
"Kamu dikasih apa sampai mau di suruh-suruh sama dia?" Jeon menatap Rindu lalu kembali menatap pepohonan di depannya.
"Sebenci itu kamu sama Bu Mita?"
Jeon tak menjawab, pandangannya masih terpaku pada apa pun yang berada di depannya. Rasanya sangat sulit dijelaskan kata-kata. Entah kebencian, kekecewaan, atau kemarahan yang lebih dominan. Jeon menghembuskan nafas dalam dan panjang sebelum tangan mungil Rindu yang lainnya menumpukkan tangan pria itu.
"Ceritakan apa yang kamu rasakan. Kamu ingat? Aku pernah merasakan kekecewaan dan luka sama seperti kamu. Mungkin level kedua rasa itu antara kamu dan aku beda. Akan selalu ada orang-orang yang membuat kita terluka. Dan naasnya, itu selalu datang dari orang terdekat kita. Entah dekat dalam jarak atau darah. Kita nggak bisa menghindari itu."
"Apa kamu minta aku untuk memaafkan dia?"
"Enggak, aku enggak bilang gitu."
"Terus maksudnya apa? Kamu rela ngajak aku ketemuan lebih dulu karena bahas ini? Bahas hal yang menyakitkan buat aku? Kalau kamu memang berniat begitu, lebih baik aku pulang."
Jeon berniat melepas pagutan tangannya, "Kamu maunya apa, Rin? Berapa kali aku nyatain cinta aku ke kamu, kamu nggak anggap aku. Kamu nggak mau nyentuh aku lebih dulu. Dan sekarang lihat apa yang kamu lakukan? Kamu pegang erat tangan aku biar aku nggak kemana-mana, biar aku dengar kamu tentang dia. Kamu pernah dengerin apa yang aku rasa nggak?"
Nafas Jeon mendadak menggebu-gebu. Tidak pernah sebelumnya ia memperlakukan Rindu seperti ini. Bahkan di saat sikap Rindu yang terkadang sangat menyebalkan baginya, ia masih bisa menakan emosi dan kalimatnya agar tak membuat wanita itu terluka hatinya.
"Gimana aku mau dengar kalau kamu nggak mau cerita? Kamu selalu bilang sama aku, kalau ada apa-apa harus cerita ke kamu, nggak boleh dipendam sendirian. Tapi kamu apa? Apa yang kamu lakukan? Berhari-hari kamu berubah menjadi lebih pendiam. Aku ngerasain itu, Je. Aku nggak nanya, aku sengaja diam karena aku berpikir kamu pasti akan cerita kalau kamu udah siap. Dan ternyata aku malah mengetahui masalah kamu dari orang lain. Dan soal untuk cinta kamu ke aku. Aku nggak meragukan itu. Aku yakin sama cinta kamu. Kalau untuk jawaban, kenapa aku nggak jawab-jawab, karena aku ingin kita seperti ini dulu. Aku nyaman sama kamu, aku udah punya keyakinan kalau kamu mencintai aku, tapi ada sesuatu yang aku sendiri itu nggak tahu kenapa aku belum siap nikah sama kamu. Dan mungkin ini jawabannya, Je. Mungkin ini jawaban dari Tuhan atas pertanyaan aku dan sesuatu yang mengganjal di hati aku. Bisa saja Tuhan ingin mempertemukan kalian dulu sebelum kita menikah, kan? Tuhan juga ingin aku mendapatkan restu dari wanita yang sudah melahirkan calon suamiku."
"Pembahasan kita terlalu jauh, Rin. Aku nggak butuh restu dia."
__ADS_1
"Kamu pernah dengar kalimat ini? Kita tidak akan tahu bagaimana keseluruhan isi cerita sebuah buku jika kita tidak membacanya secara keseluruhan. Kita tidak bisa menyimpulkan isi buku itu ketika kita hanya membaca setengah dari isinya. Aku nggak belain Bu Mita, di sini Bu Mita memang salah, tapi sepertinya nggak ada salahnya kalau kamu juga mendengar alasan beliau melakukan ini. Aku nggak membenarkan apa yang beliau lakukan, Je. Aku hanya mau kamu dengar alasannya, itu aja kok. Kasihan Bu Mita, sangat terlihat dari wajahnya kalau dia menyesal dan terluka, Je."
