
“Mau kemana?”tanya Adzan Dengan nada menyelidiki pasalnya aku yang ori dengan Doni membuat ia keluar dan mengabaikan Tina, padahal Tina begitu menempel padanya hingga elas tidak bisa dipisahkan, membuatku kesal, tapi malah Azam ikutan kesal.
“Mau bikin kopi kan aku Lelah,” jawabku ta menghindari Azab dan mengatakan apa adanya keinginan ku yang tadi bermat membuat kopi karena merasa mengantuk saa.
“Berduaan bersama Doni?” taya Azam yang masih belum berhenti menanyakan tentang Doni yang membuatku heran kenapa demikian bukankah harusnya kau yang bertanya tentang Tna.
Menyebalkan sekali, entah apa maunya padahal kan sudah di kasih waktu berdua kenapa mesti mencegah ku yg hanya pergi keluar sebentar saja, dan aku juga sudah bilang ada Azam tak sedikitpun aku suka pada Doni yang merupakan teman dan tak pantas pula dia bertanya demikian, bikin aku kesal dia, tapi sayangnya kau sedang berada di kantornya dia kalau tidak aku jelas marah besar dengan perilakunya yang tidak adil sama sekali membuatku kesal dan serba salah.
“Iya, aku kan belum terbiasa jadi aku meminta bantuan untuk menemaniki, bukanya kau sedang sibuk,” jawabku yang menyindiri Azam yang lebih dulu dekat dengan seseorang. Tapi malah menuduhku yang tidak-tidak jelas tidak adil sama sekali bukanya malah sadar diri akan kesalahan tapi menyalahkan orang lain.
Untungnya kami ada di dapur kantor sambel membuat kopi aku jelas tidak ingin memancing keributan yang tidak ada artinya dan hal itu juga yang membuat Azam juga tak bicara dengan nada keras kore4an jelas kami juga malu jika ada yang mendengar.
“Mas mau kopi juga?” tanyaku menawarkan kopi pada Asam, membuatnya tersenyum masam ia tak memprediksi ekspresiku yang terlihat baik saat ia sedang Bersama Wanita lain.
Jika karena keperluan bisnis dan bekerja sama dengan klien gak ada salah th memang merekah dekat dan tak peluru uga kau menghabiskan tenaga untuk marah meski jelas aku juga merasa cemburu dengan apa yang dilakukan Azam , saat ia Bersama wanita lain.
Tak menjawab etayaanku diamalah memilih pergi Kembali ke ruangan nya, aku pun tak memperdulikannya dan hanya membuka satu kopi saja untuk ku nikmati sendiri,aku kembali berker dan menyelesaikan apa yang aku tinggalkan tadi.
Baru satu hari aku membantu di perusahaan sudah ada saja tindakan Azam yang tidak masuk akal, jika ingin marah bukan nya aku yang seharusnya marah, ini malah sebaliknya membuatku juga merasa tak perlu lagi kenal yang mana akan memperkeruh keadaan. Aku dengan cepat segera menyelesaikan tugas dewan uberian pada Doni.
“Aku sudah menyelesaikan semua, sepertinya sudah sore juga aku akan pulang dulu, sampai jumpa lain kali,” kata aku berpamitan dan entah kapan lagi aku kesana.
“Besok kau tak datang lagi kesini kah, kau utang stu cerita padauk,” kata Doni mendengar ucapkan yang sepertinya tidak akan datang ke perusahaan lagi.
“Lihat situasinya jika diperbolehkan aku datang oleh Azam aku akan disini jika tidak ya aku ke tempat lain,” kataku yang tidak mungkin berdiam diri di rumah Bersama Nita dan ibu mertua yang bahkan tidak akur denganku.
__ADS_1
“Baiklah, hati-hati,” kata Doni tahu posisiku yang harus meminta izin pada suami ika harus melakukan sesuatu atau Aam tadi juga termasuk memberi izin aku ada disana,hingga mungkin tiada ada lain kali yang mana membuat Doni paham akan hal itu.
