Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
11. Perkara Semalam


__ADS_3

"Maaf, aku sedikit terlambat. Semalam aku kurang bisa tidur. Kalian sudah menunggu lama?" Jeon merasa sungkan pada semua orang karena terlambat untuk turun ke meja makan.


"Bukan karena kurang bisa tidur, tapi kau memang tidak tidur semalaman karena berduaan sama Rindu di dapur," sahut Jeff seraya melahap makanannya dengan santai.


Semua orang berhenti melanjutkan aktivitas mereka dan pandangan seluruh orang tertuju pada Jeff. Rindu adalah satu-satunya manusia yang terbatuk karena tersedak air minumnya.


"Apa maksudnya, Jeff?" Bu Merlin yang bertanya.


"Aku nggak perlu jawab, kalian lihat sendiri apa yang ada di HP ku." Jeff meletakkan ponselnya di meja dan menggesernya ke dekat kedua orang tuanya.


Rindu dan Jeon hanya menatap bingung bercampur was-was. Mendengar kalimat Jeff sebelumnya, Jeon dan Rindu berpikir pasti Jeff melihat mereka di dapur semalam dan terjadi kesalahpahaman.


Pak Jo dan Bu Merlin saling pandang setelah melihat ponsel Jeff yang memperlihatkan Rindu sedang menggenggam tangan Jeon.


Siapa pun yang melihat gambar itu, pasti salah paham, tak terkecuali kedua orang tua yang berada di rumah itu.


"Apa ini, Je, Rin? Kalian berduaan di dapur tengah malam?" Bu Merlin bertanya seakan tak percaya dengan apa yang beliau lihat.


"Ma, aku bisa jelaskan. Kejadiannya nggak seperti yang Mama lihat."


"Lalu kenyatannya bagaimana, Je? Di sini jelas kalau kalian lagi pegangan tangan. Dan jam yang tertera di foto ini jam tengah malam. Mau apa kalian berduaan di dapur?"


"Ma, mereka nggak akan ngaku mau ditanya kayak apa juga. Inilah sebabnya aku ingin pindah rumah. Sebaik apa pun Jeon, dia ini tetap lelaki dewasa. Rasanya nggak etis kalau aku sama Rindu tinggal di sini. Hal inilah yang aku takutkan, aku takut kalau mereka menjalin hubungan di belakang kita." Jeff menambahkan minyak pada api yang sudah menyala meski sangat kecil.


"Kamu ini ngomong apa, sih Mas? Kamu pikir aku itu manusia apa? Kamu pikir aku perempuan murahan yang sudah bersuami lalu memacari adik iparnya sendiri?"


"Ya nyatanya begitu, kan? Nggak mungkin kalau nggak ada hubungan apa-apa, tapi pegangan tangan. Kalau mau ngobrol, ya ngobrol aja biasa, nggak usah pakai pegang-pegang segala. Kalian juga pasti sudah janjian untuk ketemu di sini, mustahil kalau ini nggak direncanakan."


"Jangan membuat suasana semakin keruh, Kak. Aku sama Mbak Rindu memang nggak sengaja ketemu. Aku bikin mie, Mbak Rindu ambil air. Di rencanakan dari mana?"


"Mama sama Papa lihat sendiri, kan? Mereka saling membela satu sama lain. Ya sekarang di pikir logika aja, Ma, Pa. Kalau mereka memang ketemu nggak sengaja pertemuan mereka nggak akan duduk berudua di meja makan dan pegangan tangan. Kalau hanya tegur sapa dan ngobrol sebentar masih masuk akal. Tapi di gambar ini, apa ini faktor ketidaksengajaan?"


Jeon dan Rindu semakin panik saat melihat wajahnya kedua orang tua mereka seakan termakan oleh omongan anak sulungnya.


"Ma, Pa aku bisa jelaskan sedetail mungkin kenapa aku dan Mbak Rindu duduk di sini." Jeon memelas memohon pada keduanya untuk tetap percaya padanya.

__ADS_1


"Sudah cukup! Papa mau lihat rekamanĀ  cctv dulu. Baru setelah itu, Papa yang akan simpulkan siapa yang salah dan benar."


Tak mau membuang waktu, Pak Jo meninggalkan meja makan yang kemudian di susul oleh istrinya.


"Mas, kenapa kamu lakukan ini? Apa-apa itu bicarakan dulu, jangan kamu ambil kesimpulan sendiri. Apa yang kamu lihat belum tentu sesuai dengan kebenarannya."


"Aku nggak peduli kalian ada hubungan apa nggak. Yang aku pedulikan adalah apa pun caranya, aku harus membawamu keluar dari sini. Setelah itu kalau kalian mau pacaran beneran atau nggak, bukan urusan aku."


