
"Jeff ini sudah jam sepuluh, aku nggak mau nunggu lebih lama lagi, kamu jemput aja dia. Aku nggak akan lega kalau dia nggak minta maaf di depan ku."
"Aku dari tadi juga sudah berusaha untuk menghubunginya, tapi nomernya tidak aktif. Baiklah aku akan jemput dia di hotel, kamu jangan ke mana-mana."
Jeff meninggalkan kekasihnya yang sedang bermain air di pantai. Ratu menikmati liburannya kali ini, memang rasanya sudah lama ia tidak bepergian untuk liburan.
Jeff menggerutu di sepanjang perjalanan. Tak henti-hentinya ia berusaha untuk menghubungi istrinya itu, namun hasilnya tetap sama, Nomornya tidak bisa dihubungi.
Jeff berhenti untuk melakukan usahanya yang sia-sia itu setelah sampai di hotel. Kakinya ia bawa dengan cepat agar segera sampai di kamar hotel. Namun, begitu sampai di kamarnya, ia mendapati pintu yang terkunci. Berteriak dan menggedor pintu dengan keras adalah pilihan yang ia ambil.
"Penghuninya sudah keluar dari tadi pagi, Mas." Seorang tentangga kamar Rindu memberitahu.
Jeff kembali pergi setelah mengucapkan terima kasih. Umpatan dan kata-kata sumpah serapah masih ia ucapkan dalam hati. Bagaimana tidak? Ia tidak tahu ke mana wanita itu pergi dan akan ke mana ia cari di tempat yang sebesar ini.
***
"Dia nggak ada di hotel, nomornya nggak aktif, aku nggak tahu dia pergi ke mana. Kenapa tidak kamu lupakan saja, Sayang soal itu? Lagi pula itu sudah lama terjadi. Dia juga sudah menerima imbalan dari apa yang sudah dia perbuat. Seandainya kamu tahu apa yang aku lakukan waktu itu kamu akan berterima kasih. Dia tidak penting bagi kita, yang penting kita selalu bersama dan kita bisa menikmati waktu berdua, sudah jangan pikirkan yang lain."
Dengan setengah hati, Ratu mengiyakan apa yang diucapkan oleh kekasihnya. Memang benar apa yang diucapkan, setidaknya dua hari ini Rindu sedang merasakan sakit hati yang mungkin saja tidak bisa diobati. Dan akhirnya, keduanya kembali fokus pada kemesraan sebelum nanti sore Ratu kembali pulang.
Seperti yang sudah terpikirkan di kepala Rindu, ia hari ini akan menghabiskan waktu di luar hotel. Dan ternyata apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Meskipun ia pergi seorang diri, ia tetap menikmati.
__ADS_1
Kini ia berpikir untuk kembali ke hotel. Ia keluar dari pusat perbelanjaan setelah puas berada di sana. Ia membeli banyak barang kali ini, ia membawakan semua orang oleh-oleh.
Saat baru saja sampai di teras pusat perbelanjaan, hujan turun dengan derasnya disertai oleh petir yang menggelegar. Mau tak mau ia harus menunggu hingga hujan reda untuk setidaknya naik angkutan umum menuju hotel. Tidak membawa ponsel rupanya merepotkan juga, ia tidak bisa pulang dengan cepat karena tak bisa memesan apa pun untuk ia naiki ke hotel. Tapi, bukankah ini yang ia mau?
Rindu memutuskan untuk menunggu hujan reda di kedai dekat mall. Menunggu dengan memakan atau meminum sesuatu yang hangat nampaknya pas dengan suasana yang hampir gelap ditambah udara dingin yang menusuk tulang.
Rindu mulai cemas ketika hujan tidak kunjung reda dipukul tujuh malam. Ia khawatir jika terlalu malam tidak ada angkutan atau kendaraan umum yang bisa membawanya ke hotel. Ia mulai menampakan wajah cemas dan gesture yang cukup jelas di mata telanjang bawah ia memang mencemaskan keadaannya.