"Kamu kasihan sama dia, tapi nggak kasihan sama aku? Sebenarnya hidup aku ini berarti buat kamu apa enggak, sih? Kamu anggap aku apa sih, Rin?"
"Aku anggap kamu seperti kamu menganggap aku. Kalau kamu menganggap aku adalah wanita yang berharga untukmu, maka aku juga menganggap bahwa kamu adalah laki-laki yang berharga untukku. Je percayalah, aku nggak mau kamu menyesal nantinya."
"Tidak akan pernah ada penyesalan untuk dia."
Jeon melepas pagutan tangannya dan beranjak pergi dari sana. Ia berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Sementara Rindu mengejarnya dengan berlarian seraya memanggilnya.
Jeon mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Ia benci ini, ia tak berniat untuk menangisi keadaan, tapi dengan kurang ajarnya cairan bening itu meluncur tanpa dosa.
"Ah."
Langkah Jeon terhenti mendengar pekikan dari suara yang sangat ia kenal. Dengan langkah malas ia kembali ke belakang dan berjongkok di depan wanita yang tengah meneliti lututnya yang berdarah.
Tanpa banyak bicara, pria itu menarik tangan Rindu dan ia letakkan di pundak. Lalu kedua tangannya mengangkat tubuh mungil wanita yang baru saja membuat ia kesal dipunggungnya. Jeon masih terdiam meski sedikit merasa bersalah karena membiarkan Rindu berlari mengerjarnya.
"Kamu marah sama aku? Aku membuat kamu marah dengan membahas Bu Mita? Aku pernah mendengar kalimat dari seseorang, kalau dia akan membuat aku bahagia dengan menuruti segalanya yang aku mau."
"Tapi tidak dengan cara maksa. Aku nggak mau kamu maksa aku buat dengar apa yang kamu mau. Lagi pula hubungan kita ini lebih persis disebut cinta sepihak. Aku cinta, kamu enggak."
__ADS_1
"Aku tadi udah bilang kalau aku anggap kamu sama seperti kamu anggap aku. Aku nggak mau kamu ajak buru-buru nikah bukan berarti aku nggak cinta sama kamu."
Jeon memperlambat langkahnya. Meski ia sedikit merasa lelah karena cukup berat juga menggendong Rindu di punggungnya. Tapi tak apa, karena dirinya wanita itu terluka dan ia merasa momen seperti ini pasti akan langka terjadi. Pria itu tak peduli dengan banyaknya pasang mata yang mengarah ke mereka.
"Ya terus kenapa setiap aku ajak pacaran kamu selalu jawabnya aku pengen sendiri dulu, aku mau sendiri dulu, gitu terus. Tapi dikasih cincin mau, dicium mau, dipeluk mau."
"Ya, kan itu sebagai pengganti jawaban dengan kata-kata, Jeon."
"Alasan."
"Masih marah? Ya udah aku minta maaf. Aku nggak akan bahas Bu Mita."
Jeon terdiam hingga pria itu membawa tubuh Rindu memasuki mobil.
"Aku yang harusnya minta maaf, nggak seharusnya aku ninggalin kamu kayak tadi." Jeon mengambil kotak obat dan mulai mengurusi luka wanita itu.
"Semarah apa pun aku, harusnya aku nggak begitu. Aku nggak marah kamu bahas dia, tapi nggak sekarang. Aku nggak mau dengar. Kamu nggak akan pernah tahu rasanya gimana di buang di tempat sampah."
"Tapi aku tahu rasanya dibuang seperti sampah."
Jawaban dari Rindu membuat laki-laki itu menghentikan aktivitasnya dan mendongak.
__ADS_1