
"Maaf jika kedatangan saya sedikit mengejutkan Ibu. mungkin Ibu bertanya-tanya sebelumnya apa pernah kita saling kenal atau mungkin bertemu. Mungkin kita nggak saling kenal, kita juga belum bertemu sebelumnya. Lebih tepatnya, saya yang mengetahui Ibu secara diam-diam. Sebelum saya menceritakan sesuatu, saya ingin menunjukkan sesuatu ke Ibu. Barangkali Ibu bisa mengingat benda yang akan saya tunjukkan ini."
Bu Mita merogoh tas kecilnya dan mencari sesuatu di sana. Ia mengambil sebuah gelang dan juga kaos kaki yang tidak sepasang, lebih tepatnya kaos kaki itu hanya di satu bagian saja. Beliau memperlihatkan kedua benda itu di hadapan Bu Merlin.
Bu Merlin yang melihat kedua benda itu seketika membulatkan matanya. Pandangan beliau arahkan pada wanita yang mengaku bernama Mita ini.
"Dari mana Ibu mendapat benda ini?" Bu Merlin akhirnya bertanya setelah beberapa saat terdiam.
"Ibu masih ingat dengan Benda ini?"
"Tentu saja saya ingat kedua benda ini. Bahkan masih saya simpan karena saya menyadari satu hal, pasti suatu hari nanti akan ada seseorang yang datang ke sini untuk menjelaskan sesuatu dan mencari anaknya."
Bu mita menundukkan kepala, ada rasa sakit di dada yang sulit untuk beliau uraikan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Asal Ibu tahu, saya sudah sangat lama menantikan momen ini. Momen di mana saya bertemu dengan seorang wanita yang sudah tega membuang anaknya sendiri. Saya tidak tahu dahulu ada masalah apa Anda sampai tega melakukan hal yang sekeji ini. Bahkan binatang saja tidak pernah melakukan ini, Bu."
Bu Merlin tiba-tiba merasakan emosi yang sedikit muncul ketika mengingat 26 tahun yang lalu. Beliau menemukan seorang bayi di tempat sampahnya dengan hanya beralaskan kain bedong dan juga kaos kaki sebelah. Ada secarik surat dan juga gelang yang terukir sebuah nama di sana. Namun, beliau tidak memakai nama itu untuk dijadikan nama bayi yang beliau temukan.
"Iya Bu, saya tahu saya salah, akan saya jelaskan terlebih dahulu bagaimana ceritanya dan apa penyebabnya saya melakukan ini. 26 tahun yang lalu, saya melakukan ini karena terpaksa Bu. Saya hanyalah seorang wanita perantauan yang bekerja mencari nafkah di kota besar ini. Saya baru saja melangsungkan pertunangan ketika saya mengetahui bahwa saya hamil setelah hasil pemerkosaan beberapa bulan sebelum pertunangan saya. Saya sangat mencintai suami saya, saya tidak mau kehilangan dia. Saya tidak mau hanya karena saya hamil, pernikahan kami akan batal. Akhirnya saya putuskan untuk membiarkan anak saya tumbuh di rahim saya. Tapi saya tidak punya pilihan lain selain..." Bu Mita tidak sanggup melanjutkan ceritanya. Beliau menangis tersedu mengingat 26 tahun yang lalu dengan jahatnya membuang anaknya di tempat sampah.
Sementara Bu Merlin yang mendengarkan cerita dari wanita itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa tidak percaya bahwa ada seorang perempuan dan seorang ibu yang rela mengorbankan anaknya demi seorang pria yang akan menikahinya.
"Jika memang Anda lebih mementingkan suami Anda daripada darah daging anda sendiri, daripada anak yang sudah anda lahirkan dengan bertaruh nyawa. Lalu kenapa ada sekarang ke sini, untuk apa?"
"Saya hanya ingin bertemu dengan anak saya, Bu. 26 tahun saya memendam rindu sendirian. Saya tidak bisa menemui dia, bahkan hanya untuk menyapa atau melihat. Ibu adalah seorang perempuan, Ibu juga pasti punya anak..."
"Jangan bandingkan saya dengan Anda. Saya bukan Anda yang tega membuang anaknya di tong sampah. Kalaupun saya ada di posisi Ibu, lebih baik gagal menikah daripada saya harus membuang anak yang susah payah saya lahirkan. Langsung pada intinya saja, apa mau Ibu sekarang?"
__ADS_1
"Izinkan saja hanya untuk bertemu dengan anak saya, Bu. Saya tidak ada niat untuk mengambilnya hanya ingin bertemu saja."
"Ke mana saja Anda selama ini? Kenapa baru sekarang mau menemuinya? Kenapa baru sekarang setelah dia menjadi seorang pria yang dewasa, Ibu baru mau ketemu?"
"selama ini saya tidak punya kesempatan untuk ke sini, Bu. Saya hanya minta belas kasihan Ibu untuk mengizinkan saya bertemu dengan anak saya."
Bu Merlin yang merasa geram dengan wanita itu seketika bertindak tegas dengan mengusirnya dari rumah. Bukan bermaksud untuk kasar atau tidak sopan, tapi beliau merasa bahwa Bu Mita ini melakukan kesalahan besar dengan membuang dan setelah 26 tahun kemudian baru datang kembali untuk menemui anaknya. Itu adalah hal terkonyol yang pernah Bu Merlin jumpai dalam kehidupannya.
"Sudah Bu, ini adalah rumah saya dan saya ingin Ibu pergi dari sini dan jangan pernah datang ke sini. Saya tahu Anda ibunya, anda punya hak atas anak Ibu. Ibu yang mengandung, yang melahirkan, saya tahu itu. Tapi jangan lupa Ibu juga sudah membuangnya. Yang merawat selama 26 tahun, saya yang memberikan pendidikan, kasih sayang dan perhatian, saya Bu. Saya orangnya. Saya juga punya hak atas anak ibu. Anak Ibu sudah saya masukkan dalam keluarga saya, sudah memakai nama marga suami saya, saya sudah mengadopsi anak Ibu. Jangan pernah berpikir bahwa Ibu bisa dengan mudah dan leluasa bertemu dengan dia."
Bu Merlin memang sudah sejak lama menyimpan kebencian dan kemarahan untuk ibunya Jeon. Meskipun keduanya tidak pernah saling bertemu, tapi kedua rasa itu sudah menyatu diri Bu Merlin. Menemukan seorang bayi dengan sengaja meninggalkan sesuatu yang suatu hari nanti bisa dicari itu adalah hal yang sangat tidak bisa dimaafkan bagi Bu Merlin.
Bu Mita masih menggedor-nggedor pintu ketika Bu Merlin menutupnya dengan paksa dan menguncinya. Seakan tidak mau mendengarkan air mata buaya yang dikeluarkan oleh Bu Mita, wanita itu segera kembali ke dalam kamar cucunya. Sementara wanita yang sudah melahirkan Jeon hanya mampu menangisi masa lalunya. Beliau sudah menduga bahwa untuk bertemu dengan anaknya tidak semudah saat mengatakannya.
__ADS_1