Aku segera ke ruang Asam, karena sudah sore dan aku ingin pulang. Jadi aku mau meminta izin kepadanya. dengan rasa ragu karena tidak tahu dia masih marah padaku atau tidak aku melangkahkan kakiku menuju ruangan itu. ruangan Azam yang benar-benar membuatku merasa berat jika menatapnya dan ingin rasa segera pergi dan menghilang dari sana.
Udara makin tak bersahabat, rasa enggan menyapa,tak ingin rasa aku bertemu Azzam untuk beberapa saat dan ingin rasanya aku pergi dari sana, tapi mau tidak mau kau harus berpamitan meski ia tidak haru pulang bersama. aku tau jika Azam sibuk dan tidak bisa pulang bersama aku mencoba untuk sabar dan tidak memikat hal buruk lagi.
Aku tarik nafas dalam sebelum aku masuk kedalam ruangan yang ada di hadapku, ruangan yang tidak ingin aku masuki unik saat ini tapi mau tidak mau masuk ke dalam. kau ketuk pintu dengan perlahan dan izin masuk.
“Maz, aku masuk,” kataku yang akhirnya membuat pintu dan melihat Ayam yang masih sibuk di depan komputernya. mungkin pekerjaannya banyak yang tidak aku mengerti dan berusaha untuk meminta izin karena aku ingin pulang.
“Ada apa?” tanya Azam menatapku dengan tatapan dingin membuatku tak nyaman apa dia masih marah jika aku dekat dengan Doni biaknya sama dia dekat dengan Tina, apa-apa kenapa ia tidak adil seperti ini.
“Aku mau pulang dulu,” kataku yang memang sudah berniat untuk pulang dan ingin segera sampai di rumah karena hal itulah yang membuatku ingin segera menyampaikan apa yang ingin aku lakukan dan jelas aku tidak ingin mengatakan apapun yang membuatku kesulitan dan kali ini pertanyan itu seakan membuatku sendiri tidak nyaman sama sekali.
“Tunggu aku, kita pulang bersama,” jawab Azan Yang membuatku duduk di sofa, sambil memainkan handphone menunggu dia sampai selesai, aku tak mengerti kenapa dia tak banyak bicara sekarang, bukankah seharusnya aku yang marah,tapi ya sudahlah memang itu kondisi dan keadaannya mau bagaimana lagi, mungkin keberadaanku seperti pengganggu dalam hidupnya.
Aku hanya bisa menunggu kali ini, menghitung detik jam dinding yang bergerak memutar membuatku bosan, tapi aku juga tak ingin mengganggu Azam yang masih harus bekerja, entah ini sebuah hukuman atau apa.
“Maz masih lama?” tanya ku tak tahan menunggu Adzan yang lama membuatku benar-benar pegal dan seluruh badanku bahkan terasa sangat capek.
“Masih lama kau boleh tidur kalau mengantuk, mungkin jam sembilan malam baru selesai,”
“Aku pulang duluan ya mas, aku belum mandi,” karena sudah tidak tahan berada di sana Apalagi seharian aku sudah berada di kantor dan aku pun ingin pulang untuk sekedar mandi tahu jika aku benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan oleh Azam saat itu di mana.
Hal itu membuat kepentingan segera pulang dan ingin segera merebahkan diriku karena memang hal itu membuatku tidak nyaman apalagi bersama dengan dia marah membuatku semakin banyak lagi apa yang membuat dia khawatir itu yang mana seharusnya aku yang marah kepadanya mana ini sebaliknya membantu benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Azzam.
__ADS_1
“Loh kok ninggalin, mas juga belum mandi,” jawab asam yang lambat ku mungkin tak mengerti bukannya mengizinkan malah sama-sama mengatakan hal tersebut.
“Badanku lengket semua dan nggak nyaman,” kalau ku saat itu saatnya sama melarang untuk pulang padahal aku tidak berpikir bahwa dia bisa melarangku seperti itu.
