
Seperti suami pada umumnya, mereka khawatir dan panik setengah mati ketika istrinya mengalami kecelakaan. Hal itu ternyata juga berlaku pada Jeff yang notabenenya tak memiliki rasa terhadap istrinya. Dengan berlari kecil seraya menatap istrinya yang sedang di dorong di ranjang pasien, Jeff terus memandangi wajah wanita itu seakan menampakkan bahwa ia benar-benar khawatir. Dan yang terjadi dalam hatinya memang pria itu sangat khawatir.
"Maaf, Pak. Silakan tunggu di luar, ya." Salah satu suster mencegah Jeff untuk ikut masuk ke UGD.
"Astaga, apa yang harus aku katakan sama Mama Papa?" Di dalam kepanikan Jeff mondar-mandir memikirkan keadaan Rindu dan juga jawaban untuk pertanyaan kedua orang tuanya nanti.
Ya, dalam kepalanya sempat terpikir untuk memberitahu kedua orang tuanya setelah ia mendapatkan jawaban mengenai keadaan Rindu dan juga alasan kenapa wanita itu bisa sampai mengalami kecelakaan. Ia berharap mudah-mudahan Rindu tidak sampai harus menginap di rumah sakit.
"Dokter gimana keadaannya?"
"Pasien mengalami benturan yang cukup kuat, tapi tidak parah nanti setelah sadar dan kondisinya memungkinkan untuk pulang, bisa langsung dibawa pulang malam ini juga. Tapi efek dari benturan itu mungkin akan membuat pasien mengalami sakit kepala yang berat. Jadi meskipun tidak parah dan tidak membutuhkan perawatan yang lebih intensif, keluarga harus tetap siaga untuk menjaga pasien."
Akhirnya Jeff bernapas dengan lega. Ia pun masuk setelah dokter itu meninggalkan ruangan. Rindu menggerakkan jari jemarinya saat Jeff baru saja sampai di ranjang. Pria itu mendudukkan diri di kursi dekat ranjang di mana Rindu berbaring.
Wajah Rindu nampak pucat, nampaknya wanita itu sedikit kedinginan karena sempat terguyur air hujan.
Rindu membuka matanya perlahan seraya sedikit mendesis dan memegang kepalanya yang terbalut perban.
"Apa kepalamu sakit? Perlu aku panggilkan dokter?"
Rindu menggeleng lemah. Meskipun kepalanya sakit ia berusaha untuk duduk. Refleks suaminya itu berdiri dan membantunya.
__ADS_1
"Aku mau pulang aja."
"Iya, tunggu sebentar lagi. Setidaknya istirahat dulu satu atau dua jam baru setelah itu pulang. Gimana ceritanya kau bisa kecelakaan begini?"
"Apa pedulimu? Yang penting aku selamat, kan? Sepertinya sebelumnya apa pun yang terjadi padaku atau aku lakukan tidak pernah kamu pedulikan. Lalu sekarang kenapa peduli?"
"Kau benar, tidak seharusnya aku bertanya padamu. Kalau kau tidak mau aku pedulikan, ya sudah sekarang kita pulang."
Jeff yang kesal karena respon Rindu yang menyebalkan, seketika berdiri dan meninggalkan istrinya itu begitu saja di dalam ruangan. Sementara Rindu masih mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia berada di sini.
Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit berlalu, namun kepalanya yang sejak tadi pusing belum bisa mengingat apa yang terjadi. Semakin ia berusaha untuk mengingat, semakin ia pusing dan merasa kepalanya berat.
Rindu tak menjawab, ia menyingkap selimut dan berusaha berdiri dengan seimbang meski kepala terasa pening dan berputar. Ia mulai melangkah dengan pelan.
Entah perasaan dari mana, Jeff merasa iba dengan kondisi wanita itu. Ia menawarkan diri untuk membantunya berjalan, namun di tolak oleh wanita itu. Kembali diperlakukan tidak baik, akhirnya membuat Jeff hilang kesabaran. Tingkat kesabaran pria itu memang tipis, setipis dompet penulis ini saat tanggal tua.
