
Rindu kembali mengarahkan pandangan pada Jeon setelah penutup itu terangkat.
"Apa ini?" Rindu bertanya setelah mengangkat sebuah kotak yang berukuran kecil dan dihiasi oleh pita berwarna pink.
"Buka dulu!" Jeon menjawab dengan entengnya.
Rindu hanya menurut saja, ia membuka penutup kotak tersebut dan mengambil sebuah cincin yang berada di dalamnya. Sebuah cincin emas yang cantik dan terukir namanya di dalam sana.
"Untuk apa kamu kasih aku ini, je?"
Jeon yang sejak tadi terus mengunyah untuk mengurangi kegugupannya seketika meletakkan sendoknya dan menatap Rindu dengan lekat dan dalam.
Jeon tak langsung bicara, ia masih mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaan terpendamnya.
"Aku mau, kamu jadi istri aku."
Jeon yang kurang bisa beromantis hanya bisa mengucapkan kalimat sederhana itu. Sungguh ia tak bisa jika harus seperti laki-laki pada umumnya yang bisa mengungkapkan perasaan dengan berkesan dan membuat wanita terharu. Bagaimana bisa ia romantis jika ia saja menjadikan Rindu wanita pertama yang sukses mengobrak-abrik hati dan perasaannya. Bisa dibilang Rindu adalah wanita pertama yang ia cintai dalam kehidupannya setelah sang Ibu.
"Istri? Jeon ini nggak lucu. Kamu jangan bercanda untuk hal seperti ini."
"Coba kamu lihat aku. Bagian tubuh mana yang bilang aku bercanda!"
__ADS_1
Rindu membuang muka seketika. Ia terlalu gugup untuk menatap Jeon yang hingga kini ia ingat bagaimana betapa baik dan perhatiannya ia untuk hal kecil apa lagi hal itu menyangkut dirinya.
Istri? Sungguh Rindu belum terpikir hingga ke arah sana. Bukan berarti tidak ingin, hanya saja sepertinya menyendiri dan menikmati dunianya yang sempat hilang adalah satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini.
Trauma? Tidak, Rindu tidak mengalami hal itu. Meski pernikahan sebelumnya yang bak neraka membuat ia tersiksa, ia tidak trauma akan hal itu karena pernikahannya berakhir dengan perubahan Jeff yang lebih baik. Baginya, hal itu sudah cukup untuk membuat kenangan indah di hari-hari terakhirnya menjadi istri. Namun, untuk menikah dalam waktu dekat, sungguh bukan keinginan Rindu.
"Kenapa buang muka? Lihat aku! Katanya mau ngobrolin hal yang berbobot. Aku mengabulkannya kamu responnya begitu."
"Iya, tapi bukan ini yang aku maksud. Apa tidak terlalu cepat jika kita menjadi suami istri? Kita belum benar-benar mengetahui sifat dan karakter masing-masing. Aku nggak mau kalau nantinya akan ada penyesalan dan aku gagal untuk yang kedua kalinya."
Apa yang Jeon takutkan benar-benar terjadi, penolakan secara halus yang selama ini hanya menjadi bayangannya kini terdengar dengan jelas masuk ke dalam telinganya.
"Kita nggak menikah sekarang kalau kamu belum siap. Satu tahun, dua tahun, berapa tahun pun aku akan siap nunggu kamu. Aku hanya ingin mengikat kamu dalam hubungan yang bukan hanya teman. Aku mau lebih. Aku sayang kamu dari dulu." Tangan Jeon lalu menarik tangan Rindu untuk ia genggam.
Jujur saja, hati Rindu menghangat setiap kali mendapat sentuhan dari pria itu. Kilasan-kilasan sebelum hari ini tiba-tiba saja berputar di kepalanya. Tangan yang menggenggamnya sekarang adalah tangan yang pernah ia genggam di tengah malam. Bahu lebar yang berada di depannya adalah bahu yang pernah ia jadikan topangan ketika harinya tidak baik-baik saja. Bahkan ia sudah dua kali meminjam bahu Jeon hanya untuk mendengar tangisnya. Dan kenangan terakhir kali yang ia terima adalah sebuah sentuhan bibir di keningnya. Sungguh Rindu tidak bisa melupakan momen itu karena sejak saat itu Jeon terus menerus menghantui pikirannya.
