Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
51. Definisi Hati dan Logika Tak Sejalan


__ADS_3

"Yang penting Mama ketemu aja dulu. Mau nganggap Ratu sebagai apa juga terserah Mama, yang penting buat aku ketemu dulu. Mama bisa menilai sendiri gimana Ratu setelah ketemu."


Memang benar apa yang dikatakan oleh Jeff. Ratu yang sekarang jauh berbeda dari yang dulu, hal itu terjadi seiring dengan perubahan yang juga terjadi pada Jeff. Pria yang bertekad ingin merubah semua apa yang ada dalam dirinya itu juga rupanya berdampak baik untuk istrinya.


"Mama udah makan? Ini udah siang. Mama kurusan sekarang, Jeon nggak merhatiin Mama di sana? Biasanya kalau Mama lagi banyak pikiran dampaknya ke makan. Jeon yang paling cerewet kalau Mama udah ogah-ogahan makan. Apa dia terlalu sibuk dengan pasiennya sampai dia lupa sama Mama?"


"Enggak, perhatian Jeon nggak pernah berubah kok. Kamu sendiri udah makan? Udah dari tadi teleponan sama Mama. Mama sampai lupa, ini sudah lewat makan siang."


Belum sempat Jeff menjawab pertanyaan ibunya. Terdengar suara seseorang yang masuk ruangannya. Nampak Jeff seketika mengembangkan senyumnya saat suara wanita itu terdengar.


"Maaf aku terlambat, aku ketiduran tadi."


"Iya Sayang, nggak apa-apa." Jeff pindah dari kursi kebesarannya ke sofa panjang yang berada di ruangannya.


"Ma, Mama nanya makan siang, kan tadi? Ini makan siang aku baru datang. Beberapa minggu terakhir, Ratu ada keinginan untuk belajar memasak, itu sebabnya dia memaksaku untuk memakan apa pun yang dia masak. Sini, Sayang duduk di samping aku. Ada Mama."


Ratu menggeleng. Hingga kini ia tidak punya keberanian untuk bertemu dengan kedua mertuanya. Hatinya yang sudah tenang tak mau ia rusak dengan bertemunya ia dan kedua mertuanya. Ia tak mau jika ia bertemu dengan mereka malah mendengar sesuatu yang menyakitkan.


"Nggak apa-apa. Ngobrol sebentar aja."


"Ya udah Jeff, kalau belum mau nggak usah dipaksa. Nanti dia nggak nyaman ngobrol sama Mama. Ya udah deh, kamu makan dulu. Mama juga mau istirahat."


Sambungan telepon itu terputus setelah itu.


***


Pukul 16.00 Rindu yang biasanya sudah bersiap meninggalkan kantor, kini masih saja berkutat di lantai untuk mencari sesuatu yang sejak tadi membuatnya tidak fokus bekerja. Entah sudah berapa kali ia mencari di tempat yang sama dan di berbagai tempat lainnya, tapi benda yang baru saja ia terima belum ada setengah hari yang lalu itu tak kunjung ketemu.


Dering di ponselnya membuat Rindu sedikit berdecak kesal karena ia menjadi tidak fokus dalam pencariannya.


"Jeon. Ya ampun kenapa dia harus menelepon di saat seperti ini?" Rindu merilekskan dirinya dulu sebelum menjawab telepon pria itu.


"Iya halo, kenapa?"


"Udah pulang belum? Aku tungguin nggak nongol-nongol kamu."


"Ngapain nungguin aku? Emang kamu sekarang lagi ada di depan?"


"Iya. Udah ada 15 menit aku di sini. Kamu lembur?"


"Nggak. Sedang ada urusan sebentar. Kamu nggak usah nunggu nggak apa-apa, lagian kenapa jemput nggak bilang-bilang?"


"Aku, kan niatnya mau kasih surprise. Ya udah nggak apa-apa, kamu selesaikan urusan kamu dulu aku akan tunggu di sini."

__ADS_1


Rindu hendak melarang pria itu tetap menunggu, tapi ucapannya kalah cepat dengan sambungan telepon yang terputus. Rindu menghembuskan nafas kasar. Ia harus lebih cepat menemukan benda itu agar segera pergi dari kantor yang mulai sepi.


Setelah sepuluh menit kembali mencari dengan kesabaran yang sudah mulai menipis, ia akhirnya menemukan benda itu.


"Akhirnya ketemu juga." Rindu segera memasukkan benda itu ke dalam tas dan berjalan keluar.


Wanita itu melihat mobil Jeon yang masih teronggok di depan kantor. Ia segera berlari menghampirinya. Ia merasa tidak enak karena membuat pria itu menunggu terlalu lama.


"Maaf sudah membuat kamu menunggu lama." Rindu masuk mobil dengan wajah lelahnya.


Rindu tidak mendengar jawaban apa pun dari Jeon. Ia pun lalu menolehkan kepalanya ke arah pria itu, ternyata pria yang baru saja menyatakan cintanya itu sedang menatapnya dengan seksama. Lagi-lagi hal simple itu membuat Rindu salah tingkah.


