The Magical Elf

The Magical Elf
144


__ADS_3

Aku yang saat itu merasa benar-benar sakit dan berusaha untuk beristirahat, karena perlakuan dari ibu Kamila yang benar-benar sangat kesal kepadanya tapi mau bagaimana lagi dia adalah ibu mertua di rumahku. Jadi aku tidak bisa melawannya lebih dari terima apa yang dilakukan oleh ibu kamilah kepadaku walaupun hal itu sangat menyakitkan.


Suara jam berdetak begitu keras gentingnya jelas menyayat hati karena aku yang sedang gundah gulana kalau menunggu Azam pulang. Biasanya dia akan pulang pukul 10.00 malam dan kali ini masih sangat sore untuk tidur maka Aku berusaha untuk menunggunya walaupun dalam kondisi yang benar-benar tidak tenang sama sekali.


Tak kusangka aku benar-benar ketiduran saat aku bangun pun sudah jam 11.00 malam aku segera keluar dan sudah mendapati Azam yang udah ada di luar dong udah pulang.


"Mas sudah pulang," tanya aku mah beda Azzam yang saat itu sudah makan malam aku tidak menyanyikan apapun tapi dia sudah ambil makanannya sendiri.


Dia langsung kaget saat melihat bibiku merah karena akibat ditampar oleh bukan Mila aku juga tidak bercerita apa-apa tapi dia mencoba memahami situasinya dan belum menanyakan apapun dia menyelesaikan makannya terlebih dahulu setelah itu pun aku mencuci piring sebelum akhirnya Ya kembali ke kamar untuk beristirahat.


"Apa yang sebenarnya terjadi tanya asam saat itu melihatku karena jelas rasa sakitnya masih ada akibat tamparan tersebut dan bekas ruam yang masih terlihat jelas membuat dia pun bertanya demikian.


"Tidak ada apa-apa hanya ada pertengkaran kecil dan semua ini juga, karena aku tadi pergi terlalu lama mungkin Ibu mengkhawatirkan aku," kataku untuk menutupi, agar dia tidak marah pada ibunya jika Azam marah pada ibunya hal itu akan membuat Bu Kamila pun memarahiku dan hal itu jadi membuatku juga tidak akan merasa tenang di rumah tersebut maka dari itu aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak memancing kemarahannya.


Tahu jika selama ini bukan Milo paling tidak suka jika dia marah dengan Azam dan terus menyalakanku jika sampai adzan bilang hal tersebut kepada ibunya, aku pun selalu dituntut sebagai orang yang membuat antara hubungan ibu dan anak menjadi renggang padahal aku tidak tahu jika hubungan mereka sudah renggang sejak lama.

__ADS_1


Kenapa mereka semua menyalakan aku dan hal itu pun jelas membuatku tidak merasa senang ataupun merasa tenang sama sekali apalagi dengan apa yang dilakukan oleh ibu kamilah selama ini, tapi aku pun tidak ingin menjadi pemicu kemarahan di antara keduanya dan lebih memilih untuk tidak mempermasalahkan hal tersebut meski aku merasa sakit.


"Maafkan aku belum pernah belum bisa memberikan tempat yang nyaman untuk mbuh, aku tidak tahu jika keluargaku seperti itu tapi aku juga tidak bisa mengusir mereka Jadi kau harus bersabar," kata Azam mengusap pipiku.


Aku segera mengalihkan perhatiannya dan berusaha menunjukkan proposal hasil pemikiranku karena aku berniat untuk membuka usaha ada beberapa pilihan di sana pertama aku meliputi, tapi aku tak tahu tentang baju hal itu akan membuat sangat sulit karena membutuhkan banyak orang yang akan membantuku tapi ada satu pilihan yang membuatku cocok itu hanya rekomendasi.


Yang kedua ada usaha restoran yang juga butuh dana yang begitu besar karena restoran yang baru pertama kali buka tentunya bukan hanya untuk bersaing.