"Sabar mas nggak mau kamu pulang sendiri, kalau mau mandi di sini saja,” data hasil memberikan solusi untuk menjaga membuatku semakin kesal saja dengannya.
“Nggak enak Mas, aku nggak bawa baju ganti, pasti nggak nyaman kalau pakai baju kotor lagi,” kataku yang benar-benar harus bersabar.
“Lalu kau mau nya bagaimana,” kata Azam menaikkan bajunya.
“Mau nunggu maz sampai selesai,” jawabku sambil tersenyum dan ta lagi banyak bicara.
Hari ini benar hari berat untukku entah kenapa Ayam jadi agak seksi membuatku tak nyaman saja.
Tahu jika pintu ruangan Azam ditutup dan tidak terlihat dari luar dan bisa saja aku tiduran di sofa seperti rumah sendiri tapi tidak aku lakukan itu mengingat perkataan Tina yang membuatku kesal di kata seperti itu, jadi demi menjaga dan aku hanya duduk diam dan tak banyak bicara sambil memainkan hp dan kucoba bersabar dan tak banyak bicara daripada menunggu Azam yang malah makin memuat kami kembali bertengkar membuat aku tidak bisa mengatakan apapun yang sudah menjadi kewajibanku untuk bisa bersama dengan azam.
Aku menunggu begitu lama tak merasakan lapar karena sudah jam delapan malam, entah dengan apa yang sepertinya tak berniat untuk sekedar berhenti untuk makan entah mengapa dia begitu bisa berkera dengan keadaan perut kosong tak tahu jiga apa yang ingin ia buktikan, hukum kah atau ia sengaja menyiksa orang lain, jam sembilan masih satu jam lagi perasaan seperti menunggu satu abad karena hal paling menyebalkan adalah menunggu dan hal itu benar-benar membuatku kesal.
berbagai cara sudah aku lakukan agar tidak pegal pegal mulai dari berjalan mondar mandir, pergi kemamar mandi mainnan hap dan bengun lai berlana ai, menhan apar kesal dan menunggu Adzan, yang masih terus menyelesaikan pekerjaanya, entah kenapa dia tidak terlihat lelah sama sekali aku yang sedari tadi benar-benar tak bisa teman sama sekali.
Jam yang seakan berhenti dan tak bergerak makin malam makin lambat aku tak mau keluar dari ruangan kawan bisa membuat Azam marah lag padaku, aku padahal sudah izin padanya untuk bekerja dan membantu Doni tapi kenaadia terusmaraah dan memperlakukanku dengan benar-benar keterlaluan.
“Maz sudah jam sembilan,” kataku yang sudah tak tahan, ingin segera pulang makan mandi dan beristirahat.
“Iya, benar, sebentar aku merapikan file dulu,” kata Azam yang baru saja bersiap\=siap untuk pulang dan halal itu jelas memakan waktu dan bahkan semua itu selesai sampai jam sembilan malam lebih tiga puluh menit.
__ADS_1
“MA sengaja membuat aku menunggu lama?" tanyaku pada Azam dalam perjalanan pulang yang benar-benar menguras tenaga aku tak mengira sama sekali akan menghadapi semua itu yang jelas-jelas membuatku tak berdaya dan kali ini kau akhirnya pulang dan bisa dengan lega menu ruam hyang sudah aku rindukan setelah seharian penuh berada di perusahaan menunggu Jam pulang yang sepertinyah membuat aku merasa senang dan tenang saat Azam masuk ke mobil dan aku pun mengikutinya dan duduk di sampingnya.
Azam sega menyetir mobilnya dan saat mobil melaju saat itu pula hati ini merasa lega yang akhirnya bisa pulang dan tak lagi berkurang di perusahaan dan bahkan tidak bisa bergerak sama sekali, jalanan sudah tak ramai walau banyak kendaraan tapi tak ada kemacetan, lampu malam seakan menjadi pemandangan indah di malam hari yang jarang kau lihat, kini aku melihat tep alan sambil menghibur diri setelah lelah seharian penuh mendapatkan masalah.