengatupkan mulut menahan senyum. Tak mau salah tingkahnya ini diketahui oleh Jeon, ia segera masuk ke dalam taksi.


"Jangan lupa kabarin kalau udah sampai rumah." Entah sudah berapa kali Jeon mengatakan itu pada Rindu.


Jeon mematung sejenak di tempat, ia mengantar kepergian Rindu dengan ekor matanya. Setelah taksi itu tidak terlihat, ia kembali masuk rumah sakit. Ia masih ingat bahwa ia meninggalkan kakaknya seorang diri di sebuah ruangan dengan almarhumah istrinya.

__ADS_1


Jeff benar-benar terpukul dengan kepergian istrinya. Ia hanya mampu duduk berdiam diri seraya memandangi jasad Ratu yang terbujur kaku. Tidak ada ucapan, histeris, tangisan, atau tindakan apa pun yang menunjukkan bahwa ia sedang berduka. Sangat jauh berbeda dengan saat ia berada di luar ruangan tadi.


Dan apa yang dilakukan oleh Jeff ini malah membuat Jeon semakin prihatin. Berdiam diri dan tidak mau menunjukkan ekspresi apa pun saat kehilangan seseorang adalah respon yang paling menyedihkan.


"Kalau mau nangis, nangis aja, Kak. Jangan ditahan, nggak akan baik untuk kesehatan."


Tidak ada respon dari Jeff. Pria itu mengingat kebersamaannya dengan Ratu setelah menikah. Diawal pernikahan yang penuh dengan pertengkaran dan perdebatan. Ratu yang tidak pernah mau mengalah dan selalu ingin dituruti maunya.


Dan dirinya yang keras kepala dan tenggelam dalam masalahnya. Tenggelam dalam perasaan aneh yang tiba-tiba muncul untuk Rindu. Perasaan ingin mempertahankan rumah tangganya dengan wanita yang dahulu ia benci, sungguh masa itu adalah masa yang membuat Jeff menyesal karena sudah sempat mengabaikan Ratu meski hanya sesaat.


Untunglah kenangan buruk itu bisa ia ganti dengan perubahan yang ternyata juga membawa perubahan bagi Ratu. Setidaknya ia bisa mencurahkan kasih sayang sepenuhnya di hari-hari terakhir wanita itu.


"Kenapa, Rat? Kenapa kamu tega? Kamu pernah bilang sama aku kalau setelah anak kita lahir, kamu mau aku ajak ke rumah untuk menemui orang tuaku. Katanya kamu juga mau berjuang untuk mendapat restu dari kedua orang tuaku. Kenapa kamu malah menyerah sebelum berjuang? Kamu ingkar janji, Rat. Harus bagaimana aku jelaskan sama anak kita nanti kalau menanyakan ibunya?"


Jeff mengatakan itu semua dengan mulut bergetar, ia tak mau menangis di depan jasad istrinya, ia berusaha sekuat yang ia bisa untuk tidak menangis. Untuk yang terakhir kalinya, ia mencium kening istrinya dengan lama.


"Tidurnya yang nyenyak, kamu memang nggak bangun lagi. Tapi nama kamu akan selalu ada di hati. Terima kasih sudah menjadikan aku laki-laki terakhirmu," bisik Jeff dengan lembut.


Setelah kata-kata terakhir dari Jeff, jasad Ratu dibawa oleh petugas kesehatan, jasad Ratu akan dimandikan terlebih dahulu sebelum dibawa ke rumah duka untuk di kebumikan. Selama proses itu, kedua pria itu hanya menunggu dengan diselimuti duka.

__ADS_1


"Kakak yang sabar. Ini sudah jalan dari Tuhan. Akan ada hikmah di setiap kejadian yang menyapa kita."


"Iya, aku ikhlas meskipun berat."


Tak berselang lama, kedua orang tua Jeff datang. Bu Merlin seketika memeluk anaknya dengan isakan. Rasa rindu yang membuncah ditambah dengan duka anaknya rasanya beliau tak sanggup jika menahan tangisnya. Sementara Pak Jo hanya diam seraya memandang ke segala arah.


"Iya, Ma aku nggak apa-apa. Aku kuat, atas nama Ratu aku minta maaf. Terlalu banyak kesalahan kami. Dia sudah pergi dengan membawa kesalahan yang belum sempat ia mohonkan maafnya. Aku mohon, Mama sama Papa maafin segala kesalahan Ratu."


"Iya. Kami sudah memaafkan dia. Lupakan, sudah lupakan saja apa yang terjadi kemarin. Anak kamu gimana? Dia selamat, kan?"


"Iya. Masih ada di ruang perawatan, dia harus di inkubator karena belum waktunya lahir."


"Nggak apa-apa, yang penting dia baik-baik saja. Nanti siapa yang jaga mewakili keluarga selama proses pemakaman ibunya?"


"Biar aku aja, Ma," sahut Jeon.


Dan beberapa jam setelah itu, ia berdiri di salah satu ruangan yang tidak besar. Ia melihat di jendela kaca seorang bayi yang sedang berjuang sendirian dalam sebuah ruangan khusus untuknya.


Senyumnya terulum dengan manis. Jeon adalah tipe pria yang sangat menyukai anak kecil. Itulah sebabnya kenapa ia menjadi seorang dokter kandungan. Selain itu ia juga mempunyai alasan yang kuat kenapa ia ingin mengambil profesi itu.

__ADS_1


Melihat bayi yang teronggok sendirian itu mengingatkan pada dirinya sendiri. Entah sudah berapa jam bayi itu tidak disentuh oleh ibunya. Bahkan selamanya ia tidak akan pernah bisa merasakan sentuhan tangan dari ibunya sendiri. Bukankah bayi itu dan dirinya memiliki nasib yang sama? Bedanya, bayi itu masih memiliki sisi keberuntungan, yakni masih memiliki seorang ayah dan akan disayangi banyak orang, sedangkan dirinya? Rasanya sakit sekali jika mengingat dirinya dibuang di tempat sampah. Tidak adakah tempat yang lebih layak untuk ia tinggali selain tempat sampah?


Hingga kini ia tidak tahu siapa ibu kandungnya, siapa ayahnya, siapa nama mereka. Apakah ia mempunyai saudara kandung, apakah kedua orang tuanya masih hidup? Sungguh ia tidak mengetahui apa pun soal kedua orang tuanya. Entah bagaimana caranya ia mencari tahu keberadaan kedua orang tua kandungnya, kedua orang tua asuhnya juga tidak tahu sama sekali perihal kedua orang tua kandungnya.


__ADS_2