Azzam pun melihat proposal yang aku berikan kepadanya dia membaca dan mengira-ngira Usaha apa yang baik dibuka untukku agar Azam memiliki kegiatan di rumah dan hal itu jelas membuat stempel mempertimbangkan mana yang bisa sukses dan berhasil dan tidak membutuhkan kehendak terlalu besar tapi dia bisa meraup keuntungan dari hasil usaha tersebut karena yang namanya Usaha apa sih akan menginginkan sebuah keuntungan.


Hal itu membuat Azam juga memikirkannya baik-baik tentang proposal yang aku buat dan dia belum memutuskan apapun setelah membacanya ia memilih untuk memikirkannya besok Hal itu pun membuat aku harus menunggu besok untuk hasil keputusan yang akan diberikan oleh Azam.


"Bagaimana mas?" Tadi aku memastikan pemikiranku dan benci saya akan aku buat maka dari telepon aku berusaha untuk bisa mendengarkan hasil dari keputusan Azam.


"Sepertinya keduanya tidak cocok untuk mau, nanti aku pikirkan lagi di tempat yang tidak jauh dari rumah ini karena aku ingin melihatmu tidak jauh dari sini," kata Azam menjelaskan.

__ADS_1


Daripada tidak sama sekali dan benar-benar melakukan yang terbaik dan tidak ingin membuatku merasa kesulitan sama sekali hal itu benar-benar mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju aku juga tidak memikirkan hal lain yang bisa aku lakukan tapi aku juga ingin memiliki kegiatan daripada harus berdiam sendiri di rumah.


Apalagi harus bermusuhan dengan ibu dan juga Nita Yang sepertinya tidak mau pergi dari rumah itu wanita sendiri kali ini jarang menyapaku dan mengabaikan kuota apa yang terjadi tapi jelas hal itu membuatku merasa tidak tenang sekalinya bicara selalu saja menyakiti hati.


Tapi mau bagaimana lagi itulah kondisi keluarga yang harus aku hadapi kedua orang itu benar-benar tidak menyukaiku jadi berada di rumah tersebut hanya untuk menggangguku saja Padahal mereka sendiri sudah memiliki rumah.


Tapi tetap saja tinggal di rumah Azzam yang mana hal itu benar-benar sangat mengesalkan karena tidak mau pulang sama sekali.


"Baiklah masuk aku menunggu keputusan Mas sebaiknya. Bagaimana kalau semisalnya sudah tolong bantu aku dan aku juga membutuhkan orang yang percayaan agar bisa membantuku," kataku lagi kepada Azam yang akan merencanakan Semua usaha yang akan aku buka karena itu semua juga Azam yang mengizinkannya dan juga memberikan pendapatnya.


Maka dari itu pun aku hanya bisa menjalankan bisnis dan aku hanya meminta Jika aku ingin bekerja hal itu saja yang diajukan kepada Azam biar semuanya azam yang mengurus kalau aku juga tidak ingin membuat oh jadi merasa kesal berada di rumah bersama orang-orang yang tidak menyukaiku itu.


"Ya sudah sekarang istirahat dulu waktu juga sudah begitu malam kita bahas lagi besok," kata Azam yang akhirnya pun buatku melanjutkan tidur dan dia juga mungkin sudah lelah apalagi menghadapi masalah yang di rumahnya seperti itu jelas makin membuatnya terpikir Dan makin membuatnya merasa tidak tenang.


Aku pun juga segera bersiap-siap untuk tidur lagi pula tadi aku juga sedang tidur, dan kali ini aku melanjutkan tidurku lagi seharian penuh yang benar-benar membuat hati lelah dan juga kesal semua itu pun berakhir. Aku bisa beristirahat tapi rasa khawatir pun terlintas karena besok pasti ibu akan membuat keributan lagi. Setelah apa yang dilakukan kepadaku Aku tak ingin kedua orang itu terus bermusuhan apalagi ibu selalu saja menyalahkanku jika Azam marah kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2