
Beberapa hari setelah itu, keadaan Ayah Rindu mulai membaik. Begitu pula dengan keadaan hati Rindu yang semakin hari semakin merasa lega dan lebih tenang setelah ia kembali pulang ke rumah orang tuanya.
Pak Jo dan yang lain hanya pasrah saja dengan keputusan Rindu dan keluarganya. Kepasrahan mereka bukan berarti mereka rela atau tidak ada perjuangan untuk yang terbaik. Tapi memang tidak ada lagi yang bisa di perbaiki atau dilakukan selain perpisahan.
Jika keadaan hati Rindu mulai membaik, hal sebaliknya terjadi pada Jeff. Sungguh kehidupannya yang sekarang ia jalani sangat berbanding terbalik dengan apa yang sudah ia bayangkan jika sudah berpisah dengan Rindu. Kehidupan yang ia kira akan lebih tenang, senang, dan bahagia meskipun tanpa restu dari kedua orang tuanya, justru malah membuatnya sengsara. Apa pun angan-angan yang ada dalam pikirannya dahulu sama sekali tidak terjadi hari ini.
Kejujuran yang ia katakan setelah pulang dari rumah sakit, justru membuatnya benar-benar tidak diakui anak oleh kedua orang tuanya. Awalnya pengusiran yang hanya melalui kata-kata, hari itu kedua orang tuanya benar-benar mengusirnya dengan tindakan.
Sudah beberapa hari ini pula Jeff sudah berada di rumah barunya dengan sang istri. Pikirannya makin hari makin kacau, dirinya berada didekat Ratu, namun tidak dengan hati dan pikirannya. Hilang komunikasi dengan Rindu entah kenapa ia merasa kosong, ada yang berbeda.
"Silakan kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali! Kamu boleh melakukan apa pun dengan Ratu, mau menikah secara negara pun kami sudah tidak peduli. Mau menikah atau tidak, itu terserah kamu dan, ya, Papa sama Mama membebaskan kamu untuk menikah dan hidup dengannya, bukan berarti kami menerima Ratu sebagai menantu. Jangan pernah kamu mengajak dia untuk menginjakkan kaki di sini. Apa pun yang terjadi."
Itu adalah kalimat terakhir dari sang Ayah yang Jeff dengar sebelum ia benar-benar pergi dari rumah, lebih tepatnya diminta untuk pergi oleh sang Ayah. Tidak ada pembelaan dari ibunya meski wanita itu tengah terisak.
"Jeff, aku mau setelah aku melahirkan, kita langsung mengadakan resepsi pernikahan yang mewah dan harus lebih megah dari pernikahan kamu sama Rindu." Ratu berceloteh di suatu malam.
"Kamu bisa ngertiin aku nggak sih, pikiran aku lagi semrawut kamu ngomongin pernikahan megah dan mewah. Kamu nggak mau memahami aku sama sekali? Ini aku lost contact sama keluarga. Kamu nggak ada ngertinya sama sekali."
"Jeff, dari dulu juga kamu itu udah nggak akur sama orang tua kamu, terutama papamu. Perasaan dari dulu juga kamu nggak pernah mikirin kalau lagi ada konflik sama meraka, sekarang kenapa bertingkah kayak gini, seakan ini masalah pertama buat kalian. Kamu lagi stress sama masalah orang tua kamu apa Rindu? Kamu pernah bilang nggak masalah kalau kamu diusir dari rumah asal kamu dapat apa yang kamu mau. Dan sekarang, kan, yang terjadi begitu. Kenapa kamu malah stress sendiri? Mikirin Rindu, kamu?"
Itu adalah pertengkaran entah ke berapa kalinya. Mereka selalu adu mulut dalam persoalan yang sama. Perubahan yang terjadi pada Jeff membuat Ratu kesal, sementara Jeff sendiri juga sudah muak dan bosan dengan tingkah Ratu yang entah bagaimana ia menyebutnya.
Merasa tidak perlu lagi menanggapi ucapan istrinya, Jeff melangkah pergi meninggalkan kamar. Kakinya terus melangkah seakan tak peduli dengan teriakan istrinya.
***
__ADS_1
Malam ini adalah pertama kalinya Jeon datang mengunjungi Ayah Rindu. Ia sengaja datang belakangan, di saat semua kondisi sudah mulai tenang dan kondusif untuk ia jumpai.
