Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
45. Satu Hari Denganmu


__ADS_3

Rindu dengan wajah linglung mengusap keningnya pelan. Yang baru saja diberikan oleh Jeon tadi benar-benar membuatnya speechless dan seperti entah bagaimana ia menjelaskannya. Jeon sudah tidak terlihat lagi, tapi debaran yang ia timbulkan masih terasa di jantungnya.


Nasibnya tak terlalu buruk untuk urusan percintaan, meskipun ia disakiti begitu dalam oleh suaminya sendiri. Masih banyak orang yang memperhatikan dirinya dengan tulus selain kedua orang tuanya.


Bersyukur? Tentu saja ia masih memiliki rasa syukur meski ia sedang merasakan sakit yang bukan main-main. Rasa sakitnya memang tak mudah sembuh hanya dengan karena cinta dan perhatian dari orang sekitar, tapi setidaknya ada yang peduli dengan hatinya, itu cukup sebagai penghibur hatinya yang lara.


***


Jeff yang sakit hati dan cemburu dengan kedekatan adik dan wanita yang masih sah menjadi istrinya itu hanya bisa melampiaskannya dengan berdiam diri di sebuah club. Dikelilingi oleh beberapa wanita dan beberapa gelas alkohol yang terpasang di depan meja. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke tempat haram seperti ini.


Entah berapa jam ia menghabiskan waktu di tempat itu. Ia baru tersadar bahwa malam sudah semakin larut saat club tersebut semakin lama semakin ramai. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 23.00, ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Ia berharap begitu sampai rumah sudah bisa merebahkan dirinya, ia sudah lelah jika harus menghadapi Ratu di tengah malam begini.


Dan harapan Jeff untunglah malam ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Ia melihat Ratu sudah tertidur dengan tenang di bawah selimut hangatnya. Ia menatap wajahnya wanita yang duu begitu ia cintai hingga mengorbankan siapa pun yang ada di sekelilingnya, bahkan kedua orang tuanya.


Entah kenapa setelah semua rentetan kejadian yang begitu memuakkan baginya, ia sudah tidak ada lagi keinginan yang sama. Ratu mencintainya, tapi ia tidak bisa memperlakukannya seperti seorang suami.


Ratu dan Rindu sama-sama seorang perempuan. Namun, setelah tinggal bersama dengan kedua wanita itu, ia sekarang mengerti apa yang membedakan mereka. Cara mereka memperlakukan Jeff sangatlah berbeda. Dan tidak bisa dipungkiri, Jeff merindukan perhatian kecil yang pernah ia abaikan dari Rindu.


Malam itu Jeff tertidur dengan membawa ingatan-ingatannya saat hampir satu tahun menjalin rumah tangga dengan Rindu. Dan angan-angan itu rupanya ia bawa hingga mimpi. Dan semesta seakan tak mengizinkannya untuk bermimpi mengenai keindahan, ia pun terbangun saat terdengar suara adzan subuh entah dari sudut mana.

__ADS_1


Jeff terduduk sesaat, ia kembali memandangi wajah pulas istrinya. Sungguh ia bingung dengan perasaannya, terkadang tiba-tiba muncul rasa bersalah pada Ratu, terkadang rasa itu muncul untuk Rindu, entahlah sungguh sekarang saat ini ia terasa tidak tenang dengan kehidupan yang ia buat sendiri.


Dan rasa bersalah terhadap Rindu itu ia bawa hingga satu minggu kemudian. Tapi bukan hanya rasa bersalah saja, ia juga tiba-tiba merindukan wanita yang saat ini proses perceraiannya masih berjalan. Sebelum ia benar-benar menyandang status mantan suami Rindu, ingin sekali rasanya ia menghabiskan waktu dengan wanita itu satu hari penuh. Hanya untuk terakhir kali saja, setelah itu ia akan fokus dengan Ratu dan anaknya.


Hari itu weekend pagi baru saja menyambut. Jeff sedang bersiap akan bertemu dengan Rindu. Butuh waktu beberapa hari bagi dirinya untuk meyakinkan Rindu bahwa ini adalah pertemuannya yang terakhir. Ia sudah berjanji setelah itu tidak akan menggangu lagi kehidupan wanita itu.


