The Magical Elf

The Magical Elf
150


__ADS_3

Garis Seperti biasa aku membantu bibi di dapur, hal itu aku lakukan karena jelas Azam akan berangkat bekerja.


Melihat ibu dan juga Nita yang belum keluar aku pikir mereka berdua tidak berani keluar atas apa yang mereka lakukan kemarin, tapi ternyata tidak mereka seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


AKu kayak kemarin juga sudah hampir sembuh walaupun masih terasa sakit sedikit tapi itu semua tidak apa-apa menurutku dan Aku berusaha untuk bisa lebih tenang agar tidak terjadi keributan.


"Tidak sebaiknya non istirahat saja lukanya masih terlihat seperti itu," kata bibi yang mengkhawatirkan dia yang seperti orang tuaku sendiri padahal orang lain tapi berbeda dengan keluargaku sendiri yang merasa seperti orang asing.


"Tidak apa-apa dia udah baikan kemarin sudah diobati dan sudah dikompres Jadi sekarang sudah tidak terlalu sakit masih bisa berjalan dengan tanganku masih bisa untuk bekerja jadi tenang saja aku akan menyiapkan sarapan pagi seperti biasa," kata aku yang selalu senang untuk menyiapkan sarapan pagi.


Mendengar apa yang aku katakan pun membuat bibi lebih tenang lagi dia tidak menegurku dengan apa yang aku lakukan meskipun itu hanya luka sedikit, tapi tetap saja dia mengkhawatirkanku benar-benar orang yang sangat perhatian.


Aku kembali ke kamar untuk membangunkan adzan dan menyiapkan pakaian kerjanya karena dia harus segera bergegas untuk berangkat saat makanan sudah tersidang dan sudah siap untuk dimakan bersama walaupun tahu ibu dan juga Nita sangat tidak suka kepadaku tapi tetap saja aku membuat makanan dengan porsi yang banyak dan tidak mungkin aku hanya membawa satu porsi untuk Azam saja.


Namanya keluarga juga setiap pagi harus makan bersama, itulah yang dilakukan oleh keluarga kami meskipun sering terjadi permusuhan dan percocokan. Tapi tetap saja selama makan tidaklah dapat pertengkaran ataupun keributan itulah yang dilakukan oleh Azam setiap harinya maka dari itu aku yang sudah paham lebih memilih untuk diam jika Aku memiliki masalah.

__ADS_1


Saat aku kamar Azam sudah mandi dan aku pun Mabar siapkan bajunya sambil membereskan kamar setelah Azam selesai baru aku bilang kalau sarapan sudah siap.


"Mas sarapannya sudah siap," kataku mengajak Azam untuk makan bersama.


Melihat Azam yang baru selesai mandi dan juga sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja aku pun mengatakan hal tersebut karena sudah menjadi kebiasaan kita harus makan bersama dan sarapan maka dari itu aku mengabarkan jika makanannya sudah siap karena aku sebelumnya sudah memasak kebiasaan karena aku senang saja membuat masakan untuk suamiku.


"Nanti kita makan bersama sebaiknya aku bersiap kita berangkat bersama kau kan akan membuat perencanaan bisnis sebaiknya di kantorku saja bersama denganku," kata Azzam saat itu pun untuk pergi ke kantornya padahal semalam tak bilang apa-apa hanya ingin memperbaiki rencana yang aku buat.


Tapi tak apa-apa selama tidak mengganggu jam kerja gue lagi pula aku tak punya kegiatan dan juga pekerjaan lain Jadi tidak ada salahnya pergi ke perusahaan untuk membuat perencanaan baru di mana hal itu memang lebih menyenangkan daripada harus di rumah bersama dengan ibu dan Nita yang akan membuatku pusing saja.


"Bilang kalau begitu aku bersiap dulu," kataku yang langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi bersama dengan Azam lagi pula itu adalah hal yang sangat menyenangkan memiliki kegiatan dan bisa menghabiskan waktu di tempat kerja daripada di rumah.


"Kau tahu apa yang terjadi kemarin coba Kau ajarkan sopan santun kepada istrimu agar tidak bertingkas berarti tak memiliki adab kata Bu kamilah yang selalu saja mulai pertengkaran.


"Dia istriku aku yang akan menanganinya jadi ibu tetap khawatir," Kata Azam yang tidak pernah menjawabnya dengan kasar ataupun dengan emosi dia selalu saja menjawab dengan tenang kalau memang suasananya sedang tenang.

__ADS_1


Tapi jika dia sedang emosi maka tentu saja dia akan marah tapi kali ini tidak sepertinya Dia tidak sedang dalam kondisi yang pusing Maka dari itu dia bisa menjawabnya dengan santai.


Hal itu pun membuat aku tersenyum karena benar-benar tidak terjadi masalah besar dan tidak seperti biasanya selalu saja ada hal-hal yang sangat mengesalkan jika sedang sarapan pagi entah bagaimana ibu selalu saja memancing permasalahan.


Tapi kali ini azan bisa menyelesaikannya dengan mudah dan tidak perlu untuk menggunakan suara keras ya cukup membalasnya dengan perkataan yang tentu saja membuat Ibu juga tidak bisa menjawabnya.


Selesai makan seperti biasanya Bibi merapikan meja makan tapi aku tidak kali ini aku ikut dengan Azam hal itu menarik perhatian Ibu lagi karena tidak biasanya azan pergi bersama denganku apalagi pakaianku yang sudah rapih.


"Mau ke mana kau tanya ibu saat Mas hasyam sudah lebih dulu keluar untuk mengeluarkan mobilnya dan aku masih menunggu di teras


"Mau ikut Mas Azam daripada nanti di rumah bikin masalah untuk lebih baik mengikuti suamiku lagi pula Mas azan juga mengajakku kan ibu sendiri yang bilang suruh belajar sopan santun pada ama Mas Azzam," jawab ku yang membuat Ibu semakin kesal dan langsung saja masuk ke dalam rumah hari itu benar-benar membuatku lebih tenang untuk tidak selalu menjawab dengan keselaras ataupun kasar kali ini aku berusaha untuk lebih sabar lagi seperti apa yang dilakukan oleh Mas Azam itu lebih baik daripada memancing keributan.


Segera berjalan menghampiri mobil Mas Azam dan segera sikap masuk ke dalam mobil untuk berangkat bekerja, seperti apa yang dikatakan oleh Mas azim yang mana hal itu membuatku lebih tenang daripada harus berada di rumah.


Dan rencana juga persiapan kerjaku pun akan dimulai aku tidak boleh gagal dalam menentukan usaha yang akan dibuka karena adzan juga akan membantuku dia tidak mungkin mengabaikannya.

__ADS_1


Jika dia sudah mengizinkannya maka dari itu pun aku berusaha sebisa mungkin untuk lebih serius dalam melakukan bisnis dan tidak main-main maka dari itu aku pun menuruti apa yang dikatakan oleh azab untuk lebih serius lagi dan merencanakan semuanya.


Agar tidak ada yang sia-sia karena demi kegiatanku dan juga demi diriku sendiri daripada aku bingung memikirkan kegiatanku di sana yang mana ibu selalu menggangguku dan membuatku benar-benar merasa kesal tidak memiliki kegiatan apapun saat berada di rumah malah menjadi menarik perhatian untuk membuat Ibu tidak suka padaku.


__ADS_2