Terselip Didua Hati

Terselip Didua Hati
71. END


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan Bu Mita dan kedua anaknya berada di satu sudut dunia dengan anak sulungnya. Anak yang paling waras dan normal itu sedikit berubah karena meladeni kedua anaknya yang lain. Nabila dan Abil memang memiliki kepribadian yang jauh dengan Jeon. Kakak yang awalnya menjadi penengah saat kedua adiknya ribut, kini malah menjadi ikut terlibat dalam keributan dan terkadang menjadi kompor bagi keduanya.


Dalam waktu satu bulan itu, Jeon sering membawa Rindu ke rumah. Ia melakukan itu bertujuan untuk mendekatkan calon istrinya pada keluarga kandungnya. Karena ia berencana akan tinggal bersama dengan mereka ketika sudah menikah nanti.


Menjadi kesedihan tersendiri bagi Bu Merlin dengan keputusan Jeon. Namun, hal itu dengan mudah ia tangani.


"Mama nggak kehilangan aku. Jarak rumah kita hanya beberapa meter saja, Ma. Aku bisa kapan pun tidur di sini, atau di rumah Ibu. Mama tinggal hubungi aku kalau kangen, biar aku tidur di sini. Selama ini, Mama nggak merasa kehilangan aku, kan? Meskipun aku sering nginep rumah Ibu. Aku tetap anak Mama."


Kalimat penenang yang mampu membuat Bu Merlin mau tak mau, ikhlas tak ikhlas, harus mengiyakan apa yang diminta sang anak. Apa pun keputusan Jeon akan beliau terima sebagai bentuk kasih sayangnya. Beliau sebenarnya egois, beliau tak mau jika beliau kehilangan Jeon, bahkan sebenarnya untuk mengizinkan Jeon hanya sekedar tidur di rumah ibunya saja sebenarnya sudah berat. Tapi ada satu hal yang beliau sadari. Jika dirinya menuruti apa pun keinginannya, tidak menutup kemungkinan, Jeon malah pergi dari kehidupannya. Itulah sebabnya, beliau lebih memilih untuk mengubur keegoisannya dan memberi kebebasan Jeon untuk memilih. Dan keputusannya untuk mengalah itu, nyatanya mampu membuat keduanya semakin erat satu sama lain. Tak ada jarak, ataupun perubahan sikap Jeon pada Ibu asuhnya. Bahkan pria itu tetap mampu memberikan kasih sayang yang sama pada kedua ibunya.


Waktu yang terus bergulir itu nyatanya mampu membawa mereka ke satu tahun berikutnya. Penantian panjang Jeon akhirnya terbayar hari ini. Jeon yang memiliki tingkat kesabaran luar biasa akhirnya bisa memiliki Rindu dengan halal. Bayangkan saja, dua tahun menunggu sesuatu yang tidak pasti adalah hal yang sulit. Tidak semua manusia mampu melakukannya. Tapi, Jeon mampu melakukannya.


"Kamu cantik hari ini," puji Jeon di malam pernikahannya.


"Biasanya nggak cantik?"


"Cantik mu hari ini sempurna dan yang membuat kamu lebih sempurna adalah kamu menjadi milikku sekarang. Benar-bebar hanya milik Jeon. Tidak akan aku izinkan siapa pun menatap wajah cantik ini. Setelah ini kamu harus menjaga cantikmu hanya untukku. Ngomong-ngomong kapan resepsi ini akan berakhir? Apakah resepsi wajib hingga tengah malam? Apakah mereka tidak tahu bahwa kita harus membuat seorang bayi?"

__ADS_1


Plak.


Pukulan di lengan Jeon hanyalah sebagai bentuk pengalihan Rindu yang salah tingkah atas apa yang ia dengar. Membuat bayi? Sungguh ia sangat gugup jika memikirkan hal itu.


Jeon yang nampaknya benar-benar tak sabar dengan aktivitas panas itu, akhirnya membuat sandiwara dengan mengatakan pada para orang tuanya bahwa ia merasa tubuhnya tak enak. Dan cara itu rupanya cukup berhasil membawa sepasang pengantin baru itu untuk istirahat di jam yang masih menunjukkan pukul 22.00.


"Mau di sini apa di kamar mandi?" bisik Jeon membantu membuka gaun yang masih terpisah di tubuhnya.


Rindu seketika menelan ludahnya kasar. Ia pernah menikah sebelumnya, tapi jangankan untuk bersenggama, melepas pakaian saja tidak pernah ia lakukan bersama suaminya terdahulu.


Rindu hendak beranjak dari hadapan suaminya, tapi pria itu dengan gerakan cepat mencekal pergelangan tangan wanita yang baru saja menjadi istrinya tadi pagi.


Kecupan-kecupan singkat itu kini menjadi gigitan kecil. Rindu dibuat lupa dengan kegugupan dan ketakutan yang selalu ia dengar setiap hari dari teman-temannya.


"Kasih tahu sama suami kamu. Malam pertama itu sangat menyakitkan untuk kita. Pastikan dia melakukan dengan pelan dan berirama, biar kamu nggak trauma saat melakukannya untuk yang kedua kalinya." Kata-kata itu terngiang beberapa hari terakhir.


"Mau di sini apa di kamar mandi?" Jeon mengulang pertanyaan yang sempat ia tanyakan tadi, namun nada bicara Jeon terdengar lain di telinga Rindu.

__ADS_1


"Aku takut, bisa kita tunda?"


"Aku sudah menundanya selama 2 tahun lebih. Untuk hari ini aku tidak akan menunda lagi. Aku janji akan melakukannya dengan pelan." Jeon membangkitkan sesuatu di diri Rindu dengan mencengkram bongkahan lemak yang berada di depan. Ia sudah tak sabar ingin menenggelamkan kepalanya di sana.


Tak mau menunda dan bertanya lagi, Jeon membawa tubuh Rindu ke kamar mandi. Ia tenggelamkam tubuh mereka ke bathtub dengan pagutan bibir yang semakin panas.


"Mau bayi laki-laki apa perempuan? Apa mau kembar?"


"Emang bisa?"


"Bisa. Tapi pengambil keputusan tetap yang di Atas. Kita hanya berusaha, mau yang mana?"


"Aku nurut kamu aja. Apa pun aku mau."


"Okelah, kalau begitu kita membuat bayi perempuan dulu," ujar Jeon seraya menyalakan shower. Dan akhirnya mereka melakukan aktivitas panas di bawah guyuran air shower.


...Tamat...

__ADS_1


Terima kasih fotonya sudah mengikuti Rindu dari awal hingga akhir. Terima kasih untuk yang sudah merelakan jempolnya mengetik komentar, menekan like, kasih hadiah. Pokoknya terima kasih banyak. Untuk readers yang anteng, aku juga mengucapkan terima kasih. Salam sayang dan sayang untuk kalian semua.


Tunggu karya aku berikutnya di bulan depan, ya.


__ADS_2