Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
34. Ratu Yang Usil


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Jeff dan Ratu akan melangsungkan pernikahan sirinya. Keduanya sudah berada di rumah yang sudah Jeff sediakan untuk Ibu dari anaknya itu. Mereka melangsungkan akad nikah di rumah dan hadiri oleh beberapa orang yang sudah dibayar oleh Jeff.


Setelah kata sah yang diucapkan oleh beberapa saksi, keduanya langsung istirahat. Tak ada pesta atau semacamnya. Sungguh pernikahannya hari ini adalah pernikahan yang paling tidak pernah dipikirkan oleh Ratu. Angan-angan dan juga bayangan pernikahan yang megah, mewah, elit, semuanya hanya benar-benar mimpi bagi Ratu.


Setelah selesai ganti baju dan membersihkan diri, mereka istirahat di kamar. Keduanya sedang duduk di atas tempat tidur yang sudah dihias sendiri oleh Ratu. Banyak bunga mawar di atas ranjang mereka, hiasan yang sepatutnya di lihat dan dihancurkan ketika malam hari, kini mereka hancurkan siang itu juga.


Jeff yang sebenarnya tidak ingin bergulat di siang hari, terpaksa harus menuruti istri keduanya karena jika tidak dituruti, maka reaksi yang diberikan oleh Ratu sangat berlebihan. Ia tak mau ada pertengkaran hanya perkara yang kecil saja.


Selesai bergulat, Jeff merebahkan dirinya dengan memejamkan mata. Melihat Jeff yang terlelap membuat Ratu tiba-tiba muncul pikiran jahat. Ia mengambil ponsel Jeff dan memotret kebersamaan dirinya dan Jeff. Tak lupa ia memamerkan cincin. Selesai mengambil gambar, ia mengirimkan gambar dirinya sendiri dengan Jeff pada Rindu. Ia memperlihatkan dirinya dan Jeff tidur bersama di bawah selimut yang sama dengan hiasan yang sudah berserakan. Semua orang yang melihat foto itu pasti akan berpikiran bahwa mereka selesai melakukan malam pertama. Tak lupa ia tambahkan foto saat mereka melangsungkan akad nikah.


"Send. Selamat menikmati kehancuran Rindu," ujar Ratu tertawa.


***


Untuk yang kesekian kalinya, Jeon harus kembali gigit jari karena Rindu masih bertahan dengan temboknya. Rupanya tak mudah bagi Jeon untuk meruntuhkan dinding yang diciptakan wanita itu.


Rindu sudah tak menjauh darinya, namun wanita itu terlihat cuek dan acuh padanya setelah acara ulang tahun perusahaan sang Ayah.


"Sudah ada rencana mau melamar jadi dokter di rumah sakit mana?" Pak Jo bertanya pada sang anak yang nampak melamun. Pria itu datang ke rumah orang tuanya untuk meredakan kerinduan pada seseorang, namun ternyata orang tersebut tak ada di rumah.


"Sudah, Pa. Aku sudah ada ancang-ancang mau kerja di mana. Sebentar lagi aku lulus dan akan terjun langsung menangani pasien. Pasti sangat menyenangkan."


"Bagus. Papa sudah tidak meragukan dan mengkhawatirkan masa depan anak bungsu Papa. Pasti sudah ada dalam pikiran dan tertata rapi di sana. Bagaimana? Kamu betah tinggal di rumah yang baru tanpa kami?"

__ADS_1


"Aku tidak biasa sendiri, aku sering nggak bisa tidur. Kalau di sini pas aku nggak bisa tidur, aku bisa panggil Mama dan tidur dipangkuannya, tapi mulai sekarang aku harus bisa mengatasi masalah ini sendiri."


Pak Jo hanya manggut-manggut, sebenarnya beliau sendiri tak bisa jauh dari anak bungsunya itu. Namun, beliau masih belum ada keberanian untuk mengembalikan Jeon kembali tinggal di rumah itu.


