
"Rindu, sudah cukup! Berhenti, Rin, berhenti!" Jeon baru menggengam pergelangan tangan Rindu ketika dirinya teringat sesuatu.
Rindu berhenti memukul, namun tidak dengan isakannya. Ia ingat sebelum ia sampai di sini, tapi ia sama sekali tidak ingat bagaimana bisa ia polosan dan lebih parahnya bersama dengan Jeon.
"Kita di jebak, aku yakin kita dijebak. Tapi sekarang kita pakai baju dan ikut Papa, biar aku bisa cepat-cepat menjelaskan kalau kita ini sedang dijebak."
Jeon dengan segera memakai baju secepat mungkin sementara Rindu sama sekali tidak melakukan pergerakan apa pun selain menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Rindu, tolong berhenti menangis! Kita tidak melakukan apa pun. Kalau kamu mau kesalahpahaman ini segera lurus. Please, pakai bajumu!" Jeon mengambil seluruh pakaian Rindu yang teronggok di lantai dan menyerahkannya pada wanita itu.
Sementara di bagian lain tempat itu, semua orang menunggu Rindu dan Jeon dengan hening. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jika Pak Jo dan istrinya masih tenggelam dalam ketidakpercayaan atas apa yang mereka lihat, berbeda dengan Jeff yang sudah tenggelam dan sedang membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa pun yang terjadi selanjutnya adalah momen yaang lagi-lagi sudah di pastikan keberuntungan akan berada di pihaknya.
Senyum kebahagiaan Jeff sedang terukir di dalam sana, ia sembunyikan di depan wajah yang seakan-akan menunjukkan bahwa ia sudah kecewa dengan keadaan. Sekali lagi, akting Jeff sepertinya harus diakui kehebatannya.
Tak berselang lama, terlihat Rindu dan Jeon mengeluarkan diri dari bangunan megah itu. Rindu langsung menuju mobil keluarganya, sementara Jeon melipir ke arah kendaraannya yang sudah terparkir sejak beberapa jam yang lalu.
Rasa malu dan canggung menyelimuti Rindu saat berada dalam satu mobil dengan keluarganya. Air matanya masih terus membasahi pipinya meski tak terdengar isakan. Ingin sekali rasanya ia bicara untuk mengeluarkan kalimat pembelaannya, namun ia tidak punya keberanian. Yang ia lakukan saat ini hanya menunduk, menatap jari jemari tangannya yang memilih-milin baju atasannya. Kedua mertua dan juga suaminya pun memilih untuk bungkam.
__ADS_1
Bahkan setelah sampai di rumah dan duduk di ruang keluarga, kelima orang itu pun masih terdiam. Pak Jo Sedang berpikir pertanyaan apa yang akan beliau keluarkan untuk pertama kalinya, beliau benar-benar kehabisan kata untuk anak asuh dan juga menantunya.
"Sejak kapan kalian melakukan ini?" Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya dengan menahan amarah yang ada di dada Pak Jo bersuara.
"Pa, aku berani sumpah, aku sama Mbak Rindu tidak pernah melakukan hubungan itu. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan itu kalau kontak fisik saja kita sudah tidak pernah. Aku tadi itu ke hotel itu karena mendapat pesan dari Mbak Rindu. Dia bilang lagi disekap sama orang yang nggak dikenal. Dia sempat share lokasi ke aku. Aku nggak pikir panjang, aku berpikir kalau Mbak Rindu sedang diculik sama orang dan dibawa ke hotel. Aku langsung menuju hotel begitu pembaca pesan itu. Dan begitu sampai sana, aku belum sempat masuk ke hotel, tapi ada seseorang yang membuat aku nggak sadar sampai akhirnya aku tersadar, tapi sudah berada di kamar sama Mbak Rindu. Ini jelas aku sama Mbak Rindu dijebak, Pa. Ini udah jelas banget."