"Untuk terakhir kalinya, Rin. Mumpung perceraian kita belum resmi, kamu dan aku masih sah menjadi pasangan. Sehari saja, habiskan waktu denganku untuk yang terakhir. Setelah itu aku nggak akan ganggu kamu. Aku ingin menghabiskan waktu sebagai suamimu meski hanya sehari. Aku ingin memerankan peran yang seharusnya aku perankan dari dulu. Aku akui ini terlambat, tapi setidaknya beri aku satu hari untuk sebuah kenangan yang akan aku ingat."


Kalimat itu membawa Rindu mengatakan iya untuk pertemuan mereka hari ini. Pukul 09.00 Jeff sudah berada di tempat wisata bunga yang di mana sebenarnya Rindu pernah ke sini sebelumnya.


Sekitar sepuluh menit Jeff menunggu kedatangan Rindu, ia adalah salah satu orang yang tak biasa menunggu seseorang. Namun, kali ini ia akan menunggu dengan memaksakan diri untuk bersabar hingga Rindu datang.


"Maaf kalau aku membuatmu menunggu lama." Rindu datang lalu duduk di sebelah pria itu.


"Makasih sudah mau nurutin aku. Gimana keadaan Papa?"


"Sudah sehat, Papa sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Aku bersyukur kenyataan pahit ini tidak membawa Papa pergi dalam kehidupan aku."


"Maaf." Entah sudah berapa ribu kali Jeff mengucapkan satu kata itu. Rasanya setiap hari mengucapkannya pun tidak akan cukup untuk mengembalikan Rindu ke dalam kehidupannya apalagi menyembuhkan luka hatinya.

__ADS_1


"Sudah terlalu sering kamu ucapkan itu. Aku nggak mau dengar lagi, aku sudah memberikan maaf pada semuanya. Aku mau hidup tenang dengan tidak terbayang pada luka masa lalu. Aku memang belum sembuh benar, tapi aku akan membuat hatiku sembuh secepatnya. Apa saja yang akan kita lakukan hari ini? Rasanya tidak mungkin kita habiskan waktu di sini sampai sore, kan?" Rindu tidak mau membahas sesuatu yang sudah-sudah atau kejadian lama yang justru membuat luka hatinya semakin parah.


"Aku berniat untuk di sini sampai jam makan siang. Setelah kita makan siang aku ingin membawamu belanja. Anggap saja itu nafkah terakhir dariku. Kamu mau?"


"Nafkah pertama dan terakhir. Sepertinya kamu lupa kalau kamu tidak pernah memberiku nafkah lahir batin selama pernikahan kita."


Hati Jeff seketika tercubit. Sepertinya apa pun yang akan ia katakan akan menyerang dirinya jika tidak bicara dengan hati-hati.


"Tapi lupakan masalah itu, aku tidak akan menuntutmu hanya karena nafkah. Aku sudah mengikhlaskannya."


Rindu melihat bunga di sekelilingnya, ia ingat Jeon pernah membawanya ke sini malam hari. Pemandangannya memang cukup berbeda, sama-sama nampak indah. Namun bagi Rindu, keindahan itu tetap ia nikmati saat malam hari. Meski hatinya sakit saat itu, setidaknya ia pergi dengan seseorang yang membuatnya menjadi diri sendiri. Kepribadian yang sebenarnya cengeng dan manja ia perlihatkan pada seseorang yang seharusnya hanya menjadi teman atau sekedar adik ipar.


Tanpa sadar Rindu mengulum senyumnya saat mengingat ia mendatangi tempat ini di malam hari.


"Kamu suka tempatnya? Kamu belum pernah ke sini, kan? Tempat ini baru beberapa bulan yang lalu dibuka."


"Aku sangat suka tempatnya. Bagus, indah, dan menyenangkan. Jika ke sini dalam keadaan bersedih hati, pasti kesedihannya akan sedikit berkurang atau bahkan mungkin berkurang setengahnya."


"Tapi aku berharap jika kamu suatu saat nanti ke sini lagi tidak dalam keadaan sedih."

__ADS_1


"Tidak ada alasan untuk sedih. Tidak ada lagi hal yang membuat aku terluka. Aku yang memastikannya. Kamu tenang aja."


Entahlah, Jeff merasa setiap kalimat dari Rindu selalu saja mengarah pada dirinya. Seperti sedang menambah rasa bersalah yang sebenarnya ia sendiri sudah tenggelam di sana tanpa Rindu mengingatkannya dengan kalimat sindiran halusnya.


__ADS_2