Jeon yang sudah seharian berada di rumah orang tuanya hanya untuk menunggu kepulangan Rindu, sudah merasa bosan. Susah sejak pagi tadi ia berada di sana, namun Rindu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.


Merasa menunggunya kali ini sia-sia, ia pun akhirnya menyerah pada pukul 17.00. Ia memutuskan untuk kembali pulang setelah seharian hanya rebahan di rumah yang sudah ia rindukan kehangatannya.


Jeon tak langsung pulang, ia mengajak motor besarnya untuk berkeliling sebentar. Meskipun sangat kecil kemungkinan, ia berharap dengan berkeliling bisa bertemu Rindu di jalan.


Tak berselang lama, terdengar adzan maghrib berkumandang. Jeon pun akhirnya melipir ke masjid terdekat. Mengistirahatkan tubuhnya dari rasa lelah aka kekecewaan yang lagi-lagi harus ia telan. Beberapa kali ia memandang ponselnya, ingin menghubungi Rindu, tapi ia takut jika wanita itu marah-marah karena merasa aktivitasnya terganggu.


Selesai dengan kewajibannya, Jeon kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum pulang, ia berniat akan makan malam terlebih dahulu di restoran.


***


Begitu ponselnya barada di tangannya, wajah Rindu yang sejak tadi dihiasi oleh tawa mendadak muram dan mata yang berkaca-kaca. Dua buah foto yang berhasil membuat dunianya seketika runtuh dan hancur tak bersisa.


Tidak ada yang tidak hancur saat seorang istri menerima sebuah foto atau informasi bahwa suaminya tengah menikah lagi dengan seorang wanita lainnya. Tangis Rindu seketika pecah dan ia berlari dari tempat acaranya digelar.


"Rin, Rindu. Mau ke mana? Kok sambil nangis perginya?" Salah satu teman Rindu mengejar, namun langkah kaki Rindu yang lebar tak mampu dikejar.


Di pintu masuk restoran, tak sengaja ia menabrak seseorang. Orang itu memaki Rindu di tempat karena berlari tak melihat jalan. Wanita itu hanya terdiam seraya mengelap pipinya.

__ADS_1


Seakan semesta sedang mendukung, Jeon yang berniat akan makan di restoran, rupanya membawa ia bertemu dengan Rindu. Pria itu melihat Rindu yang menunduk sedangkan seseorang di depannya nampak seperti sedang marah.


"Permisi, apa ada apa, ya? Mbak ini Kakak ipar saya. Apa yang dia lakukan?"


"Oh kamu adiknya? Kasih tahu dia jalan pakai mata, kamu tahu sendiri saya pakai tongkat. Kalau jatuh gimana?" sentak wanita itu.


"Iya baiklah. Saya minta maaf, saya atas nama Kakak ipar saya benar-benar minta maaf. Apakah ada yang sakit? Perlu kami bawa ke rumah sakit?"


"Nggak!" Wanita itu lalu masuk ke dalam restoran.


Pandangan Jeon beralih pada Rindu yang masih terisak.


"Udah nangisnya! Kan udah nggak dimarahin."


Menyadari bahwa tangis Rindu bukan karena bentakan dari wanita itu, seketika Jeon menggeret Kakak iparnya itu untuk ikut dengannya. Ia membawa Rindu ke parkiran.


"Ini pakai! Kita pergi dari sini." Jeon memberikan jaket yang tadinya melekat di tubuhnya.


Rindu bak robot yang hanya mendengar dan melaksanakan perintah. Ia memakai jaket itu dengan sesenggukan.


"Aku nggak mau pulang."


Kalimat dari Rindu membuat Jeon urung hendak menaiki motornya karena saking terkejutnya.

__ADS_1


"Iya, kita nggak pulang. Aku ajak kamu ke suatu tempat. Diam dulu tapi!"


__ADS_2