
Mereka masih saling tatap dalam kebisuan saat selesai melakukan sesuatu yang panas itu. Namun siapa sangka, di bawah atap mobil yang sama itu justru mereka melakukan pagutan sesi yang kedua setelah sekian menit adu mulut, nampaknya kegiatan yang pertama tadi belum memberikan kepuasan bagi keduanya.
Hingga sebuah suara rintihan membuat Jeon tersadar dan menyelesaikan aktivitasnya dengan segera.
Lagi-lagi mereka saling tatap dalam keheningan. Satu detik kemudian bibir Jeon sedikit melengkung membentuk senyuman.
"Mulut kamu nolak aku dalam ucapan, tapi tindakan nggak nolak. Itu artinya mulai detik ini kamu menjadi milikku. Kita resmi menjadi sepasang kekasih." Jeon mengatakan itu dengan menahan tawa. Sungguh ia ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rindu yang nampak linglung dan bingung. Ditambah lagi wajahnya yang memerah membuat Jeon ingin melakukannya sekali lagi.
"Mana bisa gitu? Aku tadi khilaf, Je. Kita tadi melakukannya tanpa sadar, lebih tepatnya aku yang nggak sadar." Rindu menjelaskan dengan gelagapan. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Jeon tertawa kecil, "Khilaf dua kali, ya? Yang aku tahu namanya khilaf itu hanya sekali, Rin. Bukan dua kali dalam satu waktu. Ya seenggaknya kalau kita melakukan khilaf yang sama lebih dari satu kali, itu pasti dalam waktu dan situasi yang berbeda. Iya, kan? Apa aku benar?" Jeon semakin menggoda wanita itu. Ia sangat menikmati wajah panik dan gugup yang Rindu cetak.
Merasa tidak punya kalimat untuk menjawab atau menyanggah apa yang dikatakan oleh pria itu, Rindu segera keluar dari mobil. Untuk yang kedua kalinya Jeon menertawai apa yang dilakukan oleh wanita itu.
"Rindu, tunggu dulu! Ada yang ketinggalan."
Mendengar teriakan dari Jeon tentu saja Rindu refleks menghentikan langkah kakinya. Ia kembali membawa wajahnya ke belakang menghadap Jeon yang senyum sumringah di dalam mobil.
"Cincinya dipake, ya. Di situ selain ada nama kamu juga ada tanggal sekarang. Biar kamu selalu ingat kalau di tanggal ini kita resmi jadian, kita resmi menjadi sepasang kekasih. Status itu diresmikan oleh apa yang kita lakukan barusan. Bye, Sayang."
Tanpa memberikan kesempatan Rindu untuk bicara, Jeon sudah melajukan mobilnya. Sementara Rindu masih terbengong di tempat. Ia nampaknya masih terhipnotis dengan kata terakhir yang ia dengar dari mulut pria itu.
Cincin? Bagaimana bisa aku membiarkan cincin ini masih ada di tanganku selama itu? Dan gimana ceritanya aku bisa melakukan itu sama Jeon. Astaga, ya ampun Rindu. Kamu tadi bilang kalau kamu masih ingin sendiri, tapi kamu malah ... Ah dasar, perbuatan dan ucapan tidak sinkron.
Rindu kembali memandangi cincin yang diajarinya, memutar-mutar cincin itu dan meneliti bahwa memang benar apa yang dikatakan Jeon tadi. Ada nama dan juga tanggal sekarang di cincin itu. Sempat terpikir dalam pikirannya, bagaimana bisa Jeon melakukan ini?
__ADS_1
Tiba-tiba Rindu menerbitkan senyumnya ketika memperhatikan benda kecil itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya, ia hanya merasa bahwa cincin itu cukup cantik dan bagus. Ia akui selera pria itu cukup bagus untuk menaklukkan hati seorang perempuan.
Rindu kembali menggenggam cincin itu dan membawanya ke dalam kantor. Sisa debaran jantung yang cepat masih tersisa ketika ia mengingat bibirnya yang baru saja menyatu dengan benda kenyal yang selama ini hanya ia lihat.
Rindu tidak ingin menjalin hubungan yang serius dulu apalagi memikirkan pernikahan dengan pria mana pun, termasuk Jeon. Namun, entah kenapa hatinya begitu berbunga setelah berkencan dengan pria yang menyandang status dokter beberapa bulan yang lalu itu.
