Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
62. Sleep Call


__ADS_3

"Saya bersedia untuk membantu Ibu, tapi jangan berharap besar. Saya tidak menjanjikan sebuah keberhasilan dalam usaha saya ini. Keputusan akan tetap ada pada Jeon, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin. Ini pasti akan memakan waktu yang lama, karena jujur saja, jika saya di posisi Jeon pasti saya juga akan marah dan kecewa sama Ibu."


"Iya saya tahu, terima kasih sudah mau membantu saya."


Dan akhirnya keputusan dari Rindu itu membawa mereka terpisah di jam 22.30. Sepanjang perjalanan pulang, Rindu memikirkan keadaan Jeon akhir-akhir ini. Sekarang ia paham apa yang membuat pria itu berubah lebih murung dan pendiam saat bersamanya. Dan ternyata penyebabnya adalah masa lalunya sendiri.


[Apa kamu sudah tidur? Entah kenapa aku malam ini tidak bisa tidur.]


Rindu baru saja menerima pesan dari Jeon setelah menapakkan kakinya di lantai kamar.


[Pikirkan hal yang membuat kamu bahagia, maka kamu pasti akan bisa tidur. Kamu harus istirahat sekarang, pekerjaanmu berhubungan dengan nyawa dua orang. Kalau kamu kurang istirahat, kamu akan terasa lelah, nggak bisa konsentrasi pas kerja. Itu pasti akan membahayakan, kan? Aku yakin kamu nggak akan mau kalau pasienmu terjadi hal buruk]


[Kalau begitu mari kita video call, temani aku tidur]


Rindu mengulas senyumnya. Ia terduduk di depan ranjang dan memulai panggilan video dengan Jeon.


"Kenapa sampai jam segini juga kamu belum tidur?"


"Aku udah tidur tadi  tapi pas kamu chat aku, aku baru saja keluar dari kamar mandi. Sekarang diam, jangan ngajak ngobrol kalau mau cepat tidur. Udah liatin aku aja."


Pria itu hanya menurut saja, ia mengganti posisi tidurnya agar lebih nyaman. Meletakkan ponselnya di kasur dengan disandarkan pada bantal. Rindu pun melakukan hal yang sama. Mereka hanya saling tatap tak ada suara.


Rindu yang berniat membuat Jeon tertidur malah dirinya yang tertidur lebih dulu. Baru tiga menit mereka saling tatap, Rindu sudah tidak sanggup membuka matanya. Dan ini adalah kesempatan bagi Jeon untuk memperhatikan Rindu dengan seksama saat ia terlelap.


Setelah beberapa saat memperhatikan wanitanya itu tidur, Jeon segera menyusul wanita itu setelah mematikan sambungan telepon.


°°°


"Udahlah, Ma. Jangan mikir aneh-aneh. Kita punya persyaratan proses adopsi dengan benar. Papa rasa nggak akan berani dia ambil Jeon dari kita. Udah nggak usah dipikirkan. Jadi ini yang buat kamu jadi melamun terus akhir-akhir ini?" Pak Jo bertanya setelah sesendok nasi sarapan melewati tenggorokannya.

__ADS_1


"Maunya nggan mikirin, tapi tetap kepikiran. Mama sekarang udah agak tenang, sih. Karena Jeon sendiri juga nggak dengan mudah mau memaafkan ibunya. Tapi Mama sedih juga lihat Bu Mita yang diperlakukan seperti itu sama  anaknya sendiri."


"Tugas kita hanya mengingatkan Jeon aja, Ma. Sebaiknya kita arahkan aja dia pelan-pelan untuk bisa melupakan kesalahan ibunya. Aku tahu ini pasti sangat sulit untuk dia, tapi alangkah lebih baik jika kita saling damai aja biar hidup kita tenang, Ibu kandungnya Jeon juga tenang." Jeff menengahi ketegangan keduanya.


"Kalo nanti sudah terjadi seperti itu dan Bu Mita ambil Jeon gimana?"