Ada perasaan was-was saat ia datang ke bangunan tersebut. Ia takut jika kedatangannya itu ditolak oleh Rindu dan kedua orang tuanya. Meskipun ia yakin situasinya kini tidak setegang beberapa hari yang lalu, tetap saja keluarganya adalah biang keladi dari masalah yang terjadi dan ia takut jika ia diangkut pautkan dalam hal ini.
Jeon sempat berdiri beberapa detik di depan ruangan Ayah Rindu. Di saat tangannya hendak memegang gagang pintu, rupanya benda itu terbuka dari dalam.
"Jeon, kamu di sini? Udah lama? Kenapa nggak masuk?" Rupanya Rindu yang membuka benda persegi itu.
Sudah beberapa hari ia tak menjalin komunikasi apalagi bertemu dengan wanita itu. Meski nampak di wajahnya masih ada guratan kesedihan, tak bisa dipungkiri, Rindu tetap carik di mata pria itu.
"Aku baru aja sampai dan mau buka pintu, tapi udah keduluan kamu. Apa kabar?" Entahlah, Jeon merasa kini ia sangat kaku dan sedikit canggung. Ia sendiri juga tak mengerti kenapa bisa begitu.
"Baik. Kamu gimana? Udah hampir satu minggu nggak ada kabar. Mama sama Papa sehat, kan?"
Jeon sedikit menundukkan kepalanya, "Mama beberapa hari ini sakit. Tapi nggak apa-apa, nggak parah. Aku..."
"Selamat malam, Tante. Ini ada sedikit makanan dari Mama. Sebenarnya tadi Mama pengen ikut, tapi badannya belum sehat betul. Jadi dititipin ke saya."
"Bawa pulang lagi aja. Saya masih bisa beli makanan."
"Mama, nggak baik nolak makanan. Mama udah aku ceritain semuanya tanpa ada yang aku sembunyikan. Jeon dan orang tuanya nggak ada sangkut pautnya sama apa yang menimpa aku." Rindu setengah berbisik saat mengatakan itu.
Ibu Rindu melirik ke arah Jeon sesaat sebelum akhirnya pegi meninggalkan pintu dan kembali ke dalam ruangan. Rindu dan Jeon menyusul setelah wanita itu menerima makanan dan memohon maaf atas sambutan tidak baik dari sang Ibu.
"Selamat malam, Om. Bagimana keadaan Om?" Kecanggungan benar-benar menyelimuti Jeon malam ini.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat. Om sudah jauh lebih baik meski harus di sini beberapa hari lagi."
"Syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang."
Merasa tidak ingin terlalu lama terjebak dalam kondisi seperti ini, Jeon akhirnya mengakhirinya dengan pamit pulang. Hanya sekitar lima menit ia berada di ruangan itu, namun baginya terasa begitu lama.
Rindu mengantar Jeon hingga depan pintu ruangan.
"Kamu nggak mau ngobrol sama aku bentar aja, Rin? Rasanya udah lama juga nggak ketemu. Terakhir kita ketemu pas kamu lagi sakit."
"Boleh. Mau ngobrol di mana?"
"Ke taman aja, yuk!"
Malam itu akhirnya mereka kembali berjalan bersama meski bukan di tempat romantis seperti terakhir kali mereka kunjungi.
"Masih inget nggak sih, kita jalan berdua kayak gini di mana dan kapan?" Jeon membuka suara setelah beberapa langkah kaki mereka berjalan.
"Aku nggak mau ingat-ingat. Tempatnya memang indah, tapi momen dan perasaanku kala itu tidak baik-baik saja. Aku belum sembuh benar, Je. Aku nggak mau bahas itu. Meskipun aku akui, aku sedikit lebih tenang sekarang. Aku udah bareng sama orang tuaku."
"Aku bangga sama kamu, kamu ambil langkah yang tegas dan berani. Duduk situ aja, ya." Jeon menunjuk sebuah kursi.
Getaran di hatinya kembali muncul tiba-tiba. Jeon sangat merindukan getaran ini. Padahal belum ada satu bulan ia tak bersua dengan wanita itu, tapi entah kenapa rasanya sangat lama ia terpisah.
Belum ada obrolan sesaat setelah mereka duduk. Rindu justru terpana dan terdiam memandang ke atas. Rasanya sudah lama ia tidak memanjankan matanya dengan pemandangan malam.
__ADS_1
Jika Rindu terpana dengan pemandangan malam yang langitnya dihiasi oleh cantiknya bintang dan bulan. Jeon juga merasakan hal yang sama, namun badanya ia terpana dengan wajah alami Rindu yang sedikit ditutupi oleh anak rambut yang beterbangan ditiup angin.