Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
17. Aku Suaminya


__ADS_3

"Kalian tahu pecundang? Kalau tidak tahu, akan aku beritahu. Segera pulang ke rumah dan berdiri di depan cermin."


"Hahaha. Kau siapa? Kau tidak perlu ikut campur urusan kami, berikan gadis itu. Dia kekasihku, dia sedang marah padaku. Jangan ikut campur urusan orang. Lebih baik kembalikan dia, lalu pergi dari sini."


"Oh, ya. Dia kekasihmu? Kau hanya kekasihnya, aku suaminya."


Rindu seketika tertegun. Ia mematung memandang Jeff yang baru saja mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia sangka atau bahkan pria itu juga tidak akan pernah menyangka bahwa ia akan mengatakan itu.


"Pergi dari sini atau aku yang akan buat kalian menyesal sudah bertemu denganku. Kau tidak lihat beberapa orang di sana yang sedang berteduh sedang menatap kita? Sepertinya tidak lucu kalau mereka juga akan ikut memukulimu."


Ketiga pria yang sebenarnya masih cukup muda itu menatap sekeliling. Kemudian mereka saling tetap seakan sedang membicarakan atau mendiskusikan sesuatu melalui tatapan mata.


"Oke, baiklah. Kita akan pergi dan meninggalkan istrimu di sini, tapi sebagai gantinya berikan kami uang. Ya, biar nggak rugi-rugi amat lah. Nggak bisa menikmati istrimu setidaknya kami bisa menikmati yang lain."


"Mau uang? Kerja!"


Tanpa banyak bicara lagi, Jeff menggeret Rindu ke depan toko yang sudah tutup. Ada beberapa orang berteduh di sana. Ia mencari sudut di mana tidak terlau banyak orang. Ia heran, hujan tak terlalu lebat, tapi kenapa mereka masih nyaman di tempat teduhan.


"Apa kau tidak bisa jika kau tidak membuat ulah? Kenapa kau selalu membuat aku kerepotan?" Jeff berkata dengan pelan meski penuh penekanan.


"Ya aku mana tahu kalau ada kejadian begini. Ini semua juga, kan gara-gara kamu. Kalau kamu nggak maksa aku minta maaf sama Ratu, mana mungkin aku kelayapan seharian?"

__ADS_1


"Aku suruh kau meminta maaf karena kau salah!"


"Terus kalau aku salah apa Ratu itu benar? Jangan mengajakku berdebat siapa yang benar dan siapa yang salah. Kalau aku ceritakan ke semua orang tentang apa yang aku alami, semua orang juga pasti akan berpikir kalau aku ini korban, bukan orang yang malah kamu salahkan. Sudah cukup, Mas. Jangan mengajakku berdebat sekarang, ayo kita pulang! Aku kedinginan."


Dengan kasar Jeff mengambil ponsel yang berada di saku jaketnya. Memencet-mencet layar di sana dan kembali memasukkan ke tempat semula. Tak sengaja matanya melirik ke arah Rindu yang sedang mengelus kedua lengannya karena kedinginan.


"Pakai!" Jeff memberikan jaketnya sembari pandangan tetap ke arah jalanan.


Rindu linglung sejenak, ia menatap Jeff dan jaket di depannya secara bergantian. Wajar saja jika Rindu tidak percaya dengan apa yang ia lihat, mengingat perlakukan Jeff padanya yang cenderung tidak berperasaan tentu saja ia berpikir dua kali jika ingin menerima kebaikan dari suaminya sendiri.


Jeff yang tadinya melayangkan pandangan ke jalanan menoleh pada Rindu yang mengabaikan jaketnya. Tak memiliki kesabaran yang berlebih, Jeff mengambil kasar barang yang berada di kantong kresek yang berada di pelukan wanita itu.


"Ambil dan pakai!" Jeff membulatkan mata menatap istrinya.


Akhirnya dengan setengah hati, Jeff menyampirkan jaketnya di kedua sisi bahu Rindu. Sempat terjadi saling pandang meski hanya berlangsung beberapa detik saja.


