Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
29. Ada Yang Salah Dengan Otak Jeff


__ADS_3

"Kenapa nggak protes lagi? Kenapa dipanggil Rindu protes, dipanggil sayang, diem aja? Mau aku panggil sayang aja?"


Pertanyaan dari Jeon seketika membuyarkan kegugupan sekaligus setengah lamunan yang tiba-tiba membuat Rindu seakan mati kutu.


"Kamu harusnya memang dibiarkan, Je. kalau diladeni, ya begini jadinya. Minggir tanganmu, aku mau lewat."


Jeon tidak menjawab, justru tatapannya semakin lekat dan dalam. Sedikit demi sedikit ia memajukan kepalanya ke arah Rindu. Tinggal satu gerakan maju lagi bibir Jeon sudah akan berpagutan dengan bibir tipis wanita itu, namun Rindu yang masih dikuasai oleh logikanya segera memasang telapak tangannya di tengah-tengah agar bibir mereka tak bertemu.


"Hargai aku sebagai perempuan, jangan membuat aku menjadi wanita murahan dengan cara seperti ini. Aku bersuami dan kamu tahu itu. Jika kamu menuntut hal yang lebih dari sekedar kakak adik ipar, mungkin kamu akan kecewa. Apalagi berharap jika aku sama seperti wanita pada umumnya. Kamu sangat benar Jeon, aku sangat membutuhkan kasih sayang dari seseorang, aku haus akan cinta dari seseorang, aku belum pernah hidup seperti ini sebelumnya. Dan hidupku sekarang sangat membuat aku sakit. Tapi jangan perlakukan aku seperti ini! Aku akan lebih sakit kalau kamu menjadikan aku seperti wanita murahan." Mata Rindu seketika berkaca-kaca.


Mendengar kata panjang lebar dari wanita itu lalu melihat kedua bola matanya yang berkaca-kaca membuat Jeon menyesal dengan tindakannya. Ia pernah mengatakan bahwa Rindu tidak pantas menangis untuk seorang laki-laki seperti kakaknya, tapi sekarang ia justru membuat wanita itu menangis karena dirinya, yang statusnya masih bukan apa-apa.


Tes!


Satu titik air mata berhasil membuat pipi Rindu basah. Hati Jeon terasa ngilu melihat setetes air mata itu turun. Dengan segera pria itu menghapus lelehan air mata itu.


"Maaf-maaf aku nggak bermaksud untuk berpikir ke arah sana atau membuatmu menjadi wanita yang seperti kamu katakan tadi. Sungguh aku tidak ada niatan untuk ke sana, aku minta maaf. Aku mohon berhentilah menangis."


Inilah yang membuat Rindu Semakin yakin jika ia harus membentengi dirinya dengan tembok yang kuat. Perlakuan-perlakuan kecil seperti ini sungguh membuat Rindu merasa sangat dihargai dan disayangi. Dan sialnya, kenapa ia harus mendapatkan perlakuan ini dari orang lain. Semakin Rindu memikirkan perlakuan Jeon ini semakin membuatnya terisak. Dan itu justru sukses membuat Jeon semakin bingung.


"Kok malah nangis, sih. Iya aku salah, aku minta maaf. Janji aku nggak bakal kayak gitu lagi. Lebih baik kamu marahin aku sampai puas daripada aku melihat kamu nangis kayak gini."

__ADS_1


Dua sejoli yang berada di pojokan itu tidak menyadari bahwa mereka sedang ditatap oleh sepasang mata yang sudah cukup lama berdiri di sana. Percakapan demi percakapan yang mereka udarakan terdengar begitu jelas di telinga pria itu.


Entah mengapa hati pria yang berstatus suami Rindu itu menampilkan wajah yang penuh dengan kemurkaan. Ia tidak suka melihat Rindu yang begitu dekat dengan adik asuhnya itu. Kakinya maju selangkah hendak memergoki dan memberi pelajaran Jeon, tapi tiba-tiba kesadarannya mengambil alih.


Apa yang aku lakukan?  Untuk Apa pula aku memberi pelajaran pada anak itu? Bukankah seharusnya aku tidak peduli Rindu dekat dengan siapa saja? Astaga Jeff, sepertinya memang harus ada yang diperbaiki di otakmu. Kenapa dari tadi kamu seperti kesal tidak jelas? Ah aku ada ide, sepertinya akan menyenangkan jika aku membuat Jeon kesal atau cemburu.