Pria itu menarik tangan Rindu agar memeluk pinggangnya. Saking kerasnya ia menarik, Rindu menubruk tubuh Jeff. Tidak terpikir jika benturan antara tubuh mereka terlalu keras, Jeff tak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan akhirnya terjatuh lah mereka dengan posisi saling tindih.
Kejadian itu membuat kedua bibir mereka tak sengaja bertemu. Keduanya saling melebarkan mata satu sama lain dengan posisi tubuh dan bibir yang masih menyatu.
Suasana yang cukup hening di ruangan itu nampaknya mampu membawa mereka terhanyut dalam posisi yang sekarang. Hal itu terlihat dari gerak tangan Jeff yang berada di pinggang Rindu sedikit demi sedikit tergerak untuk mengeratkan pelukan.
__ADS_1
Seiring dengan pergerakan itu, bibir yang semula diam menerima tumpukan dari bibir mungil Rindu tiba-tiba mulai tergerak untuk menyesapnya pelan-pelan. Rindu tidak menolak pergerakan itu, justru ia menyambutnya dengan memejamkan mata bebarengan dengan Jeff yang menutup matanya saat menggerakkan bibirnya itu.
Mereka pernah melakukan ini sebelumnya, namun tidak ada yang memakai perasaan, bahkan Rindu tak menyambut baik kedatangan bagian tubuh itu, namun kali ini mereka merasakan hal yang berbeda. Mereka terlihat larut dalam heningnya malam yang membawa mereka berpagutan semakin dalam dan panas.
Hawa dingin yang semula menyeruak di tubuh Rindu perlahan hilang seiring dengan sesapan yang terdengar di telinga mereka.
Jeff yang merasakan peperangan kali ini teras sangat berbeda dari yang biasa ia rasakan, semakin menggebu dan terlihat menaikkan hasratnya yang lain untung ingin dimanjakan dalam halĀ lain. Hal itu telihat dari tangan Jeff yang mulai merangkak ke atas dengan perlahan dan sangat halus. Ia nampak sudah sangat ahli dalam hal ini. Dan pergerakan tangan itu sukses membuat Rindu juga hanyut dalam kehangatan pagutan yang pertama kali ia terima dengan lembut itu.
Pergerakan mereka semakin meliar dan nampak sulit dikendalikan terutama Jeff. Sungguh pria itu begitu hanyut dengan kecelakaan yang bermula tidak disengaja ini.
Rindu yang kehabisan nafas dengan lembut melepas persatuannya itu. Mereka saling tetap sejenak, tatapan mereka kali ini begitu teduh. Nafas keduanya saling memburu karena peperangan yang baru saja terjadi berlangsung cukup lama. Wajah keduanya menghangat ketika hembusan nafas yang menerpa wajah.
Tak berselang lama keduanya kembali melakukan aktivitas panas. Tangan Jeff yang sejak tadi merangkak perlahan, sekarang sudah sampai di tengkuk istrinya. Tangannya sedikit mendorong kepala itu agar Rindu bisa masuk lebih dalam.
Satu detik, dua detik pagutan itu masih berlangsung. Entah sampai kapan penyatuan itu akan berlangsung. Bagaimana cara berakhirnya tak ada yang tahu. Mungkin hanya semesta yang akan menjawabnya dan jawaban itu ternyata terjawab beberapa saat kemudian. Pagutan itu tiba-tiba terlepas karena terdengar deritan pintu yang terbuka.
Keduanya seketika bangkit. Rindu sedikit oleng karena berdiri secara tiba-tiba, apalagi kepalanya yang masih terluka belum sembuh benar.
"Ibu mau ke mana? Kenapa turun dari ranjang? Apa Ibu sudah sehat?" Suster yang akan memeriksa keadaan Rindu datang.
"Ah iya. Saya sudah sehat, sekarang mau pulang aja. Ini hanya luka kecil. Permisi." Tangan Rindu yang masih terpaut di tubuh Jeff seketika menariknya keluar ruangan. Pria itu dengan kegugupan dan syok yang masih tersisa hanya mengikuti langkah istrinya.
__ADS_1