"Keterlaluan kamu, Mas. Kamu menghalalkan segala cara untuk kepuasan kamu sendiri. Yang kamu korbankan itu aku, istrimu."


Mendengar bentuk ke protesan dari Rindu membuat Jeff seketika berdiri dari duduknya. Ia menatap tajam wanita itu dengan rahang yang mengeras.


"Aku tidak pernah menganggapmu istriku, di dunia ini hanya ada satu wanita yang memiliki aku, hatiku, dan juga hidupku. Tapi orangnya bukan kau." Dengan mantap Jeff menunjuk wajah Rindu dengan jari telunjuknya.


"Mau diakui atau tidak, nyatanya aku tetap menang atas kekasihmu. Yang punya hak atas kamu itu aku, mau kamu cintai sebesar apa pun dia, tetap saja kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa."


"Kau menantangku?"


"Iya, aku menantangmu!"


"Sejauh ini tidak ada yang berani menentangku seperti dirimu. Tidakkah kau kapok dengan apa yang sudah terjadi?"


Jeff mulai kumat dengan tangan kasarnya. Ia dengan kuat mencengkram lengan yang memiliki luka bekas kukunya. Rindu refleks mengubah raut wajahnya menjadi kesakitan karena lukanya kembali ditekan.


Jeon sebenarnya tidak ingin ikut campur, tapi bukankah salah jika ia membiarkan Rindu kesakitan begitu.


"Kak sadar, Kak. Apa yang Kakak lakukan? Mbak Rindu kesakitan." Jeon mendekat dan berusaha melepas tangan Jeff dari lengan Rindu.


"Berusahalah untuk menghargai Jeon, dia sudah sangat membelamu hari ini. Lanjutkan kencan kalian, jangan putuskan hubungan kalian sebelum kita bercerai."


Rindu terkesiap dengan ucapan suaminya. Siapa yang tidak merasakan sakit saat mendengar kata perceraian dari mulut pasangannya, apalagi di usia pernikahan mereka yang baru dua hari.


Tanpa sadar Rindu menjatuhkan air matanya.


"Aku tidak butuh air matamu. Mau menangis sebanyak dan selama apa pun, tidak akan berpengaruh pada hatiku. Percuma kau habiskan air mata untuk memangisiku. Simpan saja air matamu itu."

__ADS_1


Jeff meninggalkan meja makan setelah itu. Air mata Rindu masih menetes tanpa diminta. Ia tidak ingin terlihat lemah, tapi air matanya tak bisa bisa bohong bahwa hatinya tengah kembali terluka. Ia terduduk di kursi dengan menutup wajahnya.


"Maaf, Mbak."


Menyadari masih ada Jeon, Rindu mendongak dan menghapus air matanya.


"Ini terjadi diluar kendali kita. Semua akan baik-baik saja."


Rindu sedikit meraba lengan yang terasa perih. Luka bekas kuku Jeff bahkan belum mengering sama sekali, dan sekarang ditambah lagi dengan cengkraman.


"Lenganmu sakit? Aku tahu tadi Kak Jeff sangat kuat mencengkram tanganmu. Boleh aku lihat?"


"Nggak usah, Je. Nggak apa-apa, aku bisa obat sendiri."


"Obati? Cengkramannya memang kuat, tapi aku rasa tidak meninggalkan bekas, mungkin hanya memerah. Kenapa perlu diobati?"


Rindu tersadar bahwa ia keceplosan.


"Maksudnya, bisa dikasih salep atau minyak yang bisa ngurangin rasa sakitnya. Gitu maksudnya." Rindu menjawab dengan gelagapan.


"Ya udah aku bantu. Mbak nggak akan bisa kasih obatnya sendirian. Mbak nggak bisa lihat mana yang sakit." Jeon melangkah untuk mengambil kotak obat.


"Nanti kalau ada yang lihat malah salah paham lagi, Je."


"Ya udah kalau gitu diobatin Mama aja."


"Astaga, Je. Aku bisa sendiri."


"Lebih baik yang tahu ini aku atau Mama? Katanya teman."


"Teman nggak harus tahu semuanya, udah sana kamu berangkat kuliah, aku akan obati ini."


"Baiklah-baiklah, aku akan pergi dari sini.


Jeon lalu melangkah pergi dari sana, namun ia tidak benar-benar pergi. Ia menunggu beberapa saat dan bersembunyi di balik dinding.

__ADS_1


Rindu yang terkeceoh karena tak lagi mendengar tapak kaki Jeon, membuka sedikit lengan bajunya dan nampaklah luka kecil berjumlah empat yang nampak masih memerah. Mata Jeon terbelalak saat melihat luka tersebut.


__ADS_2