Tak berselang lama, taksi online dipesan oleh Jeff datang. Dari sinilah ia baru paham jika kaki Rindu terkilir, wanita itu dengan susah payah berusaha berjalan dengan hellsnya.


"Tidak bisakah kau menggunakan otakmu sedikit? Kalau kakimu sakit dan terkilir, harusnya jangan dipakai sandalnya. Kenapa kau tidak mengerti apa pun? Kenapa kau apa-apa harus diberitahu?"


Jeff memaki sebelum melepas hells yang masih menempel di telapak kaki Rindu. Sungguh apa yang dilakukan Jeff malam ini membuat Rindu tercengang. Sikapnya yang kasar, namun ada kepedulian di dalamnya membuat Rindu berpikir ada kesempatan untuk mengubah suaminya itu. Ia hanya perlu usaha yang keras, tekad yang bulat, dan juga mental yang kuat untuk melawan Ratu.

__ADS_1


Perjalanan yang dikuasai oleh keheningan itu menjadikan mereka sedikit lama di perjalanan. Mereka sama-sama membisu di bawah atap mobil yang di terjang oleh hujan yang entah kenapa kembali turun dengan deras.


Rindu pernah mendengar kata-kata dari seseorang, bahwa hujan turun bernilai satu persen air dan sembilan puluh sembilan persen kenangan. Dan memang nyatanya kali ini ia mengenang sesuatu. Tiba-tiba ingatannya berputar pada beberapa tahun yang lalu, di mana ia sering bermain hujan dengan sahabatnya yang sekarang sudah berada di alam yang berbeda dengannya. Ia masih ingat percakapan terakhir kali sebelum sahabatnya itu pergi.


"Kamu jangan nikah dulu, ya. Nikahnya nunggu aku aja. Nanti kalau aku udah balik dari luar negeri, aku akan nikahin kamu. Karena cuman aku laki-laki yang ngerti ngambeknya kamu, manjanya kamu, sama marahnya kamu, cuman aku yang bisa mengendalikan semua itu."


Itu adalah kalimat terakhir yang sahabatnya itu ucapkan sebelum tubuhnya dibawa pesawat dan terjatuh di lautan.


Air matanya masih seringkali muncul saat kenangan itu hadir. Apalagi pernikahan yang ia jalani saat ini adalah pernikahan yang semua orang pasti tidak mau jika berada di posisinya.


Sesaat setelah air matanya menggenang, mereka sampai di hotel. Rindu berjalan dengan pelan dan terpincang-pincang menahan sakit yang teramat sangat.


"Kau terlihat seperti gembel, baju basah kuyup, wajah amburadul, kaki pincang, lain kali jika kau berniat kabur, persiapkan diri sebaik mungkin. Menyusahkan, bawa ini!" Jeff mengembalikan kembali tas kresek yang terlihat amat berharga bagi Rindu.


"Tapi tunggu! Ini sangat tidak elegan. Kau belanja di mana dapat kresek begini." Jeff membuka ikatan tas kresek itu dan mengeluarkan paper bag satu persatu dan ia serahkan pada istrinya.


Betapa terkejutnya Rindu ketika Jeff membawa tubuhnya kedalam gendongannya. Matanya terkunci pada wajah Jeff yang selalu menampilkan wajah garang meski masih terlihat tampan.


Sungguh Rindu terhanyut dalam gendongan Jeff hingga ia tak sadar bahwa mereka sudah sampai di kamar.


Bruk!

__ADS_1


"Ah sakit. Kamu nggak bisa naruh manusia dengan pelan? Aku bukan barang," protes Rindu tak terima dirinya diletakkan dengan kasar di ranjang.


"Supaya kau sadar bahwa memandangku terlalu lama berakibat buruk bagi dirimu sendiri. Apa pun kebaikan yang aku lakukan, anggap saja aku sedang berbuat baik kepada sesama manusia. Bukan kebaikan suami pada istrinya. Karena sampai kiamat pun, kau tidak akan pernah mendapatkan itu dariku."


__ADS_2