"Jeon udah gede, Ma. Dia udah dewasa, dia pasti bisa memutuskan untuk tinggal sama siapa. pikiran Mama jangan yang aneh-aneh. Mama nggak kasihan sama Jeon. Kalau Jeon tahu Mama kayak gini dia juga akan dobel pikirannya. Dia aja udah jadi pendiam beberapa hari ini, kan? Bisa bayangin nanti kalau dia tahu Mama terbebani begini."


Bu Merlin manggut-manggut membenarkan kalimat panjang dari anaknya. Beliau berpikir seharusnya tidak perlu beliau seperti ini. Apakah dirinya terlalu egois jika menginginkan Jeon untuk tidak meninggalkannya?


Jeon masih berada di tengah tangga saat mereka semua yang berada di meja makan mengakhiri perbincangan dan fokus pada makanan. Ia mendengar semua keluh kesah ibunya. Mendengar penuturan kekhawatiran yang di lempar oleh Bu Merlin membuat Jeon semakin menyesali kedatangan Ibu kandungnya.


Ponsel Jeon bergetar ketika melanjutkan langkahnya. Senyumnya seketika mengembangkan sempurna saat membaca deretan huruf di layar ponselnya.


"Je, sejak kapan kamu di sana? Apa yang membuat anak Mama melengkungkan bibirnya? Ada yang sudah membuat anak Mama jatuh cinta?"


Keluarganya itu tidak ada yang tahu bahwa ia dekat dengan Rindu kecuali, Jeff. Itu pun Jeff  hanya melihat sekali saja saat mereka mendatangi rumah sakit di hari di mana ratu melahirkan. Setelah itu ia tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan kisah mereka.


"Rindu? Kamu dekat sama dia?" Pak Jo yang bertanya.


"Hanya sebagai teman."


°°°


Pukul 09.00 Jeon berjalan menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi bunga. Banyak anak kecil yang memenuhi taman bunga sekaligus taman bermain itu. Mereka berlarian ke sana ke mari, saling mengejar, dan bermain banyak wahana yang tersedia di sana. Sungguh pemandangan yang indah di mata Jeon. Dalam hati ini sedang berpikir sepanjang perjalanan, kenapa Rindu harus mengajaknya bertemu di tempat sensitif seperti ini? Tidakkah ia tahu bahwa diusianya yang baru menginjak 26 tahun, ia sudah menginginkan sebuah pernikahan.


Beberapa langkah membawa kakinya jauh ke dalam taman, akhirnya ia menemukan di mana Rindu duduk. Pria itu menutup mata Rindu dan mendekatkan kepalanya ke kepala Rindu.


"Nggak ada gunanya kamu kayak begini. Aku udah tahu itu kamu." Rindu meraih tangan Jeon dan menariknya ke bawah. Seulas senyum manis ia hadiahkan untuk pria yang selalu ada untuknya.

__ADS_1


Senyum manis itu membuat Jeon bertanya-tanya dalam hati ada apa gerangan.


"Apa yang membuat kamu mengajakku datang ke sini? Dari sekian banyak tempat, kenapa kamu harus mengajakku ke taman yang dipenuhi dengan anak kecil seperti ini? Apa kamu tidak tahu betapa aku menginginkan mereka?"


Rindu terkekeh, "Apa maksudnya sih?"


"Apakah ini kode kalau kamu menerima pinanganku?"


"Astaga Jeon, tidak ada hubungannya."


"Terus?"


Rindu mengubah raut wajahnya. Ia menghela nafas sesaat dan menatap pria disampingnya dengan dalam.


"Aku semalam bertemu Bu Mita."


Sisa senyuman yang sempat menghiasi bibir Jeon seketika musnah mendengar nama Mita. Ia membuang pandangan ke segala arah.


Melihat perubahan yang signifikan, Rindu tergerak untuk meraih tangan Jeon dan ia genggam erat lalu ia letakkan dipangkuan. Ia tahu perasaan pria itu pasti campur aduk, segala rasa ada dalam hatinya kecuali rasa bahagia.


"Untuk apa dia nemuin kamu?" Jeon masih menatap pemandangan di depannya.


"Dia cerita banyak. Mau aku ceritakan?"


"Buat apa? Aku nggak mau tahu apa pun tentang dia."


"Meskipun aku yang cerita?"


Jeon menatap Rindu sekilas lalu menatap tangan yang terpaut di kaki wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2