Namun, senyum Rindu seketika hilang dan berubah menjadi salah tingkah ketika teman-temannya memergoki dirinya dan menatapnya dengan wajah julit.
"Cie, yang baru pacaran, yang lagi hangat-hangatnya, senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanan. Jatuh cinta sih jatuh cinta, tapi, ya jangan gila dulu dong, Rin. masa sepanjang koridor kamu senyum-senyum sih, dilihatin banyak orang tahu."
"Ha? Masa sih? Perasaan aku dari tadi biasa aja, nggak senyum-senyum juga. Kalian ngomong apa, sih? Siapa yang pacaran juga? Tadi teman kok." Rindu sangat terlihat salah tingkah.
"Ngapain kalian kumpul di sini?" Atasan perusahaan itu tiba-tiba muncul dari arah belakang Rindu.
Rindu yang berada di depannya seketika terkejut dan refleks melepas tangan yang sejak tadi tergenggam. Jatuhlah cincin tersebut dan menggelinding di lantai. Bukannya segera mengambil cincin itu, semua orang yang berada di sana justru hanya mengikuti gerak cincin itu semakin menjauh.
"Baik, Pak."
Rindu segera menyusuri lantai yang sempat ia lihat di lewati oleh cincin tersebut. Namun, sepanjang ia tahu cincin itu melaju, tidak terlihat cincin itu tergeletak di lantai.
"Astaga, ke mana perginya itu cincin? Tadi lewat sini." Rindu bergumam seraya menyingkirkan pot ke tempat lain, barangkali cincin cantik itu terselip di bawah pot. Namun, beberapa pot ia pindah tak kunjung ia temukan juga.
Entahlah tiba-tiba ia merasa panik sendiri. Ia khawatir jika cincin itu hilang. Ia baru saja mendapatkannya belum ada satu jam, tapi ia sudah menghilangkannya. Rindu berdiri dengan menggigit kecil ujung kukunya yang panjang. Itu adalah kebiasaannya ketika panik tiba-tiba menyerang.
"Belum ketemu cincinnya?" Salah satu teman Rindu yang tadi sempat mengejeknya kembali melintas.
__ADS_1
"Iya belum, tadi perasaan ke sini nggelindingnya. Tapi aku cari sampai bawah pot nggak ada." Kepanikan tidak bisa Rindu sembunyikan.
"Itu cincin tunangan emang?"
"Ih ngomong apa, sih? Bukanlah."
"Cincin dari pacar kamu?"
"Iy ... Bukan, eh maksudnya itu cincin dari orang tua, iya dari Mama."
Merasa tidak bisa membantu, akhirnya temannya itu pamit untuk melanjutkan apa yang diperintahkannya. Sebelum pergi, ia memberi pesan pada Rindu untuk agar melanjutkan pencariannya nanti karena itu sudah ditunggu atasannya.
Dengan berat hati akhirnya wanita yang baru saja bercumbu mesra itu melipir dari sana dan ke ruangannya terlebih dahulu.
***
Seperti hari yang sudah-sudah, Bu Merlin selalu sendirian sepanjang hari di rumah. Terkadang beliau bosan dengan kesendiriannya, jika sudah begitu terkadang wanita itu menghubungi kedua anaknya secara bergantian.
Tak bisa dipungkiri, se kecewa apa pun Bu Merlin pada satu-satunya anak kandungnya, beliau tetaplah seorang wanita yang melahirkan anaknya. Tidak ada sekrang Ibu yang tidak merindukan anaknya ketika sudah berbulan-bulan tidak bersua.
Keras kepala yang dimiliki Pak Jo memang saat ini sangat memberatkan beliau. Larangan untuk bertemu dengan anaknya sendiri membuat Bu Merlin hanya bisa bertatap muka melalui layar ponselnya saja.
Namun, meskipun hubungan Ibu dan anak itu sudah membaik, Bu Merlin masih berat jika harus memberi restu untuk anak menantunya.
"Kalian selamanya nggak akan ngasih restu ke aku sama Ratu kalau kalian nggak pernah memberikan kesempatan kami untuk setidaknya bertemu dengan kalian. Mama harus tahu, Ratu sudah banyak berubah, dia tidak seperti dulu."
__ADS_1
"Ya sudah kapan-kapan Mama akan bertemu dengan kalian kalau memang ada waktunya. Hanya bertemu sebagai sesama wanita saja."