Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
57. Keyan


__ADS_3

Bayi mungil yang diberi nama Keyan itu akhirnya bisa dibawa pulang setelah satu bulan mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Selama satu bulan itu, bukan hanya Jeff yang sedang menjalin kedekatan dengan anaknya, tapi ibunya juga. Meski Bu Merlin juga memiliki kesamaan dengan suaminya yang tak menyukai Ratu, tetap saja bayi yang sudah lahir ke dunia itu tak memiliki kesalahan apa pun.


Sikap berbeda di tunjukan oleh Pak Jo. Meskipun beliau tak keberatan dengan kembalinya Jeff ke rumahnya, beliau tetap pada pendiriannya untuk tidak bertegur sapa dengan sang anak.


"Selamat datang di rumah baby Keyan. Semoga harimu akan selalu indah." Jeon memberikan sambutan sederhana saat Kakak dan juga ibunya memasuki rumah dengan membawa bayi. "Aku baru kali ini melihat wajahnya dengan jelas. Ternyata dia sangat mirip sama Kakak."


"Mudah-mudahan sifatnya nggak kayak aku. Aku yang dulu sangat tidak cocok untuk ditiru siapa pun."


"Yang penting Kakak yang sekarang Kakak yang dulu."


"Ngomong-ngomong, kita sudah sebulan ini akur, tapi belum ada yang minta maaf, ya." Jeff berucap seraya terkekeh. "Aku minta maaf sama kamu, ya Je. mungkin kesalahan aku terlalu banyak dan besar kalau dimaafkan dengan cepat. Tapi..."


"Nggak ada yang perlu dimaafin, Kak. sebenarnya aku tuh nggak pernah benci sama Kakak. Aku juga nggak pernah merasa dendam sama apa yang sudah Kakak berikan aku. Kakak hina aku, Kakak benci sama aku, aku nggak pernah ada pikiran untuk benci juga sama Kakak. Tapi memang beberapa bulan yang lalu saat aku melakukan perlawanan sama Kakak, itu bukan semata-mata karena aku benci sama Kakak. Tapi...."


"Karena aku sudah menyakiti Rindu."


Mereka terseyum kecil setelah itu. Jika saja Bu Merlin tidak menengahi obrolan mereka, mungkin saja kedua pria itu masih membicarakan apa yang sudah berlalu entah hingga kapan.

__ADS_1


Setelah obrolan singkat itu, Jeon pamit untuk melaksanakan tugasnya sebagai dokter. Yang tak lama kemudian kepergiannya itu disusul oleh ayahnya. Pak Jo sempat berpapasan dengan istri dan juga anaknya ketika hendak keluar rumah. Langkah pria itu terhenti sejenak, menatap kedua keluarganya dan juga bayi yang berada dalam dekapan istrinya. Tanpa sepatah kata pun beliau melanjutkan langkahnya, namun langkahnya itu terhenti karena panggilan dari anaknya.


"Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk kembali ke sini." Jeff berujar seraya berjalan mendekati sang Ayah.


Pak Jo masih berdiam diri menghadap pintu. "Tidak perlu berlebihan, syukuri saja sekarang apa yang ada."


"Tidak adakah sedikit Maaf untukku? Kita akan tinggal satu rumah selamanya. Rasanya nggak akan nyaman, nggak enak juga kalau kita nggak saling memaafkan dan bertegur sapa seperti anak dan ayah pada umumnya. Aku tahu kesalahan aku besar, tapi berikan aku kesempatan untuk setidaknya menebus kesalahan aku, Pa."


"Memaafkan adalah hal yang mudah, tapi kamu tahu hal yang sulit dilupakan itu apa. Jadi Nikmati saja sekarang yang ada. Kita tinggal serumah, menjadi satu keluarga, ya sudah. Kenapa harus memikirkan yang lain? Fokus saja pada anakmu, jangan tenggelam pada masa lalu. Kamu nggak akan kembali ke sana." Pak Jo bicara sejak tadi tanpa melihat anaknya sedikit pun. Dengan ketegasan yang masih sama, satu detik setelah beliau mengucapkan kalimat terakhirnya, beliau pergi dari hadapan sang anak.


Bu Merlin baru saja kembali setelah meletakkan Keyan di tempat tidurnya, wanita itu mendapati anaknya yang mematung, meskipun beliau tidak tahu obrolan apa yang diobrolkan oleh suami dan anaknya, beliau meyakini bahwa apa yang mereka obrolkan tadi pasti berhubungan dengan hal yang tidak jauh dari masa lalu.


"Aku mau ke kantor aja, Ma. Mama serius nggak butuh baby sitter sekarang? Aku nggak mau Mama cape."


"Mama pernah rawat dua bayi, udah nggak usah khawatir."


Setelah obrolan singkat dengan sang Ibu, Jeff langsung menuju kantornya. Ia harus menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak terlalu teringat dengan almarhumah istrinya.

__ADS_1


Sempat terlintas dalam pikiran Jeff, bahwa pria itu kurang beruntung mengenai persoalan asmara. Ia pernah jatuh cinta dengan Rindu di akhir pernikahannya, ia ingin mempertahankan istrinya itu, tapi sayangnya wanita itu memilih jalan lain. Sempat melupakan satu-satunya wanita yang bertahta di hatinya, Jeff kembali melabuhkan hatinya di hati wanita yang untuk sejenak ia lupakan. Tapi, lagi-lagi takdir mempermainkannya dengan mengambil wanita itu untuk selama-lamanya. Dan sekarang ia tidak bersama dengan siapa pun, tidak juga dengan Rindu dan Ratu. Tapi tidak apa, tidak ada yang perlu disesalkan bagi Jeff, karena apa pun yang terjadi hingga detik ini adalah pilihan yang terbaik untuknya.


Kurang lebih satu jam dari perginya Jeff, ada seorang wanita yang diperkirakan usianya sedikit lebih muda dari Bu Marlin nampak sedang berdiri di teras seperti bingung hendak memencet bel atau tidak.


Namun, keraguan itu nampaknya tetap membawa wanita tersebut untuk bertemu dengan sang pemilik rumah. Bu Merlin yang hendak keluar membuang sampah dikejutkan oleh seseorang yang berdiri dapat di tengah pintu.


"Selamat pagi, Bu," sapa wanita itu.


"Iya pagi, ada yang bisa saya bantu?"


Wanita yang berperan sebagai tamu itu tidak langsung menjawab. Beliau seperti sedang meneliti wajah dari wanita yang berada di depannya.


Sepertinya ini adalah pemilik rumah yang sama seperti 26 tahun yang lalu.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu, Bu?"


"Ah iya. Perkenalkan, nama saya Mita. Saya sedikit ada keperluan sama Ibu. Apa Ibu sedang sibuk?"

__ADS_1


"Ada keperluan dengan saya? Baiklah kalau begitu silakan masuk, Bu."


__ADS_2