"Oh di sini rupanya. Pacarannya bisa diteruskan kapan-kapan. Sekarang kau harus ikut denganku, Masih banyak orang yang belum tahu bahwa kau adalah istriku. Bukankah aku harus bangga memiliki istri secantik kau? Mari ikut denganku." Jeff menekuk tangannya seakan memberikan perintah pada Rindu untuk memasukkan tangannya ke dalam lengannya.


Jeff melakukan itu seraya melirik Jeon yang nampak menekuk wajahnya seketika. Sangat terlihat dari matanya jika pria itu kesal dan semakin Jeon kesal, semakin membuat Jeff bahagia.


"Ayo tunggu apa lagi? Acaranya akan segera dimulai."


Kenapa aku harus meletakkan hatiku di tempat yang salah? Bukan-bukan, bukan hatiku yang salah tempat, hatiku salah waktu. Ya, waktunya yang salah. Tapi gimana caraku menyelamatkan Rindu dari siksaan ini jika dia sendiri saja tidak mau berusaha.


Merasa terlalu lama berdiri di pojokan, ia segera bergabung ke tempat semula. Meskipun ia bosan dengan acara formal seperti ini, ia tidak pernah absen untuk datang disetiap acara apa pun yang diselenggarakan oleh ayahnya.


Namun, kali ini untuk pertama kalinya ia merasa sedikit tidak bosan dengan acaranya itu karena ada pemandangan indah yang bisa ia nikmati sepanjang acara. Pemandangan itu memang bukan miliknya, tapi ia pastikan suatu saat nanti akan menjadikan pemandangan itu menjadi miliknya seutuhnya.


Pandangan matanya tidak lepas sedetik pun dari Rindu. Meskipun dadanya terasa sesak ketika wanita itu berdekatan dengan suaminya sendiri, ia tetap mempertahankan pandangannya untuk terus menatapnya.


Detik yang terus berjalan membawa mereka kepada penghujung acara. Pukul tiga sore acara sudah selesai dan para undangan membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Ponsel Jeff berdering-dering ketika ia baru saja hendak melajukan mobilnya.


"Iya, Sayang kenapa?"


Tidak pernah berubah, kalimat itulah yang ada di pikiran Rindu. Terkadang ia berpikir apakah dengan mencoba untuk terus bertahan seperti ini, ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri atau justru luka itu akan terbawa sampai mati. Apakah selamanya hubungan mereka menyakitkan akan seperti ini terus?


"Iya, ini aku udah pulang acara. Habis ini aku ke situ, ya. Iya sebentar lagi berkasnya udah selesai kok. Kita akan melaksanakan itu sesuai di tanggal yang kamu minta."


Mencoba untuk abai, tapi telinganya masih normal untuk mendengar setiap untaian kata manis yang keluar, namun bukan untuknya.


"Jika kamu tidak menganggap aku istri, anggap aku manusia yang punya perasaan. Kita memang suami istri meski tidak ada hak ku di dalamnya. Berpikirlah untuk mencoba menghargai manusia lainnya. Hargai aku sebagai sesama manusia, apakah pantas suami memanggil sayang pada wanita lain di depan istrinya? Kita terlahir ke dunia sudah dibekali dua hal oleh Tuhan. Otak dan hati, jika kamu tidak bisa menggunakan hatimu untuk seseorang, maka gunakan otakmu."


"Apa kau tersakiti dengan tindakanku?"


"Setiap tindakanmu membuat aku sakit."


Rindu melihat mobil kedua mertuanya sudah keluar dari pekarangan kantor. Merasa ingin memberikan pelajaran sekaligus memberontak dengan sikap suaminya, Rindu ke luar mobil dengan wajah kesal.


"Rin. Mau ke mana, hey tunggu!"


Tanpa pikir panjang Jeff turun dari mobil dan mengejar wanita itu yang sudah berlari sedikit menjauh. Ia tak tahu dan ia bingung apa yang membuat dirinya melakukan hal konyol itu.

__ADS_1


__ADS_2