
[Jeff gimana keadaan istri kamu?]
Bu Merlin yang merasa tidak tenang setelah panggilan telepon dari anaknya memutuskan untuk mengirim pesan setelah beberapa jam menunggu, tapi tidak ada kabar lagi dari anaknya.
Beliau memang tidak menyukai Ratu, wanita itu adalah penyebab dari kehancuran rumah tangga anaknya. Namun, mendengar suara dari Jeef yang terlihat sangat khawatir saat meneleponnya tadi membuat beliau kepikiran akan keselamatan menantunya. Lebih tepatnya, beliau lebih kepikiran dengan anaknya yang sendirian.
Sekian lama menunggu, pesan dari Bu Merlin tidak dibalas, bahkan hingga berberapa jam kemudian, pesan tersebut masih diabaikan oleh Jeff.
"Kenapa nggak di baca-baca? Mudah-mudahan semua baik-baik saja."
Merasa tak enak hati, beliau menghubungi anaknya yang lain untuk agar mendatangi alamat rumah sakit yang sempat dikirim oleh Jeff.
"Iya, Ma. Aku akan ke sana, nanti aku kabari. Mama istirahat aja dulu, semua akan baik-baik saja."
Sebuah kalimat yang mampu membuat Bu Merlin sedikit lebih tenang. Dengan hati yang masih ada sisa kekhawatiran, beliau merebahkan dirinya dan berniat akan tidur.
***
"Kamu ikut aku ke rumah sakit apa mau aku antar pulang dulu?" Mereka saat ini sebenarnya dalam perjalanan pulang.
"Siapa yang sakit?"
"Tadi Kak Jeff katanya nelpon Mama dan ngasih kabar kalau Ratu dioperasi karena pendarahan. Mama nggak bisa tidur karena dari tadi nunggu kabar dari Kak Jeff. Mama udah kirim pesan, tapi dia enggak balas-balas. Makanya Mama nyuruh aku untuk melihat keadaan mereka."
"Boleh aku ikut?"
"Boleh, Sayang. Kan tadi juga aku nawarin kamu." Menyadari bahwa tangan keduanya tidak terpaut ia mengambil tangan yang terdiam di pangkuan Rindu dan menggengamnya dengan erat seperti yang sudah-sudah. Yang berbeda kali ini adalah Rindu yang sudah pasrah dengan apa pun yang di lakukan Jeon.
Keheningan yang terjadi di mobil mereka akhirnya membawa mereka sampai di rumah sakit Ibu dan anak. Ini adalah pertama kalinya Jeon bertemu dengan kakaknya setelah pertengkaran yang terjadi beberapa bulan lalu di rumah sakit.
__ADS_1
Meskipun tidak pernah bertemu atau berkomunikasi Jeon sudah mendengar bawa kakaknya itu sudah banyak berubah dari sang Ibu. Tiap kali mereka melakukan panggilan video call atau hanya berkirim pesan, ibunya itu akan selalu menceritakannya pada anak asuhnya itu. Dan Jeon berharap perubahan yang terjadi ini akan berlangsung hingga akhir.
Tangan Jeon dan Rindu masih terpaut saat mereka menyusuri koridor rumah sakit.
"Je, apakah pendarahannya parah?"
"Kata Mama tadi pendarahannya cukup hebat makanya dia harus ditindak operasi. Kamu kepikiran sesuatu yang buruk? Aku pun begitu, mendengar Mama yang mengkhawatirkan mereka karena Kak Jeff yang nggak ngasih kabar buat aku berpikir yang tidak tidak juga."
Beberapa saat kemudian, mereka melihat sosok Jeff yang berada di luar ruangan dengan wajah yang ia tutup dengan kedua telapak tangan. Siapa pun yang melihat Jeff sekarang pasti berpikir bahwa pria itu tidak baik-baik saja.
Jeon mempercepat langkahnya dan, "Kak gimana keadaan istrimu?"
Jeff mendongak dengan terkejut. Dan lebih mengejutkan lagi baginya adalah Jeon yang datang bersama dengan mantan istrinya. Sempat melihat pagutan tangan keduanya, namun ia mengabaikan penglihatannya itu.
"Je," panggil Jeff dengan lirih. "Bagaimana bisa kau ada di sini?" Jeff berdiri. Ia menjawab pertanyaan Jeon dengan sebuah pertanyaan.
Jeff mendudukkan dirinya kembali setelah Jeon menanyakan keadaan istrinya. Mulutnya terasa berat untuk menjawab.
"Kak, semuanya baik-baik saja, kan?"