"Benar kamu mengirim pesan pada Jeon bahwa kamu disekap, Rin?"
Rindu menggeleng lemah, "Sungguh aku tidak ingat apa pun kejadian setelah ada tiga orang yang membawa aku, Pa. Aku tadi ke supermarket, saat menuju perjalanan pulang, aku di bawa paksa sama dua orang yang aku nggak kenal mukanya gimana. Karena mereka memakai penutup wajah, tapi pakaian mereka rapi. Aku berusaha untuk melepaskan diri, tapi tenaga aku kalah sama mereka. Dan setelah itu aku nggak tahu apa yang terjadi, begitu aku tersadar, aku sudah di kamar tadi." Rindu berusaha untuk menahan air matanya agar tak terjatuh kembali.
"Coba lihat hp-nya kalau gitu," sahut Jeff.
"Nggak ada apa-apa di sini. Di ruang chat ini nggak ada pesan dari Rindu. Begitupun Rindu di hp-nya juga nggak ada pesan buat Jeon. Drama apa yang kalian mainkan?" Jeff menambah suasana menjadi semakin panas.
Pak Jo meletakkan kembali ponselnya di meja begitu melihat ponsel keduanya. Beliau menghembuskan nafas kasar dan berat, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan kedua anak ini.
Tak pernah terpikir oleh Pak Jo, anak yang beliau besarkan dengan kasih sayang seperti anak kandung malah mengecewakannya begitu besar dan dalam.
__ADS_1
"Papa sumpah, Pa. Aku nggak bohong, tadi aku ada menerima pesan dari Mbak Rindu." Pandangan Jeon beralih ke samping. "Mbak Rindu ngomong dong, Mbak tadi kirim pesan ke aku, kan?" Jeon mulai panik dengan situasi ini. Bagimana bisa pesan itu hilang, pikirnya.
"Aku, kan udah bilang tadi, Je. Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah aku dibawa paksa itu."
"Pa, aku yakin kita dijebak, Pa. Kita sama-sama nggak sadar kita berada di satu tempat. Kita aja nggak tahu proses terjadinya ada di sana. Pasti ada yang buat kita nggak sadar, Pa. pasti ada yang menjebak kita."
"Yang menjebak siapa sih, Je? Tujuannya apa? Memang pada dasarnya kau sudah suka dari awal sama Rindu. Udahlah nggak usah berbelit-belit. Udah terlihat di depan mata kok masih ngelak." Lidah Jeff memang licin jika diminta untuk memperkeruh suasana.
"Jelas aku ngelak, Kak. Karena aku sama Mbak Rindu memang nggak pernah melakukan apa pun."
"Tanpa busana nggak melakukan apa pun? Hewan kau beritahu pun nggak akan percaya, Je!" Jeff menyempurnakan aktingnya dengan menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
"Sudah cukup! Papa nggak percaya ini. Anak Papa yang sama sekali tidak pernah mengecewakan Papa, sekalinya mengecewakan, melakukan dosa yang sangat besar." Tak ada isakan, namun air mata dari kedua matanya sudah lolos membasahi pipinya.
Jeon yang melihat itu seketika teriris hatinya. Seketika ia luruh, ia meluruhkan diri di hadapan kedua orang tuanya. Ia menangis sesenggukan di sana. Ia begitu sakit melihat kedua orang tua yang mengasuhnya dari bayi mengeluarkan air mata karena kesalahpahaman.
"Pa, Ma. Aku mohon percaya sama aku, aku nggak melakukan apa pun. Aku berani sumpah, Pa."
__ADS_1
"Mama juga ingin nggak percaya, tapi..." Bu Merlin tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, beliau bangkit dan berjalan menuju kamar.
"Aku nggak mau melanjutkan pernikahan ini, Pa. Pengkhianatan ini sudah cukup sekali dilakukan. Aku nggak mau memberikan kesempatan pada siapa pun untuk mengkhianati aku dua kali."