
Perasaan Jeon sejak kemarin terasa menggalau. Ada sesuatu yang seperti sedang menggangu perasaannya. Entah apa yang menjadi penyebab ia sedikit merasa gundah sejak kemarin.
Tangan kanan yang masih belum bisa digunakan untuk beraktivitas membuat ia menghabiskan kesehariannya dengan ponsel. Sejak kemarin ia sibuk berkirim pesan dengan Rindu serta Bu Mita.
[Jaga kesehatanmu, ya. Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan untuk Ibu bertemu dan mengenali wajahmu. Ibu tidak akan pernah lupa hari itu. Dan Ibu semakin senang ketika kamu mengizinkan Ibu untuk menyimpan nomormu. Terima kasih, ya, Nak. Ibu berangkat dulu. Ingat, jaga kesehatan. Ibu akan menghubungimu lagi ketika sudah sampai rumah]
Entah berapa kali Bu Mita mengingatkan Jeon untuk menjaga kesehatannya. Beliau juga sempat mengatakan ingin datang ke pernikahan sang anak jika diizinkan. Namun, pesan dan keinginan Bu Mita itu hingga kini tak ia jawab.
Jeon tak membalas pesan itu, entahlah ada rasa yang tak rela atau tak mau jika ibunya itu meninggalkannya untuk yang kedua kalinya. Namun, sisi egois dan gengsi Jeon yang seperti masih merajai pikirannya membuat ia enggan hanya untuk sekedar mengantar ibunya ke bandara. Sisi egonya selalu mengatakan bahwa memaafkan, memberi kesempatan untuk bicara, dan bebas menghubunginya adalah hal yang sudah lebih dari cukup.
Tidak mau berkutat pada ponselnya, Jeon turun dari kamarnya. Rumah terasa sepi di jam seperti ini. Hanya ada Bu Merlin dan keponakannya yang sudah aktif dan merepotkan neneknya.
"Mau ke mana, Ma?"
"Mau keluar sebentar sama Keyan. Bosen Mama di rumah. Mau ikut?"
Jeon hanya menggeleng lemah. Entahlah, ia malas untuk keluar rumah. Ia membawa kakinya ke ruang tengah dan menyalakam televisi di sana.
Di saat televisi menyala, tak sengaja terputar tausyiah mengenai hormat pada orang tua. Entah atas dorongan siapa, Jeon memperhatikan isi tausyiah itu dengan seksama. Membiarkan telinganya terbuka lebar untuk menerima setiap kalimat yang mungkin saja bisa menjadi jalan untuk membuka pikiran seperti yang terjadi beberapa hari lalu saat dengan Bima.
Sekitar lima menit ia berdiam diri menatap layar di depannya. Ingatannya terputar pada Bu Mita, pasien-pasiennya yang pernah ia tangani. Dari profesinya itu ia paham bahwa melahirkan seorang bayi bukanlah hal yang mengenakkan atau semudah saat membuatnya. Kilasan-kilasan antara kesehariannya dan ibunya kini entah kenapa menjadi seakan tersambung begitu saja. Entah siapa yang membuatnya tersambung ia tak tahu.
"Ibu. Surgaku tetap ada padanya."
__ADS_1
Jeon berlari keluar rumah dengan air mata yang sudah berlinang. Ia meneriaki supirnya yang entah pergi ke mana. Sejurus kemudian, ia teringat bahwa ibunya juga sedang berada di luar rumah.
Seakan ia tidak punya waktu lebih banyak lagi, ia segera berlari. Jeon kini sudah persis seperti pemain drama luar negeri, berlarian di sepanjang jalan seolah tak ada kendaraan umum untuk ia tumpangi.
Tidak ada hal lain yang ada dalam pikirannya saat ini selain Bu Mita. Yang menjadi tujuannya kini adalah ia harus membiarkan ibunya untuk tetap berada di sisinya tanpa harus meninggalkan Bu Merlin. Jika ia bisa mendapatkan kasih sayang keduanya, kenapa ia harus memilih untuk dimiliki salah satu diantara mereka?
Setelah berlarian entah berapa kilometer jatuhnya, Jeon merasa nafasnya sudah tak begitu kuat. Ia berhenti sejenak untuk mengembalikan nafasnya. Ia tak bisa melakukan apa-apa selain harus segera cepat sampai di sana. Ia tak membawa apa pun, dompet, ponsel semua tertinggal di rumah.
Khawatir tak ada waktu dan kesempatan untuk mencegah ibunya pulang. Ia nekad memberhentikan taksi yang melewatinya dengan harapan ada yang berbaik hati memberinya tumpangan hingga mengantarnya pulang nanti. Seakan semesta sedang menghukumnya, taksi yang ia hentikan sejak tadi ada yang menumpangi.