Benteng tebal yang pernah ia bangun dengan susah payah semuanya runtuh ketika ia mendapat kecupan Jeon malam itu.
"Je, sepertinya kita harus kembali bekerja. Aku akan menjawab pertanyaanmu ketika aku sudah siap." Rindu mengambil tasnya dan meletakkan talinya ke pundak.
Jeon sedikit kecewa dengan jawaban dari wanita itu. Ia mengira bahwa setelah perceraian yang terjadi beberapa bulan lalu, Rindu sudah tidak lagi membangun atau memperdulikan benteng yang pernah ia buat. Tapi nyatanya benteng itu masih berdiri kuat. Jeon bingung dengan cara apa ia mendapat hati wanita itu. Ia merasa sudah memberikan yang terbaik untuk mantan kakak iparnya itu. Namun, entah kenapa ia merasa Rindu masih saja membatasi perasaannya.
__ADS_1
Siang itu mereka kembali ke tempat yang penuh dengan kesibukan dengan suasana keheningan. Dua-duanya seperti canggung untuk memulai pembicaraan setelah kejadian barusan.
Langit yang semula baik-baik saja tiba-tiba sedikit mendung seakan mengerti suasana hati Jeon saat ini.
Setelah beberapa menit berada di jalanan, mereka akhirnya sampai di depan kantor tempat Rindu bekerja.
"Aku berharap apa yang kita bicarakan hari ini tidak membuat sikap kamu berupa ke aku."
"Kenapa aku harus berubah? Kamu adalah satu-satunya orang yang menemani aku saat aku tidak baik-baik saja. Kamu berarti buat aku, Je. Tapi jika untuk menjadi suami istri, sepertinya kita butuh waktu untuk berada di hubungan itu. Aku balik kerja, ya. Terima kasih untuk makan siang hari ini."
Rindu membuka pintu sebelum Jeon berucap satu kata pun. Namun, baru saja pintu terbuka sedikit, tangan Jeon sudah menarik tangan Rindu dengan kencang, sehingga wanita itu menabrak tubuhnya dan pintu itu tertutup kembali dengan keras.
Kini tubuh mereka sedikit saling tindih. Wajah mereka begitu dekat, mata mereka bertemu dan saling tatap dalam keheningan. Detak jantung mereka sudah menjelaskan semuanya tanpa harus dijelaskan dengan sebuah kalimat.
Mata Jeon tiba-tiba tertutup seiring bergeraknya kapalanya ke arah Rindu. Entah terbawa suasana atau gerakan refleks saja, Rindu juga melakukan hal yang sama.
Deg!
Jantung Rindu terasa berhenti berdetak ketika bibirnya bertemu dengan sesuatu yang kenyal. Ia jadi teringat ia pernah melakukan ini di mobil, tapi dengan orang yang berbeda. Rasanya pun juga sangat berbeda. Sentuhan kali ini jauh lebih lembut dan terasa nyaman meskipun harus melakukan seperti ini berlama-lama.
Rindu yang semula kaku untuk hanya sekedar membalas apa yang sudah diberikan Jeon, kini nampak sudah mulai terbawa sentuhan dan seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. Sentuhan nyaman ini membuatnya menggerakkan bibir dan lidah seperti yang Jeon lakukan.
__ADS_1
Merasa apa yang diberinya disambut dengan baik, Jeon semakin memperdalam sesapan yang sudah ia tunggu sejak lama. Dengan lembut tangan pria itu mendorong kepala Rindu kearahnya. Semakin dalam dorongan dan sesapan yang Jeon berikan, semakin kuat pula cengkraman tangan Rindu di kemeja pria itu.