"Ratu sekarang masih diperiksa sama Dokter. Nafasnya sempat berhenti tadi."
Sungguh apa yang dikatakan Jeff membuat Jeon dan Rindu sama-sama terkejut. Jeon lalu duduk di samping sang Kakak dan memberikan rangkulan untuknya.
Pernah berseteru dan bersitegang dalam waktu yang cukup lama, nyatanya tak mengubah rasa kasih sayang Jeon pada kakaknya. Jika siapa pun yang mendengar kata atau ujaran kebencian Jeon terhadap Jeff, percayalah itu hanya bentuk kemarahan dan kecewanya Jeon pada sang Kakak.
"Semua akan baik-baik saja. Kakak juga harus kuat untuk Ratu. Kakak nggak boleh seperti ini, dia butuh kekuatan dari Kakak untuk bertahan. Bayi kalian gimana?"
"Dia berhasil diselamatkan. Keadaannya baik-baik saja meskipun ada di inkubator. Aku sudah berusaha untuk kuat, tapi bagaimana bisa aku tenang kalau dokter dari tadi sudah berada di dalam, tapi dia nggak keluar-keluar. Apa yang dia lakukan di dalam?"
__ADS_1
Jeon memberikan elusan di punggung pria itu. Ia ikut sakit melihat kakaknya seperti itu, meskipun ia tidak pernah merasakan dan berharap tidak akan pernah berada di posisi Jeff, ia mengerti perasaannya kali ini tidak baik-baik saja. Bukan hal yang mudah untuk berlagak tegar ketika orang yang kita cintai sedang terjadi sesuatu. Apalagi yang Jeff alami ini berhubungan dengan nyawa dan sarat akan kehilangan.
Jeff dan Jeon berdiri ketika pintu ruangan Ratu terbuka dari dalam. Perasaan Jeon tiba-tiba merasa tidak enak ketika melihat wajah dokter yang nampak muram.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? Nafasnya kembali, kan? Dokter berhasil membuat nafas istri saya kembali, kan, dok?"
"Maaf sekali, Pak..."
"Jangan minta maaf! Katakan kalau nafas istri saya kembali. Saya nggak butuh maaf. Saya butuh istri saya, saya butuh nafas istri saya kembali." Jeff memotong ucapan dokter itu dengan teriakan sedikit keras.
"Kakak yang tenang, jangan teriak-teriak. Kita dengerin dulu apa yang mau dibilang sama dokternya." Tangan Jeon merangkul pundak kakaknya yang sepertinya mendadak lemas setelah mendengar kata maaf dari dokter yang menangani Ratu.
"Bagaimana Dok keadaannya? Pasien berhasil diselamatkan, kan?" Jeon yang bertanya.
"Kami tidak bisa menyelamatkan pasien, Pak. Maaf sekali, karena memang pendarahan yang disebabkan pasien dari awal sudah sangat hebat."
"Kalian memang tidak berguna! Pergi dari harapan saya, pergi!" Jeff histeris. Ia meluruhkan tubuhnya ke lantai. "Tidak seharusnya aku membawa Ratu ke sini. Harusnya aku bawa ke tempat lain, harusnya aku bawa ke rumah sakit lain yang lebih bisa menangani dia." Jeff benar-benar terisak dan terpukul dalam pelukan adiknya.
Jeon memberikan kode pada Rindu untuk menghubungi ibunya selama ia menenangkan kakaknya. Wanita itu hanya mengangguk dan pergi sedikit jauh dari keduanya.
"Sudah Kak. Ini sudah jalannya, jangan seperti ini. Aku yakin Ratu juga tidak mau Kakak seperti ini. Kakak harus menenangkan diri Kakak dulu setelah itu kita lihat Ratu, ya."
Selesai menghubungi Bu Merlin, Rindu kembali dengan sebotol air untuk mantan suaminya. Ia serahkan botol itu pada Jeon.
"Minum dulu, Kak. Sedikit saja supaya Kakak lebih tenang."
Terlihat hanya setetes aja Jeff memasukkan air mineral itu ke dalam mulutnya. Tenggorokannya mungkin saja tidak mampu menelan apa pun saat ini.
"Je, dokter tadi pasti salah. Nggak mungkin Ratu ninggalin aku, nggak mungkin dia ninggalin anaknya begitu saja. Dia yang menantikan kelahiran anaknya, nggak mungkin dia pergi, Je. Nggak mungkin." Ucapan Jeff sudah tidak sehisteris dari tadi. Ia kali ini berkata dengan pelan, namun terdengar memilukan.
__ADS_1