Ia semakin panik saat melirik jam tangannya yang terus bejalan tanpa mengerti perasaannya. Ia celingukan ke sana kemari barangkali ada tukang ojek atau apa pun yang bisa ia tumpangi. Beberapa lama toleh kanan dan kiri, ia melihat ada beberapa orang yang bergerombol di bawah sebuah pohon. Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang ia cari. Tak mau membuang waktu lebih banyak lagi, ia kembali berlari dengan menahan sakit ditangannya. Tulangnya yang patah belum sembuh benar, dan sekarang ia ajak untuk berlari dengan kencang. Persetan dengan rasa ngilu di tangannya, ia hanya ingin segera sampai di bandara dan bertemu ibunya. Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit saat ia terlambat untuk mencegah ibunya pergi untuk kedua kalinya.
"Pak, bisa tolong saya antar ke bandara?" Jeon bertanya dengan nafas yang terngah-engah.
°°°
Entah sejak kapan Bu Mita memandangi ponselnya. Layar yang menunjukkan foto dirinya dan sang anak sulung membuatnya mengembangkan senyum kecut. Itu adalah foto satu-satunya yang beliau punya. Ingin meminta foto lebih banyak, beliau khawatir hal itu akan membuat Jeon tak nyaman dan malah menciptakan jarak diantara mereka.
Dengan menarik nafas dalam diam dan menghembuskan nafas cepat beliau bejalan untuk melakukan chek-in. Perjalanan beliau kali ini terasa berat, beberapa kali beliau berjalan dengan menoleh ke belakang berharap Jeon datang dan mencegahnya untuk pulang. Setidaknya anak itu memberikan pelukan terakhir sebelum kembali berpisah nampaknya akan membuat perasaannya jauh lebih baik.
Di tempat yang sama, Jeon untuk yang kesekian kalinya berlari. Jika di jalan tadi ia bisa berlari leluasa tanpa menabrak siapa pun kini ia harus rela mengatakan maaf pada beberapa orang dan mengorbankan tangannya untuk terbentur orang lain. Ia seakan tak punya rasa sakit, ia terus berlari tak peduli napas yang terasa hampir habis dan tangan yang terasa ngilu hingga ulu hati.
Kedua bola mata Jeon berbinar melihat Bu Mita yang tengah bediri di barisan chek in.
__ADS_1
"Ibuuuu." Teriakan dari Jeon membuat beberapa orang di sama ikut menolehkan kepala meski mereka tak tahu siapa yang dipanggil.
Jeon melebarkan langkah untuk mendekati ibunya. Sementara Bu Mita mematung di tempat, beliau tak percaya dengan apa yang beliau lihat. Beberapa kali beliau mengucek matanya demi memastikan apakah matanya salah atau tidak.
Bu Mita tersadar dari lamunan ketika tubuhnya dihempas oleh anaknya. Pelukan yang begitu erat beliau rasakan hingga beliau susah untuk bernapas. Isakan mulai terdengar seiring dengan pelukan yang semakin erat.
"Jangan pergi, Ibu mau meninggalkan aku untuk kedua kalinya? Ibu nggak mau ketemu aku lagi? Aku minta maaf, aku bikin Ibu sedih selama di sini. Aku akan beri Ibu kesempatan untuk mengurus ku sebelum aku menjadi suami. Tetap di sini, Bu. Biarkan Nabila dan Abil yang ke sini. Tinggal di sini sama aku."
"Ibu nggak salah dengar?" Bu mita mengurai pelukannya. Tatapannya langsung tertuju pada kedua manik mata yang memerah dan penuh genangan air. Dengan perlahan wanita itu menghapus cairan bening itu dengan lembut.
"Haruskah aku mengulang ucapanku? Aku juga mau disayang sama Ibu seperti kedua adikku. Aku juga mau mendapatkan perlakuan yang sama seperti mereka. Aku juga mau tidur dipangkuan Ibu ketika aku nggak bisa tidur, sama seperti aku meminta pangkuan Mama ketika aku lelah. Aku punya dua Ibu yang sayang sama aku. Harusnya aku senang, harusnya aku nggak milih salah satunya. Ayo ikut aku kembali, Bu. Ikut aku pulang. Akan aku carikan rumah yang dekat sama rumah Papa. Biar aku bisa dekat sama kalian semua terus."
"Hadiah ulang tahun yang sangat istimewa bagi Ibu."
"Hari ini Ibu ulang tahun?" Jeon kembali memeluk ibunya dengan isakan.
"Kenapa masih saja menangis?"
"Aku memang cengeng jika dalam situasi tertentu. Maklumi aku." Jeon melepas pelukan dan menghapus air mata yang terus saja mengalir.
"Permisi, maaf Mas. Mas belum bayar ongkos ojeknya."
"Ah iya maaf." Tanpa sepatah kata lagi, Jeon menatap ibunya dengan cengengesan.
__ADS_1