Dalam hatinya sungguh Rindu merutuki hari ini karena sejak tadi ia merasa tidak diberikan nafas oleh orang-orang di sekitarnya. Rasa gugup dan salah tingkah sejak tadi datang menghampirinya secara bergantian.


"Jeon, kamu nunggu apa, sih? Ayo jalan!"


Pria itu menyunggingkan senyum, "Cie yang bingung dari tadi nyariin cincin. Kalau kamu nyarinya sampai lama begini itu artinya cincinnya berarti buat kamu, kan?"


"Ngomong apa sih, Je?"


"Kamu pikir aku nggak tahu apa? Kamu dari tadi tuh di dalam nyariin cincin. Jangan tanya aku tahu dari mana! Kamu lupa aku siapa?"


"Nggak. Aku nggak lupa kamu Jeon. Udah puas, kan? Ya udah kalau kamu tahu aku tadi lama nyari cincin, kenapa kamu masih nanya? Terus kenapa dibahas juga? Ya udah ayo jalan buruan, kamu mau ngantar aku pulang, kan?"


Mendengar pertanyaan dari Jeon membuat Rindu ingin mengetes bagaimana reaksinya jika barang pemberiannya hilang dalam waktu sekejap.


"Aku dari tadi udah nyari, tapi nggak ada. Nggak ketemu, besok akan aku cari lagi."


"Hilang? Aku udah bilang, kan tadi dipakai cincinnya, nggak dipegang aja. Ya udah kalau nggak ketemu nggak apa-apa, nanti akan aku cari gantinya."


"Kamu nggak marah?"


"Kenapa harus marah? Cincin doang, kan? Yang penting perasaan kamu ke aku nggak hilang."


Rindu tak berkutik. Niat yang semula untuk mengetahui respon dari Jeon akan seperti apa jika barang pemberiannya hilang, justru kini niatnya itu menjerumuskan dirinya sendiri. Ia tak lagi berucap apa pun setelah itu.


Rindu sadar bahwa sebenarnya ia mempunyai kobaran api cinta untuk Jeon. Tapi sungguh, rasanya ia belum siap jika harus kembali menjalin ikatan lebih dari teman. Rasanya ia ingin mengistirahatkan hatinya terlebih dahulu.


"Sayang kok diem?"


"Emang aku harus ngapain? Ngreok."


"Cie dipanggil sayang, nyahut," goda Jeon.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Je? Kamu di mobil cuma sama aku. Kamu ngomong, ya aku nyahut lah. Emang siapa lagi yang nyahutin omongan kamu selain aku? Di mobil cuman kita berdua." Rindu menjawab sedikit kesal.


"Nggak cuman berdua, ada cinta kita juga, Sayang."


Tak bisa menyembunyikan lagi kekesalannya, ia memberikan pukulan bertubi-tubi di paha Jeon. Pria itu hanya meresponnya dengan tawa.


"Kamu mukulnya milih, ya."


Perkataan dari Jeon membuat Rindu berhenti melakukan aktivitasnya. Lagi-lagi ia membuat kesalahan dengan memukul paha pria itu. Ia dibuat semakin kesal dengan dirinya sendiri dan juga pria yang kini sedang bersamanya.


"Udah mukulnya?"


"Au ah. Kamu nyebelin hari ini, aku kesel sama kamu."


Rindu menyilangkan tangannya di depan dada dengan membuang muka ke arah jendela dan menatap senja yang sudah menyapa. Panggilan sayang dari Jeon terus saja menghantui telinganya. Benar-benar definisi hati dan logika yang berjalan tidak sejalan.


"Mau ngapain?" Rindu melindungi undukan lemak yang berada di depan ketika tangan Jeon menarik lengan wanita itu.


"Ya udah siniin tangannya kalau kamu nggak mau aku pegang yang itu."


"Nggak mau."


"Aku pegang nih."


"Apanya?"


"Yang kamu tutupin itu. Lagian aku narik tangan cuman mau pegang tangan kamu doang. Kamu malah tutupin yang itu. Emang kamu pikir aku apaan?"


"Ya, kamu mau ngapain minta tangan aku?"


"Biar nggak cemberut terus, siniin!"


"Udah dong, Je. Kamu fokus sama jalanan."


Merasa harus menunggu lengahnya Rindu, Jeon pun akhirnya terdiam menuruti apa ucapannya. Setelah sepersekian detik tangan itu berada di pangkuannya sendiri, dengan gerakan cepat Jeon mengambil tangan itu dan menggenggamnya dengan erat. Wanita itu berusaha meronta untuk melepas, tapi tenaganya kalah kuat dengan Jeon.


"Bisa diem nggak? Kita akan lebih cepat sampai kalau kita begini. Kalau kamu berontak terus, aku akan perlambat kecepatan mobilnya."


"Ck, selalu kayak gitu, selalu maksa."


"Tapi kamu suka, kan?"


Lagi-lagi Rindu membuang muka, tapi kali ini diikuti mulutnya yang mengatup.

__ADS_1


__ADS_2