Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
26. Hamil


__ADS_3

Semua berjalan seperti biasa, aktivitas pun sudah kembali seperti biasa setelah beberapa hari kepergian Jeon dari rumah. Tidak ada yang berubah, hanya saja Bu Merlin sedikit lebih pendiam dari biasanya. Beliau hanya banyak berdoa agar masalah tak lagi datang, pertengkaran antara suami dan anak kandung satu-satunya tak lagi terjadi, karena orang yang biasa menenangkan saat dirinya sedang bersusah hati sudah tak ada di rumah yang sama dengannya entah sampai kapan.


Siang ini Jeff sedang berada di apartemen kekasihnya. Ia yang sedang berada di kantor bergegas ke apartemen karena mendapat kabar dari kekasihnya bahwa wanita itu sedang tidak enak badan. Sebelumnya, Ratu tidak pernah mengabari dirinya jika sedang sakit. Ini adalah pertama kalinya ia mengadu sakit padanya. Itu sebabnya ia berpikir bahwa sakitnya ini pasti menyakitkan dan parah.


"Aku lemes banget, Jeff. Aku nggak tahu ini kenapa, padahal aku tadi udah makan. Perutku rasanya nggak enak, aku...."


Ratu tak meneruskan kalimatnya, ia berlari ke kamar mandi dan menumpahkan segala makanan yang tadi ia masukkan ke dalam perutnya.


"Udah dari kapan kamu begini?" Jeff bertanya seraya memijat tengkuk kekasihnya.


"Aku rasain mual udah beberapa hari ini, tapi nggak sampai muntah begini."


Mendengar kata beberapa hari membuat Jeff seketika berpikir negatif. Ia sadar betul bahwa akhir-akhir ini mereka saling melakukan hubungan itu dan lebih parahnya mereka melakukan tanpa pengaman.


"Kamu nggak telat datang bulan, kan?"


Mendengar kata datang bulan, Ratu yang semula menunduk menatap wastafel seketika mendongakkan kepalanya. Ia berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali ia haid. Ratu yang tamunya tidak datang setiap bulan dan tidak teratur sering membuatnya lupa kapan terakhir kali ia kedatangan tamu.


"Kamu, kan tahu kalau aku datang bulan nggak teratur, Jeff. Tanggalnya pun kadang juga nggak pasti, jadi aku datang bulan nggak bisa dijadikan patokan kapan telat dan enggak."


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu di sini aku keluar dulu beli sesuatu."


Pria itu hendak beranjak dari kamar mandi, namun tangannya sudah dicekal oleh Ratu.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau kamu mau beli testpack. Aku nggak mungkin hamil, Jeff. Meskipun kita nggak pernah pakai pengaman, kita selalu melakukannya dengan aman."


"Tunggu di sini dan diam!"


Entah mengapa Jeff merasa perasaannya tidak enak sejak tadi. Ia harus membuktikan sendiri apakah perasaannya ini meleset atau tidak. Pikirannya sudah terbelah-belah menjadi beberapa bagian. Ia tidak tahu apa yang membuatnya selalu berpikir ke arah sana dan pikirannya tidak mau berpikir untuk hal yang positif saja.


Untunglah, apotek tak jauh dari apartemen Ratu, kurang dari sepuluh menit, Jeff sudah kembali di hadapan Ratu dengan banyak testpack di tangannya.


"Pakai ini semua!"


"Gimana kalau aku hamil beneran?"


"Kamu nggak akan tahu kalau kamu nggak coba tes. Kalau kamu memang hamil aku nggak akan lari ke mana-mana. Aku akan tanggung jawab."


Setelah mendengar kalimat penenang dari kekasihnya, Ratu melangkah dengan ragu dan pelan ke kamar mandi. Jika ia hamil, bukan hanya perkara tanggung jawab yang ia pikirkan, tapi juga karirnya yang pasti akan hancur bersama dengan namanya.