Sementara di tempat lain, Jeff yang sudah kembali ke hotel tadi sore mulai mencari keberadaan istrinya yang tak kunjung pulang. Ia tidak tahu harus mencari ke mana dalam keadaan gelap dan juga tanpa arah dan tujuan. Dengan satu buah payung di tangannya, ia menendang-nendang udara dan juga air yang tergenang karena saking kesalnya dengan Rindu yang kelayapan hingga lupa waktu.
"Ya Tuhan ke mana aku harus mencari wanita itu? Aku berharap dia tidak pergi jauh dari sekitar sini, aku juga sangat lelah berjalan sejak tadi."
Jam yang terus berjalan membawa malam semakin gelap dan sepi. Hujan masih turun meski tak sederas tadi. Rindu yang mulai tak nyaman dengan beberapa pria yang memperhatikan dirinya dari jauh.
Merasa hujan tidak saudara tadi yang memutuskan untuk pulang.
"Bu, saya bisa minta kantong kresek yang besar untuk tempat belanjaan saya supaya tidak basah?"
Dengan senang hati pemilik kedai itu memberikan satu kantong kresek berwarna merah untuk tempat belanjaan Rindu yang cukup banyak. Setelah merasa belanjaannya cukup tersimpan rapi dan aman, Rindu nekad berjalan kaki menuju tempat di mana tadi ia sempat melihat pangkalan tukang ojek. Ia berharap masih ada ojek yang akan mengantarnya ke hotel.
Namun sialnya, saat beberapa langkah Rindu sedikit menjauh dari kedai, ia baru menyadari bahwa dirinya sedang diikuti oleh tiga pria yang tadi memperhatikannya. Sadar dengan hal itu, ia segera berjalan cepat untuk menuju tempat yang akan ia tuju.
__ADS_1
Semakin cepat ia berjalan tiba-tiba grap. Salah satu pria yang sejak tadi mengikutinya berhasil meraih tangan Rindu, dan dua orang pria lainnya menghadang jalan Rindu, sehingga ia saat ini dikelilingi oleh tiga pria muda.
"Jangan terburu-buru cantik. Mau dibawakan belanjaannya? Ini masih hujan, seharusnya tadi kau berteduh dulu. Atau kau mau kami antar pulang? Di mana rumahmu? Katakan!"
"Jangan ada yang berani sentuh atau aku akan teriak. Ini belum cukup malam, masih ada banyak orang yang berkeliaran di luar rumah. Jadi jangan macam-macam!"
"Oh ayolah, jangan jual mahal! Mari kita bersenang-senang satu malam saja." Salah satu pria itu menyentuh lengan Rindu yang terbuka dengan lebar.
"Jangan sentuh aku! Tolong." Hanya sekali berteriak ketiga pria itu sudah panik dan dengan segera membekap mulut Rindu dengan tangannya.
Tanpa pikir panjang Rindu menggigit tangan pria itu dengan sekeras-kerasnya. Setelah berhasil melakukan itu, Rindu segera berlari dari sana. Rindu yang panik, takut terkejar langkah kakinya sesekali menengok ke belakang untuk memastikan keberadaan ketiga pria itu. Dan karena hal itu, ia tidak sengaja menubruk pejalan kaki lainnya.
Rindu tersungkur di aspal, pergelangan kakinya terasa nyeri karena ia berlari menggunakan hells dan terjatuh pula. Ia berusaha untuk berdiri sendiri, tubuhnya sudah sedikit basah kuyup karena air hujan.
"Maaf, Mas saya tidak sengaja. Tolong saya, Mas, saya dikejar sa..."
Ucapan Rindu terhenti karena pria yang ia tubruk adalah suaminya sendiri.
"Mas aku di kejar sama orang jahat, tolong. Itu dia." Rindu bersembunyi di balik punggung Jeff.
Pria yang sebenarnya ingin memaki istrinya itu urung ia lakukan karena panggilan dari ketiga pria tadi yang meminta untuk melepaskan Rindu pada mereka.
__ADS_1