Ratu keluar kamar mandi dengan badan lesu dan lelehan air mata yang sudah sukses membuat pipinya basah.


"Gimana Sayang? Kamu nggak hamil, kan?"


Jeff merebut beberapa testpack yang berada di tangan Ratu.


"Garis dua? Apa artinya? Kamu hamil?"

__ADS_1


Ratu hanya menganggukkan kepala lemah. Tubuhnya terduduk di lantai dengan pundak yang bergetar. Tak berselang lama, Jeff melakukan hal yang sama.


"Sssttt. Aku akan tanggung jawab. Kita akan menikah segera, nggak apa-apa, kan kalau kita menikah siri dulu? Setidaknya kita ada ikatan. Aku akan cari cara untuk bisa pisah sama Rindu. Aku yakin jika suatu saat nanti orang tua aku melihat anak kita, mereka mau tak mau pasti akan menyetujui pernikahan kita. Mungkin butuh proses untuk mencapai itu, tapi aku yakin dengan adanya anak kita nanti pasti akan membuat proses itu berjalan lebih cepat."


Ratu menghapus air matanya kasar lalu menatap kekasihnya dengan wajah marah.


"Ini bukan perkara tanggung jawab atau enggak, restu atau tidak direstui, tapi ini soal nama dan karir aku yang pasti akan hancur. Aku belum siap hamil, dan aku belum siap kehilangan karir aku. Aku nggak mau hamil. Aku mau menggugurkan janin ini."


"Jangan gila! Ini anakku, aku nggak mau kamu melakukan ini. Mau bagaimanapun proses dan keadaan dia hadir di dalam perutmu dia tetap darah dagingku, dia anakku. Biar aku yang mengurus pengunduran dirimu dari dunia model dan aku janji tidak akan ada satu pun media tahu hal ini. Aku yang akan urus, kenapa kamu seakan-akan lupa kalau kamu punya kekasih yang cukup berpengaruh di media. Semua akan tetap rapi ketika uang sudah bicara. Sekarang kita ke rumah sakit untuk pergi ke dokter kandungan."


Kalimat panjang itu berhasil membuat Ratu sedikit tenang. Meski ia masih berat menerima kehadiran janin itu di dalam perutnya, entah mengapa ia lebih mendengarkan dan menuruti ucapan kekasihnya.


"Aku nggak mau keluar apartemen, dokter aja yang panggil ke sini. Awas kalau kamu ingkar janji, ya Jeff. Kalau kamu sampai ingkar janji untuk tanggung jawab dan menikahi aku, tanpa pikir panjang aku akan menyingkirkan dia dari perutku."


Jeff hanya mengangguk seraya menempelkan ponselnya ke telinga.


***


Entah sudah berapa bulan Rindu berada di rumah yang tampak seperti istana, namun terasa neraka baginya. Ia bosan dengan aktivitasnya yang hanya itu-itu saja dan tidak ada aktivitas lainnya yang bermanfaat untuk menghasilkan uang misalnya. Hari-hari ia habiskan hanya untuk santai-santai, menonton televisi, bermain ponsel, melihat drama Korea yang aktivitasnya itu hanya membuat berat badannya semakin bertambah saja.


Ting!


Ponselnya berbunyi dan nampak chat dari Jeon di layar. Tanpa sadar Rindu mengulum senyum tipisnya. Berhari-hari tanpa kehadirannya rupanya ada yang berbeda juga dari dirinya. Entah karena belum terbiasa atau memang ia merindukan sosok yang biasa ia lihat dalam diam.

__ADS_1


Melihat dalam diam? Ya, Rindu memang terlalu munafik untuk mengakui bahwa ia sebenarnya merasa ada setitik kesenangan dengan perlakuan Jeon yang sering kali mendekatinya saat dirinya gencar menjauhinya waktu itu.


Tapi di sisi lain, kesenangan itu juga berubah menjadi dinding tebal dan tinggi ketika ia ingat statusnya yang sudah bersuami.


__ADS_2